بسم
الله الرّحمن الرّحيم
Konsep Manusia[1]
من
عرف نفسه فقد عرف ربّه
Barangsiapa yang
mengenal dirinya niscaya dia mengenal Tuhannya (atsar)
Dibantu juga oleh al
Qur`ān surat adz Dzariyat: 20-21
Sekarang banyak yang
orientasinya hanya sebatas pencitraan semata, bukan esensinya
Ada beberapa pertanyaan dasar yang akan
mengantarkan kita mengenal siapa diri kita sebenarnya,
1.
Dari mana asal
usulnya?
2.
Kemana tujuan
hidupnya?
3.
Apa hakikat
manusia itu?
4.
Bagaimana
kebahagiaan itu dapat dicapai?
Imam al Ghazali dalam
kimia kebahagiaan mengungkapkan bahwa manusia itu terdiri dari unsur hewan,
setan dan malaikat[2],
Hewan,
kebiasaanya hanyalah makan, minum, berkelahi, jika yang disebut manusia hanya
bisa melakukan kebiasaan seperti ini berarti mengikuti hewan, Setan,
kebiasaanya selalu sibuk menyebarkan, mengorbankan kejahatan-kejahatan untuk
menyesatkan, jika manusia hanya bisa melakukan kebiasaan-kebiasaan seperti ini
bearti mengikuti setan, Malaikat, kebiasaanya selalu berjuang tentang
keindahan, keridhaan Allāh swt., jika manusia melakukan hal yang sama seperti
ini berarti mengikuti malaikat.
Ada satu anggapan
orang-rang barat yang mengatakan bahwa bentuk tubuh yang mirip, itulah makhluk
yang sama, kita ambil teori evolusi yang mengatakan bahwa manusia berasal dari
kera, karena ada kemiripan-kemiripan dalam struktur tubuh dan DNA-nya dari 7
juta tahun yang lalu sampai saat ini. misalnya saat ada keluarga yang memiliki
anak dan kebetuln memelihara seekor kera, saat anak dank era itu meninggal
dikuburkan berdekatan, beberapa ratus ahun kedepan ada seorang arkeolog
menenkuan fosil ini akan punya kesimpulan bahwa tulang belulang tadi adalah
adik-kakak padahal nyatanya bukan, itulah asumsi orang barat yang digunakan
dalam teori evolusi. padahal rentan waktu yang bisa diteliti menurut al Attas
jarak dari manusia pertama sampai hari ini ±7000 sampai 10.000 tahun. Sangatlah
jelas teori evolusi yang digemborkan itu adalah politik sains semata, karena
agama sangat dilarang untuk dipacai dalam sains.
- Islam
menolak konsep evolusi
-
Manusia
diturunkan oleh Allāh swt. dengan fakutas akal serta dengan akal itu manusia
bisa mendapatkan bimbingan Allāh swt.
-
Evolusi
mengabaikan hakikat manusia, hakikat manusia yang fithrahnya bukan berasal dari
kera karena sejak di alam ruh sudah ditegaskan tentang hakikat fithrahnya
- Penciptaan
manusia bisi dilihat pada surat al Mu’minūn: 12-14
- Ikrar
manusia di alam ruh kepada Rabbnya, surat al A’rāf: 172
- Asal
usul manusia
- Manusia
berawal dari Ruh, sebagai bagaimana al Qur`ān menjelaskan proses
penciptaannya, tidak seperti yang dipaparkan oleh konsep evolusi yang
berawal dari praduga.
- Manusia
berawal dari fithrah, fithrah dalam artian menerima Islam dan Allāh
sebagai Tuhannya sebagaimana firman Allāh swt. dalam surat al A’rāf: 172
ketika berada di alam Ruh.
- manusia
disebut insān adalah karena setelah bersaksi akan kebenaran perjanjian
yang menuntutnya untuk mamatuhi perintah dan larangan Allāh, ia alpa
(nasiya) memenuhi kewajiban dan tujuan hidupnya itu (diriwayatkan dari Ibnu
‘Abbās)[3]:
إِنَّمَا
سُمِيَ الإِنْسَانُ إِنْسَانًا لِأَنَّهُ عُهِدَ إِلَيْهِ فَنَسِيَ
Sesungguhnya
manusia disebut insān karena setelah berjanji dengan-Nya, ia lupa (nasiya)
Dengan merujuk kpada (QS. 20: 115). Sifat alpa ini merupakan penyebab keingkaran manusia, dan sifat tercela ini mengarahkannya kepada ketidak adilan (ẓulm) dan kejahilan (jahl) (33: 72)[4]
- Kehidupan
Dunia
- Dunia, kata
dunia yang berarti dekat, sesuatu hal yang dekat dengan keadaan manusia
yang bisa membuat manusia lupa dan terlena.
- Jiwa hewani
lebih dominan dari akalinya, sehingga manusia terhijab oleh dunia dari
tujuan awal hidupnya
- Ada agama
yang menyerukan untuk meninggalkan dunia karena menghindari pengrusakan,
hal ini diyakini bahwa kehidupan dunia hanyal kerusakan semata. Proses
peninggalak hal keduniawian ini bisa disebut pendetaan.
- Sementara
dalam Islam mengajukan konsep keseimbangan antara jiwa hewani dan
akalinya, antara dunia dan akhiratnya.
- Kebaikan
akan muncul saat jiwa akalinya mendominasi jiwa hewani manusia pun
sebaliknya saat jiwa hewaninya mendominasi jiwa akalinya yang terjadi
adalah keburukan atau kerusakan laksana binatang.
- Pokok utama
adalah dzikir, dzikir di sini berfungsi untuk mengembalikan ingatan
manusia kepada Rabb-nya, akan penciptaanya, kehidupannya dan tujuan
hidupnya manusia itu sendiri.
- Fungsi
Agama Islam
- Membimbing
tujuan hidup manusia supaya terjaga dan terarah sesuai dengan tuntutan
yang benar
- Allāh swt.
tidak membiarkan manusia lupa aka nasal-usulnya, maka dari itu Allāh
mengirimkan atau mengutus nabi dan rasul-Nya beserta Kitab suci-Nya
sebagai pedoman hidup manusia.
- Ta’rif
Manusia
- Hayawan
al Natiq, awalnya istilah natiq yang
dikenal kemudian berkembang menjadi mantiq yang berarti logic, bukan
sekedar berbicara tetapi secara sistematik karena mempunyai system
penalaran dengan akalnya
- Manusia
yang tidak mengeti pesan-pesan Allāh swt. bukanlah manusia, bisa dirujuk
ke QS. al A’rāf: 179
- Hakikat
manusia
- Imam al
Ghazali memberikan tamtsil terkait manusia, laksana manusia yang
menunggangi kuda, posisi manusia ibaratnya ruh yang mengendalikan kuda,
sedangkan kuda adalah jasad yang dikendalikan oleh manusia (ruh)
- Aspek yang
menjadi orientasi utama adalah ruh, bukan jasad. Sedangkan saat ini yang
menjadi titik tolak utama adalah jasadnya, jenisnya yang tidak abadi.
- Sejarah
manusia harus ditinjau dari akarnya, bukan hanya berangkat dari praduga,
sebagaimana kata awalnya, sejarah berasal dari bahasa arab, Syajaratun,
pohon yang mempunyai akar, akarnya itulah yang harus menjadi objek
kajiannya.
- Al
Ruh:
- Intelek
(aql): berdasarkan pada pemahaman
- Jiwa
(nafs): berdasarkan pengalaman jasadiyahnya
- Hati
(qalb): berdasarkan pengalaman pencerahan intuisi, organ-organ kognitif
spiritual
- Ruh:
berdasarkan keduniaan abstraknya (alam ruh)
- Tujuan
Penciptaan Manusia
- Sebagai
khalifah di bumi, QS. al Baqarah: 30
- Untuk
beribadah pada Allāh swt. QS. adz Dzariyat: 56
- Untuk
kembali lagi pada sang khaliq, Innalillah wa inna ilaihi raji’un.
- Kemuliaan
Manusia
- Manusia
memperoleh kemuliaan karena ilmu yang telah didapatkannya
- Sebagai
penerima amanat
- Memiliki
bentuk yang sempurna (akal)
- Malaikaitpun
bersujud pada manusia (Nabi Adam a.s.)
- Kebebasan
dan Keadilan Diri
- Jiwa
terbagi menjadi dua bagian:
-
Jiwa akali,
menjadi saksi akan fithrahnya sewaktu di alam ruh
-
Jiwa hewani
- Jiwa akali
(nafs al Natiqah) jiwa yang tinggi, mengenal kebenaran, berjanji pada
Allāh
- Jiwa hewani
(nafs al hayawaniyah)
- Jiwa akali
dan hewani selalu bersaing, antara keduanya untuk meraih pengaruh atas
dirinya
- Pemenangnya
akan menjadi watak
- Saat jiwa
akali mendominasi daripada jiwa hewani akan nampaklah keadilan
- Saat jiwa
hewani mendominasi dariada jiwa akalinya akan nampaklan kedzaliman
- Manusia
bebas adalah manusia yang dapat mewujudkan keadilan dalam dirinya.
![]() |
Wal-‘Llāhu a’lam
[1] Pertemuan ke- 05 kuliah Worldview
of Islam 06 Desember 2014 Institut Pemikiran Islām dan Pembangunan Insan di
kampus UNIKOM Bandung bersama Dr. Wendi Zarman, M.Si
[2] Lebih jelasnya silakan
lihat al Ghazali, Kimia Kebahagiaan,..
[3] Lihat Tafsir al-Qurtubī, al-Jāmi’ li Ahkām al-Qur`ān
(Beirut: Dar al-Kutub, 2000), 6:166-167 –pentj.
[4] Syed Muhammad
Naquib al-Attas, Islam dan Sekularisme, Terj. Khalif Muammar
(Bandung: PIMPIN, 2010), p. 177-178

Tidak ada komentar:
Posting Komentar