Kamis, 12 Juni 2014

Ibadah-ibadah Pada Nishfu Sya’ban

Masih bisa diingat dua tahun kebelakang, tepatnya tahun 2012, sekitar bulan Juni saya beserta sahabat lainnya mengikuti kajian hadits bersama al Ustadz Amin Saefullah Muchtar, kajian ilmiah ini sangat membantu para generasi muda untuk lebih memperdalam keilmuan sesuai dengan jalur dan cara yang benar. Tema yang dibahas waktu itu seputar bulan Sya’ban terkait berbagai macam hal di dalamnya, pun hasil kajiannya bisa dilihat juga di fanspagenya beliau.
Bagi sebagian kalangan, bulan Sya’ban—terutama masa pertengahannya (nishfu Sya'ban)—dianggap memiliki keutamaan, sehingga disikapi dengan mengadakan berbagai acara dan upacara.
Berdasarkan penelusuran sejarah tentang acara dan upacara pada nishfu Sya’ban itu, dapat diketahui bahwa kegiatan-kegiatan seperti itu pernah dilakukan oleh para pembesar Mesir dan orang-orang Yahudi pada tempo dulu. Kemudian upacara-upacara tersebut merembes masuk ke kalangan kaum muslimin secara sambung-menyambung dari satu generasi ke generasi yang lainnya hingga sekarang ini.
Berkenaan dengan masalah ibadah-ibadah pada malam nishfu Sya’ban, terdapat beberapa riwayat yang dianggap dapat menjadi landasan, namun oleh mayoritas ulama hadits riwayat-riwayat itu disinyalir sebagai riwayat maudhu (palsu). Untuk lebih memperjelas hal itu, di sini dapat dikemukakan hasil kajian terhadap beberapa riwayat yang berhubungan dengan itu sebagai berikut:
Pertama, hadits umum yang menerangkan anjuran saum dan shalat pada nishfu  bulan Sya’ban
Ibnu Majah berkata, “Al-Hasan bin Ali Al-Khallal telah menceritakan kepada kami, ia berkata, ‘Abdurrazaq telah menceritakan kepada kami, ia berkata, ‘Ibnu Abu Sabrah telah memberitakan kepada kami, dari Ibrahim bin Muhammad, dari Mu'awiyah bin Abdullah bin Ja'far, dari Bapaknya,
عَنْ عَلِيِّ بْنِ أَبِي طَالِبٍ قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى الله عَلَيه وسَلَّم : إِذَا كَانَتْ لَيْلَةُ النِّصْفِ مِنْ شَعْبَانَ ، فَقُومُوا لَيْلَهَا وَصُومُوا نَهَارَهَا فَإِنَّ اللَّهَ يَنْزِلُ فِيهَا لِغُرُوبِ الشَّمْسِ إِلَى سَمَاءِ الدُّنْيَا ، فَيَقُولُ : أَلاَ مِنْ مُسْتَغْفِرٍ لِي فَأَغْفِرَ لَهُ , أَلاَ مُسْتَرْزِقٌ فَأَرْزُقَهُ أَلاَ مُبْتَلًى فَأُعَافِيَهُ , أَلاَ كَذَا أَلاَ كَذَا ، حَتَّى يَطْلُعَ الْفَجْر
Dari Ali bin Abu Thalib, ia berkata, ‘Rasulullah saw. bersabda, ‘Apabila (tiba) malam pertengahan  pada bulan Sya’ban, maka shalatlah di malam harinya dan berpuasalah di siang harinya. Sesungguhnya Allah turun ke langit bumi pada saat itu ketika matahari terbenam, kemudian Dia berfirman, ‘Adakah orang yang meminta ampun kepada-Ku, maka Aku akan mengampuninya? Adakah orang yang meminta rezeki maka Aku akan memberinya rezeki? Adakah orang yang mendapat cobaan maka Aku akan menyembuhkannya? Adakah yang begini, dan adakah yang begini, hingga terbit fajar’." (HR. Ibnu Majah, Sunan Ibnu Majah, II:399, No. hadits 1388)
Hadits di atas diriwayatkan pula oleh Al-Baihaqi, dari Abdullah bin Yusuf Al-Ashbahani, dari Abu ishaq Ibrahim bin Ahmad bin Firas Al-Makkiy, dari Muhammad bin Ali bin Zaid Ash-Sha’igh, dari Al-Hasan bin Ali, dari ‘Abdurrazaq, dari ‘Ibnu Abu Sabrah, dari Ibrahim bin Muhammad, dari Mu'awiyah bin Abdullah bin Ja'far, dari Bapaknya,
عَنْ عَلِيِّ بْنِ أَبِي طَالِبٍ، قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: إِذَا كَانَتْ لَيْلَةُ النِّصْفِ مِنْ شَعْبَانَ فَقُومُوا لَيْلَتَهَا، وَصُومُوا يَوْمَهَا، فَإِنَّ اللهَ تَعَالَى يَقُولُ: أَلَا مِنْ مُسْتَغْفِرٍ فَأَغْفِرَ لَهُ، أَلَا مِنْ مُسْتَرْزِقٍ فَأَرْزُقَهُ، أَلَا مِنْ سَائِلٍ فَأُعْطِيَهُ، أَلَا كَذَا أَلَا كَذَا حَتَّى يَطْلُعَ الْفَجْرُ
Dari Ali bin Abu Thalib, ia berkata, ‘Rasulullah saw. bersabda, ‘Apabila (tiba) malam pertengahan  pada bulan Sya’ban, maka shalatlah di malam harinya dan berpuasalah di siang harinya, karena sesungguhnya Allah berfirman, ‘Adakah orang yang meminta ampun, maka Aku akan mengampuninya? Adakah orang yang meminta rezeki maka Aku akan memberinya rezeki? Adakah orang yang meminta maka Aku akan memberinya? Adakah yang begini, dan adakah yang begini, hingga terbit fajar’." (HR. Al-Baihaqi, Syu’aabul Iimaan, V:354, No. hadits 3542)
Al-Baihaqi meriwayatkan pula dari Abu Abdullah Al-Hafizh (Imam Al-Hakim), dari Ali bin Hamsyaadz, dari Ibrahim bin Abu Thalib, dari Al-hasan bin Ali Al-Hulwaniy, dan seterusnya. Dan pada matannya terdapat kalimat “Allah turun” dan kalimat:
أَلاَ مُبْتَلًى فَأُعَافِيَهُ
“Adakah orang yang mendapat cobaan maka Aku akan menyembuhkannya?”
Sebagai pengganti kalimat:
أَلَا مِنْ سَائِلٍ فَأُعْطِيَهُ
“Adakah orang yang meminta maka Aku akan memberinya?” (Syu’aabul Iimaan, V:354)
Hadits di atas diriwayatkan pula oleh Ibnu Basyraan melalui Abul Hasan Ahmad bin Ishaq bin Munjaab, dari Al-Hasan bin Ali An-Najaar, dan seterusnya sebagaimana susunan sanad dan matan versi Ibnu Majah. (Al-Amaaliy Ibnu Basyraan, II:246, No. hadits 703)
Penjelasan para ulama
Kata Imam Al-Iraqi, “Haditsnya batil dan sanadnya dha’if." (Takhriij Ahaadits Ihyaa Uluumiddiin, II: 130)
Kata Imam As-Syaukani, “Hadits tersebut dha’if.” (Al-Fawaa’idul Majmuu’ah: 26)
Kata Syekh Al-Albani, “Hadits tersebut maudhuu’ (palsu).” (Dha’if At-Targhiib wat Tarhiib: 623)
Analisa Kami
Hadits di atas dinilai dha’if, bahkan maudhuu’ karena semua jalur periwayatannya berpusat pada seorang rawi Ibnu Abu Syabrah. Namanya Abu Bakar bin Abdullah bin Muhammad bin Abu Syabrah bin Abu Ruhm. Ahmad bin Hanbal dan Ibnu Ma’in mengatakan, “Dia memalsukan hadits.” Demikian pula dinyatakan oleh Ibnu Adi. (Lihat, Tahdziibul Kamaal fii Asmaa’ir Rijaal, XXXIII : 102-107)
Kedua, hadits-hadits yang menerangkan tata cara ibadah berupa salat, zikir-zikir, dan doa-doa pada nishfu Sya’ban 
A. Dari Ali bin Abu Thalib
Ibnul Jauzi meriwayatkan dari Muhammad bin Naashir Al-Haafizh, dari Abu Ali Al-Hasan bin Ahmad bin Al-Hasan Al-Haddaad, dari Abu Bakar  Ahmad bin Al-Fadhl bin Muhammad Al-Muqri, dari Abu Amr Abdurrahman bin Thalhah Ath-Thulaihiy, dari Al-Fadhl bin Muhammad Az-Za’faraaniy, dari Haarun bin Sulaiman, dari Ali bin Al-Hasan, dari Sufyan Ats-Tsauriy, dari Laits, dari Mujahid,
عَنْ عَلِيِّ بْنِ أَبِي طَالِبٍ عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى الله عَلَيه وسَلَّم اَنَّهُ قَالَ: يَا عَلِيُّ، مَنْ صَلَّي مِائَةَ رَكْعَةٍ فِي لَيْلَةِ النِّصْفِ، يَقْرَأُ فِي كُلِّ رَكْعَةٍ بِ{ فَاتِحَةُ الكِتَابِ } وَ{ قُلْ هُوَ اللهُ أَحَدُ } عَشْرَ مَرَّاتٍ ، وَقَالَ: يَا عَلِّيُ مَا مِنْ عَبْدٍ يُصَلِّي هذِهِ الصَّلَوَاتِ إِلاَّ قَضَى اللهُ عَزَّ وَجَلَّ لَهُ كُلَّ حَاجَةٍ طَلَبَهَا تِلْكَ اللَّيْلَةِ...
Dari Ali bin Abu Thalib, dari Nabi saw. bersabda, “Wahai Ali, barangsiapa yang shalat seratus rakaat pada malam Nishfu, dalam setiap rakaatnya membaca Fatihatul Kitab dan Qul Huwallahu Ahad sepuluh kali.” Dan ia bersabda, “Wahai Ali, barangsiapa dari hamba-Ku melaksanakan shalat-shalat ini, kecuali Allah akan menunaikan baginya seluruh keperluan yang ia minta pada malam itu...(redaksi haditsnya cukup panjang)HR. Ibnul Jauzi (Lihat, Ibnul Jauzi, Al-Maudhû’ât, II: 127;  As-Suyuthi, Al-La’âliul Mashnû’ah fîl Ahâdîtsil Al-Maudhû’ah, II : 57)
Keterangan Status Hadits
Pada sanad hadits ini terdapat rawi bernama Laits bin Abu Sulaim dan Ali bin Al Hasan. Kedua rawi ini daif sebagaimana dinyatakan oleh para ahli hadits sebagai berikut:
(1)  Ali bin Al Hasan bin Ya’mar As Sami Mishry. Ibnu Adi mengatakan, “Hadits-haditsnya batil.” (Lihat, Al Mughnî fîd Du’âfâ’, II : 444)
(2) Laits bin Abu Sulaim bin Zunaim Al Laitsi. Ia seorang rawi yang hidup pada masa kekhilafahan Yazid dan termasuk kepada thabaqat shighâr tâb’în (generasi tabiin yunior), wafat pada tahun 143 H. Di samping itu, ia juga tercatat sebagai seorang yang ahli ibadah. Namun dalam hal periwayatan hadits, padanya terdapat beberapa kelemahan, antara lain:
(a)Ikhtilât (pikun) pada akhir hayatnya sehingga ia tidak ingat lagi terhadap apa yang pernah diceritakannya. Ia juga seorang yang memaqlûbkan (menukar) sanad, memarfû’kan yang mursal, dan meriwayatkan dari rawi-rawi yang tsiqat hadits-hadits yang tidak ada pada mereka (yang tidak diriwayatkan). 
(b)Yahya bin Ma’in dan An Nasai mengatakan, “Ia dha’if.”  Pada kesempatan lain Ibnu Ma’in berkata, “Ia lebih dha’if daripada ‘Atha bin As Saib.”
(c)Ja’far bin Aban Al Hafidz bertanya kepada Ahmad bin Hanbal tentang Laits bin Abu Sulaim, ia menjawab, ‘Haditsnya dha’if sekali dan banyak salah.”  (Lihat, Imam Adz-Dzahabi, Siyaru A’lâmin Nubalâ’, VI: 179-184;  Ibnu Hiban, Kitâb Al-Majrûhîn, II: 231-232; Imam Adz-Dzahabi, Mîzânul I’tidâl, III : 420)
Abdullah bin Ahmad bin Hanbal mengatakan, “Aku mendengar ayahku berkata, ‘Bahwa Laits bin Abu Sulaim itu mudhtharribul hadîts (haditsnya tidak teratur), akan tetapi orang-orang banyak menerima hadits darinya.”  Mu’awiyah bin Shalih berkata, dari Yahya bin Main, “Laits bin Abu Syufyan itu dhaif, kecuali haditsnya dicatat.” (Lihat, Al-Mizziy, Tahdzîbul Kamâl fî Asmâ’ir Rijâl, XXIV : 284)
Dalam riwayat lain disebutkan:
قَالَ عَلِيُّ ابْنُ أَبِي طَالِبٍ: رَأَيْتُ رَسُولَ اللهِ صَلَّى الله عَلَيه وسَلَّم  لَيْلَةَ النِّصْفِ مِنْ شَعْبَانَ قَامَ فَصَلَّى أَرْبَعَ عَشْرَةَ رَكْعَةً ثُمَّ جَلَسَ بَعْدَ الفِرَاغِ فَقَرَأَ بِ{ أُمُّ القُرْآنِ } أَرْبَعَ عَشْرَةَ مَرَّةً وَ{ قُلْ هُوَ اللهُ أَحَدُ} أَرْبَعَ عَشْرَةَ مَرَّةً وَ{ قُلْ أَعُوذُ بِرَبِّ الفَلَقِ} أَرْبَعَ عَشْرَةَ مَرَّةً وَ{ قُلْ أَعُوذُ بِرَبِّ النَّاسِ} أَرْبَعَ عَشْرَةَ مَرَّةً وَ{ آيَةُ الكُرْشِي} مَرَّةً { وَلَقَدْ جَائَكُمْ رَسُولٌ} الآيَةَ ، فَلَمَّا فَرَغَ مِنْ صَلاَتِهِ سَأَلْتُ عَمَّا رَأَيْتُ مِنْ صَنِيعِهِ فَقَالَ: مَنْ صَنَعَ مِثْلَ الَّذِي رَأَيْتَ كَانَ لَهُ كَعِشْرِينَ حَجَّةً مَبْرُورَةً وَكَصِيَامِ عِشْرِينَ سَنَّةٍ مَقْبُولَةٍ، فَإِنْ اَصْبَحَ فِي ذلِكَ اليَوْمِ صَائِمًا كَانَ كَصِيَامِ سِتِّينَ سَنَّةٍ مَاضِيَةٍ وَسَنَّةٍ مُسْتًقْبِلَةٍ.
Ali bin Abu Thalib ra. mengatakan, “Saya pernah melihat Nabi saw. pada malam nishfu Sya’ban bangun dan shalat empat belas rakaat, kemudian setelah selesai beliau duduk dan membaca Al Fatihah empat belas kali, membaca Qul Huwallahu Ahad empat belas kali, Qul A’udzu birrabbil falaq empat belas kali, Qul A’udzu birrabbin Nas empat belas kali, dan beliau membaca ayat Kursi satu kali walaqad jaakumur Rasul  (Ayat). Maka tatkala beliau selesai dari shalatnya, aku bertanya tentang apa yang aku lihat dari perbuatannya. Beliau menjawab, ‘Barangsiapa yang melakukan apa yang kamu lihat, maka baginya seperti (telah melakukan) dua puluh kali haji mabrur dan seperti shaum dua puluh tahun yang akan datang. Dan jika pagi  hari itu ia dalam keadaan shaum, maka itu seperti shaum enam puluh tahun yang telah lalu dan yang akan datang.” HR. Ibnul Jauzi dan Al-Baihaqi (Lihat, Ibnul Jauzi, Al-Maudhû’ât, II: 130;  As-Suyuthi, Al-La’âliul Mashnû’ah fîl Ahâdîtsil Al-Maudhû’ah, II : 59-60; Al-Baihaqi, Syu’âbul Îmân, III: 386)
Keterangan Status Hadits
Hadits di atas pun dhaif—bahkan palsu—sebagaimana  dikatakan oleh Ibnul Jauzi, “Hadits ini Maudhû’ (palsu) dan pada sanadnya terdapat kegelapan.” Pada sanadnya terdapat seorang rawi yang sering membuat hadits palsu bernama Muhammad bin Muhajir. Ahmad bin Hanbal mengatakan, “Ia itu suka memalsukan hadits.” (Lihat, Al-Maudhû’at, II: 130)
Kata Imam Al-Baihaqi, “Imam Ahmad berkata, ‘Hadits ini menyerupai hadits palsu, dan ia diingkari dan pada periwayatan sebelum Usman bin Sa’id terdapat para rawi yang majhul’.” (Lihat, Syu’âbul Îmân, III: 386)
B.  Dari Ibnu Umar
عَنِ ابْنِ عُمَرَ قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى الله عَلَيه وسَلَّم : مَنْ قَرَأَ لَيْلَةَ النِّصْفِ مِنْ شَعْبَانَ أَلْفَ مَرَّةٍ { قُلْ هُوَ اللهُ أَحَدُ} فِي مِائَةِ رَكْعَةٍ ، لَمْ يَخْرُجْ مِنَ الدُّنْيَا حَتَّى يَبْعَثَ اللهُ إِلَيْهِ فِي مَنَامِهِ مِائَةَ مَلَكٍ يُلَبُّونَ يَبْشِرُونَهُ بِالجَنَّةِ وَثَلاَثُونَ يُؤْمِنُونَهُ مِنَ النَّارِ وَثَلاَثُونَ يَعْصِمُونَهُ مِنْ أَنْ يُخْطِئَ وَعِشْرُونَ يَكِيدُونَ مَنْ عَادَاهُ
Dari Ibnu umar berkata; Rasulullah saw. bersabda, “Barangsiapa yang membaca qul Huwallahu Ahad  pada malam nishfu Sya’ban seribu kali pada seratu rakaat, maka ia tidak akan keluar dari dunia sehingga Allah mengutus kepadanya dalam tidurnya (mimpi) seratus malaikat menghampirinya dan memberi kabar gembira dengan surga, tiga puluh malaikat mengamankannya dari neraka, tiga puluh lagi memelihara dari kesalahannya, dan sepuluh lagi akan memperdayakan orang yang memusuhinya.” HR. Ibnul Jauzi (Lihat, Ibnul Jauzi, Al-Maudhû’ât, II: 128;  As-Suyuthi, Al-La’âliul Mashnû’ah fîl Ahâdîtsil Al-Maudhû’ah, II : 58-59)
Keterangan Status Hadits
Pada sanad hadits ini terdapat rawi-rawi yang majhûl (tidak dikenal), dan setelah kami teliti ternyata banyak sekali rawi-rawi yang tidak terdapat dalam kitab-kitab rijâl al-hadîts.
Ibnul Jauzi berkomentar, “Kami tidak ragu lagi bahwa hadits ini Maudhû’. Kebanyakan rawi-rawi pada ketiga jalur periwayatan ini majhul, dan di antara mereka ada juga yang dhaif.” (Al-Maudhû’ât, II: 129)
C.  Abu Huraerah
عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ عَنِ النَّبِيَّ صَلَّى الله عَلَيه وسَلَّم  قَالَ : مَنْ صَلَّى لَيْلَةَ النِّصْفِ مِنْ شَعْبَانَ، ثِنْتَي عَشْرَةَ رَكْعَةً يَقْرَأُ فِي كُلِّ رَكْعَةٍ { قُلْ هُوَ اللهُ أَحَدُ} ثَلاَثِينَ مَرَّةً لَمْ يَخْرُجْ حَتَّى يَرَى مَقْعَدَهُ مِنَ الجَنَّةِ وَيَشْفَعَ فِي عَشْرَةٍ مِنْ أَهْلِ بَيْتِهِ كُلِّهِمْ وَجَبَتْ لَهُ النَّارُ. ـ
Dari Abu Hurairah, dari Nabi saw. bersabda, “Barangsiapa yang shalat pada malam nishfu Sya’ban sebanyak dua belas rakaat, ia membaca Qul Huwallahu Ahad pada setiap rakaatnya sebanyak tiga puluh kali, maka ia tidak akan keluar sebelum terlebih dahulu melihat tempat duduknya di surga, dan memberi syafaat (menyelamatkan) sepuluh orang dari keluarga rumahnya yang semuanya sudah akan masuk neraka…” HR. Ibnul Jauzi (Lihat, Ibnul Jauzi, Al-Maudhû’ât, II: 129;  As-Suyuthi, Al-La’âliul Mashnû’ah fîl Ahâdîtsil Al-Maudhû’ah, II : 59)
Keterangan Status Hadits
Hadits ini juga dhaif karena pada sanadnya terdapat sekelompok rawi-rawi yang majhul, selain itu terdapat rawi Baqiyah dan Laits bin Abu Sulaim). Kedua rawi ini dha’if (sebagaimana telah diterangkan di atas). (Lihat, Ibnul Jauzi, Al-Maudhû’ât, II: 129)
Dan perlu diketahui bahwa hadits-hadits yang menerangkan ibadah salat, doa-doa, dan keutamaan-keutamaan yang berkenaan dengan nishfu Sya’ban itu masih banyak lagi dan keseluruhan hadits-hadits tersebut dha’if, bahkan palsu. 
Komentar Para Ulama Tentang Ibadah Nishfu Sya’ban
(a)    Muhammad Abdus Salam mengatakan, “Salat enam rakaat pada malam nishfu Sya’ban dengan niat untuk menghilangkan bala, memanjangkan umur, dan mengharap kekayaan, dengan bacaan surat Yasin, dan doa di antaranya adalah tidak diragukan lagi bahwa hal seperti itu diada-adakan dalam agama dan bertentangan dengan sunnah Sayidul Mursalin (Nabi Muhammad saw.).”
(b)   Pensyarah Al Ihya mengatakan, “Shalat ini termasyhur pada kitab-kitab terkemudian dari ulama Shufi, dan aku tidak melihat satu sanad pun yang sahih dari sunah, baik salat ataupun berdoa pada malam itu kecuali amal para syaikh.”
(c)    An Nazm Al ghaithi mengatakan, “Tentang menghidupkan  upacara ibadah-ibadah pada malam Nishfu Sya’ban dengan berjamaah itu diingkari oleh kebanyakan ahlil Hijaz, di antaranya Atha, Ibnu Abu mulaikah, para ahli fiqih Madinah, dan sahabat Malik. Mereka mengatakan bahwa hal itu seluruhnya bid’ah, dan tidak ada satupun dalil tentang salat itu baik dari Nabi saw. ataupun para sahabat.”
(d)   Imam An Nawawi mengatakan, “Shalat pada pertengahan bulan Rajab dan Sya’ban itu bid’ah yang sangat dibenci.” (Lihat, As-Sunan Wal Mubatadâ’ât: 145)
Berdasarkan keterangan-keterangan di atas, maka dapat disimpulkan bahwa ibadah berupa salat, dzikir-dzikir, doa-doa, dan saum yang bertalian dengan pertengahan bulan Sya’ban itu tidak ada dalam syariat Islam.
Wal-‘Llahu a’lam


Seputar Do'a Menyambut Ramadhan


Doa khusus menyambut Ramadhan
Hadits yang berkaitan dengan doa tersebut terbagi menjadi dua macam,
Pertama, dirangkaikan dengan bulan Rajab dan Sya’ban. Adapun redaksi haditsnya sebagai berikut:

عَنْ أَنَسِ بْنِ مَالِكٍ قَالَ كَانَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِذَا دَخَلَ رَجَبٌ قَالَ اللَّهُمَّ بَارِكْ لَنَا فِي رَجَبٍ وَشَعْبَانَ وَبَارِكْ لَنَا فِي رَمَضَانَ وَكَانَ يَقُولُ لَيْلَةُ الْجُمُعَةِ غَرَّاءُ وَيَوْمُهَا أَزْهَرُ
Dari Anas bin Malik, ia berkata, “Nabi saw. apabila masuk bulan Rajab, beliau berdoa, ‘Ya Allah, berkahilah kami pada bulan Rajab dan Sya’ban, dan berkahilah kami pada bulan Ramadhan.’ Dan beliau berkata, ‘Malam Jumat itu indah dan siang harinya bercahaya’.” HR. Abdullah bin Ahmad, Musnad Ahmad, IV:180, No. hadits 2346. 
Dalam riwayat lain dengan redaksi:
إِذَا دَخَلَ رَجَبٌ قَالَ اللَّهُمَّ بَارِكْ لَنَا فِي رَجَبٍ وَشَعْبَانَ وَبَلِّغْنَا رَمَضَانَ
“Apabila masuk bulan Rajab, beliau berdoa, ‘Ya Allah, berkahilah kami pada bulan Rajab dan Sya’ban, dan sampaikanlah kami pada bulan Ramadhan’.” HR. Al-Bazzar, Musnad Al-Bazzar, II:290, No. 6494, Ath-Thabrani, al-Mu’jam al-Awsath, IV:189, No. 3939, Ad-Du’a:284, No. 911, Al-Baihaqi, Syu’ab al-Iman, III:375, No. 3815, Ad-Da’wat al-Kabir, II:142, No. 529, Ibnu Asakir, Mu’jam asy-Syuyukh:161, No. 309, Al-Mundziri, At-Targhib wa at-Tarhib, II:393, No. 1852, Abdul Ghani al-Maqdisi, Akhbar ash-Shalah:69, No. 127, Al-Khalal, Fi Fadha’il Syahr Rajab:45, No. 1, Abu Nu’aim, Hilyah al-Awliya, VI:269

Kedudukan Hadits
Meski diriwayatkan oleh banyak mukharrij (pencatat dan periwayat hadits), namun semua jalur periwayatan hadits itu melalui seorang rawi bernama Za’idah bin Abu ar-Ruqad. Ia menerima dari rawi Ziyad bin Abdullah an-Numairi. Dengan demikian, hadits di atas dikategorikan sebagai hadits gharib mutlaq (benar-benar tunggal).
Hadits di atas dhaif karena dua sebab:
Pertama, rawi Za’idah bin Abu ar-Ruqad
Rawi tersebut telah di-jarh (dikritik) oleh para ahli hadits, antara lain:
F Imam al-Bukhari berkata, “Dia munkar al-Hadits” (Lihat, Tahdzib al-Kamal, IX:272). Imam al-Bukhari berkata:
كُلُّ مَنْ قُلْتُ فِيْهِ مُنْكَرُ الْحَدِيْثِ لاَ تَحِلُّ الرِّوَايَةُ عَنْهُ
 “Setiap orang yang aku katakan padanya, ‘munkar al-Hadits’ tidak halal meriwayatkan hadits darinya” (Lihat,Ar-Raf’ wa at-Takmil fi al-Jarh wa at-Ta’dil: 208).
F Abu Dawud berkata, “Saya tidak mengenal khabarnya” (Lihat, Tahdzib al-Kamal, IX:272).
F An-Nasai berkata, “Saya tidak tahu siapa dia” (Lihat, Tahdzib al-Kamal, IX:272).
F Adz-Dzahabi berkata, “Dia dha’if.” (Lihat, Mizan al-I’tidal, II:65).
Kedua, rawi Ziyad bin Abdullah an-Numairi
Rawi tersebut telah di-jarh (dikritik) oleh para ahli hadits, antara lain:
Ä Ibnu Ma’in berkata, “Pada haditsnya terdapat kedhaifan” (Lihat, Tahdzib al-Kamal, IX:493).
Ä Abu Hatim berkata, “Haditsnya dicatat dan tidak dapat digunakan hujjah” (Lihat, Tahdzib al-Kamal, IX:493).
Ä Abu Ubaid al-Ajiri berkata, “Saya bertanya kepada Abu Dawud tentangnya (Ziyad), maka ia mendhaifkannya.” (Lihat, Tahdzib al-Kamal, IX:493).
Ä Ibnu Hiban berkata, “Dia keliru.” (Lihat, Tahdzib al-Kamal, IX:493).
Ä Kata Ibnu Hajar, “Ibnu Hiban menyebutkannya pula dalam kitab ad-Dhu’afa, dan ia berkata, “Dia (Ziyad) munkar al-Hadits, meriwayatkan dari Anas sesuatu yang tidak menyerupai hadits para rawi tsiqat. Dia ditinggalkan oleh Ibnu Ma’in.” (Lihat, Tahdzib at-Tahdzib, III:378)

Penilaian Para ulama Terhadap Hadits di atas:
Al-Baihaqi berkata:
تفرد به زياد النميري وعنه زائدة بن أبي الرقاد قال البخاري : زائدة بن أبي الرقاد عن زياد النميري منكر الحديث
“Ziyad an-Numairi menyendiri dengan hadits itu, dan darinya diterima oleh Za’idah bin Abu ar-Ruqad. Al-Bukhari berkata, ‘Za’idah bin Abu ar-Ruqad dari Ziyad an-Numairi, munkar al-Hadits’.” (Lihat, Syu’ab al-Iman, III:375)
An-Nawawi berkata:
وروينا في حلية الأولياء بإسناد فيه ضعف
“Dan kami meriwayatkan dalam kitab Hilyah al-Awliya dengan sanad yang padanya terdapat kedaifan.” (Lihat, Al-Adzkar:274)
Al-Haitsami berkata:
رواه البزار وفيه زائدة بن أبي الرقاد قال البخاري منكر الحديث وجهله جماعة
“Diriwayatkan oleh al-Bazzar dan padanya terdapat rawi Za’idah bin Abu ar-Ruqad. Al-Bukhari berkata, ‘Dia munkar al-Hadits’ dan dinilai majhul (tidak dikenal) oleh sekelompok ulama.” (Lihat, Majma’ az-Zawa’id, II:165)
Al-Munawi berkata:
وقال البخاري : زائدة عن زياد منكر الحديث وجهله جماعة وجزم الذهبي في الضعفاء بأنه منكر الحديث  
“Al-Bukhari berkata, ‘Zaidah dari Ziyad munkar al-Hadits’ dan dinilai majhul (tidak dikenal) oleh sekelompok ulama. Dan Adz-Dzahabi telah menetapkan dalam kitabnya adh-Dhu’afa bahwa dia munkar al-Hadits.” (Lihat, Faidh al-Qadier, I:325)
Ahmad Syakir berkata, “Isnaduhu dha’iefun (sanadnya dhaif).” (Lihat, Ta’aliq ‘Ala al-Musnad, IV:100)
Syekh Syu’aib al-Arnauth berkata, “Isnaduhu dha’iefun (sanadnya dhaif).” (Lihat, Ta’aliq ‘Ala al-Musnad, IV:180)

Kesimpulan Hadits Pertama:
Hadits yang berkaitan dengan doa menyambut Ramadhan yang dirangkaikan dengan bulan Rajab dan Sya’ban kedudukannya dhaif dan tidak dapat dijadikan hujjah untuk pengamalan.

Kedua, Tanpa dirangkaikan dengan bulan Rajab dan Sya’ban
Doa khusus menyambut bulan Ramadhan yang populer di sebagian kaum muslimin dengan redaksi:

اللّهُمَّ سَلِّمْنِي لِرَمَضَانَ وَسَلِّمْ رَمَضَانَ لِيْ وَسَلِّمْهُ مِنِّي مُتَقَبَّلاً

Sejauh penelitian kami, hampir selama 15 tahun, redaksi di atas tidak didapatkan sumber asalnya, sehingga tidak jelas riwayat siapa.
Adapun redaksi yang ditemukan sumber dan periwayatnya adalah sebagai berikut:

عَنْ عُبَادَةَ بْنِ الصَّامِتِ : اللّهُمَّ سَلِّمْنِي لِرَمَضَانَ وَسَلِّمْ رَمَضَانَ لِيْ وَتَسَلَّمْهُ لِي مُقَبَّلاً
Dari Ubadah bin As-shamit: “Ya Allah, selamatkanlah aku untuk Ramadhan dan selamatkanlah Ramadhan untukku dan terimalah ia untukku (sebagai) yang diterima.” HR. Ad-Dailami, Al-Firdaws bi Ma’tsur al-Khithab, I:471, No. 1919
Dalam penelusuran Ibnu Hajar redaksi hadits versi Ad-Dailami itu selengkapnya sebagai berikut:
عَنْ عُبَادَةَ بْنِ الصَّامِتِ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ ، قَالَ : كَانَ رَسُولُ اللهِ صلى الله عليه وسلم يُعَلِّمُنَا هَؤُلاءِ الْكَلِمَاتِ إِذَا جَاءَ رَمَضَانُ يَقُولُ اللَّهُمَّ سَلِّمْنِي لِرَمَضَانَ وَسَلِّمْ رَمَضَانَ لِي وَتَسَلَّمْهُ مِنِّي مُتَقَبَّلا
Dari Ubadah bin As-shamit, ia berkata, ”Rasulullah saw. mengajarkan kepada kami beberapa kalimat apabila datang bulan Ramadhan, agar salah seorang di antara kami mengucapkan: Ya Allah, selamatkanlah aku untuk Ramadhan dan selamatkanlah Ramadhan untukku dan terimalah ia dariku (sebagai) yang diterima.” (Lihat, Al-Ghara’ib al-Multaqathah min Musnad al-Firdaws Mimmaa Laisa fii al-Kutub al-masyhurah:589, No. 614)
Sementara At-Thabrani meriwayatkan dengan redaksi:
عَنْ عُبَادَةَ بْنِ الصَّامِتِ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ ، قَالَ : كَانَ رَسُولُ اللهِ صلى الله عليه وسلم يُعَلِّمُنَا هَؤُلاءِ الْكَلِمَاتِ إِذَا جَاءَ رَمَضَانُ أَنْ يَقُولَ أَحَدُنَا اللَّهُمَّ سَلِّمْنِي مِنْ رَمَضَانَ وَسَلِّمْ رَمَضَانَ لِي وَتَسَلَّمْهُ مِنِّي مُتَقَبَّلا
Dari Ubadah bin As-shamit, ia berkata, ”Rasulullah saw. mengajarkan kepada kami beberapa kalimat apabila datang bulan Ramadhan, agar salah seorang di antara kami mengucapkan: Ya Allah, selamatkanlah aku dari Ramadhan dan selamatkanlah Ramadhan untukku dan terimalah ia dariku (sebagai) yang diterima. HR. At-Thabrani, Ad-dhu’a:284, No. 912
Abdul Karim bin Muhammad al-Qazwini meriwayatkan pula dengan redaksi:
عَنْ عُبَادَةَ بْنِ الصَّامِتِ قَالَ كَانَ النَّبِيُّ  صلى الله عليه وسلم  إِذَا دَخَلَ رَمَضَانُ يُعَلِّمُنَا أَنْ نَقُوْلَ اللّهُمَّ سَلِّمْنَا لِرَمَضَانَ وَسَلِّمْ رَمَضَانَ مِنَّا وَتَسَلَّمْهُ مِنَّا مُتَقَبَّلاً 
Dari Ubadah bin As-shamit, ia berkata, ”Nabi saw. apabila datang bulan Ramadhan mengajarkan kepada kami agar kami mengucapkan: Ya Allah, selamatkanlah kami untuk Ramadhan dan selamatkanlah Ramadhan dari kami dan terimalah ia dari kami (sebagai) yang diterima.” At-Tadwin fi Akhbar Qazwin, III:424
Ad-Dzahabi, dalam menjelaskan rawi Ibnu Syaghabah Abu al-Qasim Abdul Malik bin Ali bin Khalaf, mencantum hadits tersebut dengan redaksi:
عَنْ عُبَادَةَ بْنِ الصَّامِتِ قَالَ كَانَ النَّبِيُّ  صلى الله عليه وسلم  يُعَلِّمُنَا هؤلاءِ الْكَلِمَاتِ إِذَا جَاءَ رَمَضَانُ اللّهُمَّ سَلِّمْنِي لِرَمَضَانَ وَسَلِّمْ رَمَضَانَ لِيْ وَتَسَلَّمْهُ مِنِّي مُتَقَبَّلاً.
Dari Ubadah bin As-shamit, ia berkata, ”Nabi saw. mengajarkan kepada kami beberapa kalimat apabila datang bulan Ramadhan: Ya Allah, selamatkanlah aku untuk Ramadhan dan selamatkanlah Ramadhan untukku dan terimalah ia dariku (sebagai) yang diterima.” HR. Ibnu Syaghabah Abu al-Qasim, Siyar A’lam an-Nubala, XIX:51, No. rawi 31

Kedudukan Hadits
Meski diriwayatkan oleh beberapa mukharrij (pencatat dan periwayat hadits) dengan redaksi yang berbeda, namun semua jalur periwayatan hadits itu melalui seorang rawi yang popular disebut Abu Ja’far ar-Razi, dari Abdul Aziz bin Umar bin Abdul Aziz, dari Shalih bin Kaisan, dari Ubadah bin as-Shamit.
Dengan demikian, hadits di atas dikategorikan sebagai hadits gharib mutlaq (benar-benar tunggal).
Hadits di atas dhaif dengan sebab kedaifan Abu Ja’far ar-Razi, namanya Isa bin Abu Isa Mahan. Dia didaifkan oleh para ahli hadits, antara lain: Al-Fallas berkata, “Dia buruk hafalan”. Abu Zur’ah berkata, “Sering ragu-ragu (dalam meriwayatkan)” (Lihat, Al-Mughni fid Dhu’afa, II:500)

Penilaian Para ulama Terhadap Hadits di atas:
Syekh Syu’aib al-Arnauth berkata:
إسناده ضعيف لضعف أبي جعفر الرازي، واسمه عيسى بن ماهان، قال ابن المديني: كان يخلط، وقال يحيى: كان يخطئ، وقال أحمد: ليس بالقوي في الحديث، وقال أبو زرعة: كان يهم كثيرا، وقال ابن حبان: كان ينفرد بالمناكير عن المشاهير، قلت: وهو راوي حديث أنس: ما زال رسول الله يقنت في صلاة الصبح حتى فارق الدنيا. 
”Sanadnya dha’if karena kedhaifan Abu Ja’far ar-Razi, namanya Isa bin Mahan. Ibnu al-Madini berkata, ’Dia rusak (hapalannya).’ Yahya bin Ma’in berkata, ”Dia keliru.’ Ahmad berkata, ’Dia tidak kuat dalam hadits.’ Abu Zur’ah berkata, ’Dia banyak waham.’ Ibnu Hiban berkata, ’Dia menyendiri dengan riwayat-riwayat munkar dari rawi-rawi masyhur.’ Menurut saya, ’Dia rawi hadits Anas, ’Rasulullah saw. tidak henti-hentinya qunut pada salat subuh hingga meninggal dunia’.” Lihat, Tahqiq Siyar A’lam an-Nubala, XIX:51)

Kesimpulan Hadits Kedua:
Hadits yang berkaitan dengan doa menyambut Ramadhan tanpa dirangkaikan dengan bulan Rajab dan Sya’ban kedudukannya dhaif dan tidak dapat dijadikan hujjah untuk pengamalan.
Karena itu, kami berkesimpulan bahwa dalam menyambut kedatangan bulan Ramadhan tidak disyariatkan berdoa secara khusus.
Wal-‘Llahu a’lam

Arsip Blog