بسم
الله الرّحمن الرّحيم
Manusia memiliki
cara pandang masing–masing sesuai dengan apa yang difahaminya, lebih-lebih
sesuai dengan apa yang diyakininya dalam kehidupan. Berangkat dari pemahan dan
keyakinan itu manusia bisa menilai apa yang bisa dilihat ataupun yang tidak
bisa dilihat, yang berwujud atau tidak berwujud (metafisika). Disadari ataupun
tidak cara pandang inilah yang nantinya akan memengaruhi kehidupan manusia,
secara umum dalam bahasa Inggris cara pandangan disebut worldview (pandangan
hidup), dalam bahasa Jerman adalah weltanschauung (filsafat hidup) atau weltansicht
(pandangan dunia).
Menurut para
ahli ada beberapa ta’rif terkait
worldview, diantaranya:
Ä Ninian Smart mengungkapkan bahwa worldview
adalah keyakinan atau kepercayaan dasar dalam pikiran yang menjadi motor bagi
keberlangsungan dan perubahan sosial/moral.
Ä Thomas F. Wall mengemukakan bahwa worldview
adalah sistem kepercayaan asas yang integral tentang hakekat diri kita,
realitas dan tentang makna eksistensi.
Ä Prof. Alparslan mengartikan worldview
sebagai asas bagi setiap perilaku manusia, termasuk aktifitas-aktifitas ilmiyah
dan teknologi. Setiap aktifitas manusia akhirnya dapat dilacak pada pandangan
hidupnya dan dalam pengertian itu maka aktifitas manusia dapat direduksi
menjadi pandangan hidup.
Dari ta’rif di
atas kita bisa memahami bahwa worldview adalah asas penting yang melandasi
tingkah laku manusia dalam mengenal, menyamakan dan membedakan atas
wujud/realitas sehingga nantinya bisa menjadi identitas manusia itu sendiri.
Lebih singkatnya bisa juga disimpulkan worldview adalah ilmu dan amal
sebagaimana pernyataan al Ghazali, apa yang diyakini, apa yang harus dikerjakan
dan apa yang harus ditinggalkan. Manakala kita punya keinginan merubah
masyarakat tentu kita harus merubah cara pandang mereka, merubah paradigma
mereka, merubah pandangan hidupnya.
Proses
terbentuknya worldview pada individu, melalui pengalaman hidupnya/terdidik oleh
lingkungan secara bertahap (budaya, sosial), ada pula yang melalui proses
berpikir di sekolah-sekolah atau perguruan tinggi, pendidikan yang diperoleh
melalui pengetahuan. Kedua-duanya bisa didapatkan secara bersamaan baik melalui
proses berpikir atau pun pengalaman karena keduanya saling berkaitan. Thomas F.
Wall mengemukakan elemen pokok pembentuk worldview tidak kurang dari Tuhan,
ilmu, realitas, etika, diri dan masyarakat.
Islam mempunyai
cara pandang sendiri terhadap segala sesuatu, dalam Islam istilah worldview
memiliki beberapa ta’rif yang tujuannya sama, diantaranya menurut:
Ä al-Maududi, Islami Nazariyat (worldview)
adalah pandangan hidup yang dimulai dari konsep keesaan Tuhan (shahadat) yang
berimplikasi pada keseluruhan kegiatan kehidupan manusia di dunia. Sebab
shahadat adalah pernyataan moral yang mendorong manusia untuk melaksanakannya
dalam kehidupannya secara menyeluruh.
Ä Syaikh Atif al-Zayn mengartikan Aqidah
Fikriyyah (kepercayaan yang rasional) yang berdasarkan pada akal. Sebab setiap
Muslim wajib beriman kepada hakekat wujud Allah, kenabian Muhammad saw. dan
kepada al-Qur`an dengan akal. Iman kepada hal-hal yang ghaib itu berdasarkan
cara penginderaan yang diteguhkan oleh akal sehingga tidak dapat dipungkiri
lagi. Iman kepada Islam sebagai Din yang diturunkan melalu Nabi Muhammad saw.
untuk mengatur hubungan manusia dengan Tuhan, dengan dirinya dan lainnya.
Ä Sayyid Qutb mengartikan al-Tasawwur al-Islami,
sebagai akumulasi dari keyakinan asasi yang terbentuk dalam pikiran dan hati
setiap muslim, yang memberi gambaran khusus tentang wujud dan apa-apa yang
terdapat dibalik itu.
Ä Prof. al-Attas mengartikan worldview
Islam adalah pandangan Islam tentang realitas dan kebenaran yang nampak oleh
mata hati kita dan yang menjelaskan hakekat wujud; oleh karena apa yang
dipancarkan Islam adalah wujud yang total maka worldview Islam berarti
pandangan Islam tentang wujud (ru’yaat al-Islam li al-Wujud) (ICLIF, 2).
Ta’rif di atas
telah cukup baik menggambarkan karakter Islam sebagai suatu pandangan hidup
yang membedakannya dengan pandangan hidup lain. Namun, jika kita kaji
keseluruhan pemikiran dibalik definisi para ulama tersebut kita dapat beberapa
orientasi yang berbeda. Al-Maududi lebih mengarahkan kepada kekuasaan Tuhan
yang mewarnai segala aktifitas kehidupan manusia, yang berimplikasi politik.
Syaikh Atif al-Zayn dan Sayyid Qutb lebih cenderung mamahaminya sebagai
seperangkat doktrin kepercayaan yang rasional yang implikasnya adalah
ideologi. Prof. al-Attas lebih cenderung kepada makna metafisis dan
epistemologis.
Berbeda dengan
cara pandang Barat, dalam Islam segalanya dijarkan terlebih dahulu oleh Allah swt.
kemudian melihat realitas sedangkan di Barat melihat dulu realitas kemudian menyimpulkan
atau membuat teori, hal ini tentu sangat bertentangan dengan Islam. Dr. Hamid
Fahmy Zarkasyi menggambarkan elemen pandangan Alam Islam diantaranya,


Dari
bagan di atas tampak jelas alur pandangan alam Islam, semuanya saling terhubung
satu sama lain, karena dalam Islam segala sesuatunya mempunyai nilai ibadah
bagi hamba-hamba-Nya.
Beberapa
karakter pandangan alam Islam:
- Segala terpusat pada Allah swt., ini adalah alasan segala hal, bukan hasil dari olah pikir sangat jelas karena orientasinya adalah ibadah, bagaimana mungkin kita beribadah tanpa mempunyai keyakinan dan terpusat pada-Nya.
- Pengakuan wujud fisik dan metafisik, dalam Islam mengakui wujud fisik dan metafisik karena berdasarkan keimanan.
- Bersifat tauhidik bukan dikotomi, tidak mengenal dikotomi yang mempertentangkan satu aspek dengan aspek lainnya seperti:
Dunia
vs Akhirat
Tekstual
vs Kontekstual
Objektif
vs Subjektif
Sunstansial
vs Bentuk
Wahyu
vs Sains
Ibadah
(ritual) vs Mu’amalah (sosial)
Kedua-duanya
dalam Islam diakui dan harus saling bergandengan karena tidak bisa dipisahkan
jika terjadi pemisahan tentu itu bukan yang diajarkan Islam melainkan ajaran
secular, serta harus seimbang karena dunia hanya sebatas wasilah untuk sampai
pada akhirat.
- Dasarnya wahyu bukan spekulasi filosofis, Islam bersumber dari ajaran wahyu, al-Qur`an dan as-Sunnah, dalam hal ini akal berfungsi untuk memahami bukan mempertentangkan atau bahkan mengkritiknya karena semua pandangan alam Islam masuk akal, meskipun tidak selalu berarti rasional.
- Final, sebagaimana firman Allah swt. dalam QS. al Maidah ayat 3,
..الْيَوْمَ
أَكْمَلْتُ لَكُمْ دِينَكُمْ وَأَتْمَمْتُ عَلَيْكُمْ نِعْمَتِي وَرَضِيتُ لَكُمُ الْإِسْلَامَ
دِينًا..
“..pada
hari ini telah Kusempurnakan untuk kamu agamamu, dan telah Ku-cukupkan kepadamu
nikmat-Ku, dan telah Ku-ridhai Islam itu jadi agama bagimu..“
Dari
keterangan di atas sangat jelas bahwa Islam adalah agama final, dalam artian
tidak berubah karena bersifat metahistoris, atau melintasi jaman,
senantiasa up to date dan mature (dewasa), selalu sesuai dengan
keadaan dan tempat, juga deevolutif bukan evolutif, selalu merujuk pada
kehidupan Rasulullah saw. dan para sahabatnya di masa silam.
Perlu
diketahui bersama istilah tajdid atau pembaruan dalam Islam bukan
berarti membuat baru, tetapi pemurnian kepada awal yang benar walaupun pada
zaman modern dalam substansinya. Seringkali ada segelintir orang yang belum
faham akan hal ini, semoga kita semua bisa mengambil hikmah dari pembelajaran
kali ini.
Wal-‘Llahu
a’lam
*Oleh:
Ade Rully Nasrulloh, Mahasiswa Institut Pemikiran Islam dan Pembangunan Insan,
PIMPIN Bandung

Tidak ada komentar:
Posting Komentar