Doa khusus menyambut
Ramadhan
Hadits yang berkaitan
dengan doa tersebut terbagi menjadi dua macam,
Pertama, dirangkaikan
dengan bulan Rajab dan Sya’ban. Adapun redaksi haditsnya sebagai berikut:
عَنْ أَنَسِ بْنِ مَالِكٍ قَالَ كَانَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِذَا دَخَلَ رَجَبٌ قَالَ اللَّهُمَّ بَارِكْ لَنَا فِي رَجَبٍ وَشَعْبَانَ وَبَارِكْ لَنَا فِي رَمَضَانَ وَكَانَ يَقُولُ لَيْلَةُ الْجُمُعَةِ غَرَّاءُ وَيَوْمُهَا أَزْهَرُ
Dari Anas bin Malik, ia
berkata, “Nabi saw. apabila masuk bulan Rajab, beliau berdoa, ‘Ya Allah,
berkahilah kami pada bulan Rajab dan Sya’ban, dan berkahilah kami pada bulan
Ramadhan.’ Dan beliau berkata, ‘Malam Jumat itu indah dan siang harinya
bercahaya’.” HR. Abdullah bin Ahmad, Musnad Ahmad, IV:180, No.
hadits 2346.
Dalam riwayat lain
dengan redaksi:
إِذَا دَخَلَ رَجَبٌ قَالَ اللَّهُمَّ بَارِكْ لَنَا فِي رَجَبٍ وَشَعْبَانَ وَبَلِّغْنَا رَمَضَانَ
“Apabila masuk bulan
Rajab, beliau berdoa, ‘Ya Allah, berkahilah kami pada bulan Rajab dan Sya’ban,
dan sampaikanlah kami pada bulan Ramadhan’.” HR. Al-Bazzar, Musnad
Al-Bazzar, II:290, No. 6494, Ath-Thabrani, al-Mu’jam al-Awsath,
IV:189, No. 3939, Ad-Du’a:284, No. 911, Al-Baihaqi, Syu’ab
al-Iman, III:375, No. 3815, Ad-Da’wat al-Kabir, II:142, No.
529, Ibnu Asakir, Mu’jam asy-Syuyukh:161, No. 309,
Al-Mundziri, At-Targhib wa at-Tarhib, II:393, No. 1852, Abdul Ghani
al-Maqdisi, Akhbar ash-Shalah:69, No. 127, Al-Khalal, Fi
Fadha’il Syahr Rajab:45, No. 1, Abu Nu’aim, Hilyah al-Awliya,
VI:269
Kedudukan Hadits
Meski diriwayatkan oleh
banyak mukharrij (pencatat dan periwayat hadits), namun semua
jalur periwayatan hadits itu melalui seorang rawi bernama Za’idah bin Abu
ar-Ruqad. Ia menerima dari rawi Ziyad bin Abdullah an-Numairi. Dengan demikian,
hadits di atas dikategorikan sebagai hadits gharib mutlaq (benar-benar
tunggal).
Hadits di atas dhaif
karena dua sebab:
Pertama, rawi Za’idah
bin Abu ar-Ruqad
Rawi tersebut telah di-jarh (dikritik)
oleh para ahli hadits, antara lain:
F
Imam al-Bukhari berkata, “Dia munkar al-Hadits” (Lihat, Tahdzib
al-Kamal, IX:272). Imam al-Bukhari berkata:
كُلُّ مَنْ قُلْتُ فِيْهِ مُنْكَرُ الْحَدِيْثِ لاَ تَحِلُّ الرِّوَايَةُ عَنْهُ
“Setiap orang yang
aku katakan padanya, ‘munkar al-Hadits’ tidak halal meriwayatkan hadits
darinya” (Lihat,Ar-Raf’ wa at-Takmil fi al-Jarh wa at-Ta’dil: 208).
F
Abu Dawud berkata, “Saya tidak mengenal khabarnya” (Lihat, Tahdzib
al-Kamal, IX:272).
F
An-Nasai berkata, “Saya tidak tahu siapa dia” (Lihat, Tahdzib
al-Kamal, IX:272).
F
Adz-Dzahabi berkata, “Dia dha’if.” (Lihat, Mizan
al-I’tidal, II:65).
Kedua, rawi Ziyad bin
Abdullah an-Numairi
Rawi tersebut telah di-jarh (dikritik)
oleh para ahli hadits, antara lain:
Ä
Ibnu Ma’in berkata, “Pada haditsnya terdapat kedhaifan”
(Lihat, Tahdzib al-Kamal, IX:493).
Ä
Abu Hatim berkata, “Haditsnya dicatat dan tidak dapat digunakan
hujjah” (Lihat, Tahdzib al-Kamal, IX:493).
Ä
Abu Ubaid al-Ajiri berkata, “Saya bertanya kepada Abu Dawud
tentangnya (Ziyad), maka ia mendhaifkannya.” (Lihat, Tahdzib al-Kamal,
IX:493).
Ä
Ibnu Hiban berkata, “Dia keliru.” (Lihat, Tahdzib al-Kamal,
IX:493).
Ä
Kata Ibnu Hajar, “Ibnu Hiban menyebutkannya pula dalam kitab
ad-Dhu’afa, dan ia berkata, “Dia (Ziyad) munkar al-Hadits, meriwayatkan dari
Anas sesuatu yang tidak menyerupai hadits para rawi tsiqat. Dia ditinggalkan
oleh Ibnu Ma’in.” (Lihat, Tahdzib at-Tahdzib, III:378)
Penilaian Para ulama
Terhadap Hadits di atas:
Al-Baihaqi berkata:
تفرد به زياد النميري وعنه زائدة بن أبي الرقاد قال البخاري : زائدة بن أبي الرقاد عن زياد النميري منكر الحديث
“Ziyad an-Numairi
menyendiri dengan hadits itu, dan darinya diterima oleh Za’idah bin Abu
ar-Ruqad. Al-Bukhari berkata, ‘Za’idah bin Abu ar-Ruqad dari Ziyad an-Numairi,
munkar al-Hadits’.” (Lihat, Syu’ab al-Iman, III:375)
An-Nawawi berkata:
وروينا في حلية الأولياء بإسناد فيه ضعف
“Dan kami meriwayatkan
dalam kitab Hilyah al-Awliya dengan sanad yang padanya
terdapat kedaifan.” (Lihat, Al-Adzkar:274)
Al-Haitsami berkata:
رواه البزار وفيه زائدة بن أبي الرقاد قال البخاري منكر الحديث وجهله جماعة
“Diriwayatkan oleh
al-Bazzar dan padanya terdapat rawi Za’idah bin Abu ar-Ruqad. Al-Bukhari
berkata, ‘Dia munkar al-Hadits’ dan dinilai majhul (tidak dikenal) oleh
sekelompok ulama.” (Lihat, Majma’ az-Zawa’id, II:165)
Al-Munawi berkata:
وقال البخاري : زائدة عن زياد منكر الحديث وجهله جماعة وجزم الذهبي في الضعفاء بأنه منكر الحديث
“Al-Bukhari berkata,
‘Zaidah dari Ziyad munkar al-Hadits’ dan dinilai majhul (tidak dikenal) oleh
sekelompok ulama. Dan Adz-Dzahabi telah menetapkan dalam kitabnya adh-Dhu’afa bahwa
dia munkar al-Hadits.” (Lihat, Faidh al-Qadier, I:325)
Ahmad Syakir berkata, “Isnaduhu
dha’iefun (sanadnya dhaif).” (Lihat, Ta’aliq ‘Ala al-Musnad,
IV:100)
Syekh Syu’aib al-Arnauth
berkata, “Isnaduhu dha’iefun (sanadnya dhaif).” (Lihat, Ta’aliq
‘Ala al-Musnad, IV:180)
Kesimpulan Hadits
Pertama:
Hadits yang berkaitan
dengan doa menyambut Ramadhan yang dirangkaikan dengan bulan Rajab dan Sya’ban
kedudukannya dhaif dan tidak dapat dijadikan hujjah untuk pengamalan.
Kedua, Tanpa
dirangkaikan dengan bulan Rajab dan Sya’ban
Doa khusus menyambut
bulan Ramadhan yang populer di sebagian kaum muslimin dengan redaksi:
اللّهُمَّ سَلِّمْنِي لِرَمَضَانَ وَسَلِّمْ رَمَضَانَ لِيْ وَسَلِّمْهُ مِنِّي مُتَقَبَّلاً
Sejauh penelitian kami,
hampir selama 15 tahun, redaksi di atas tidak didapatkan sumber asalnya,
sehingga tidak jelas riwayat siapa.
Adapun redaksi yang
ditemukan sumber dan periwayatnya adalah sebagai berikut:
عَنْ عُبَادَةَ بْنِ الصَّامِتِ : اللّهُمَّ سَلِّمْنِي لِرَمَضَانَ وَسَلِّمْ رَمَضَانَ لِيْ وَتَسَلَّمْهُ لِي مُقَبَّلاً
Dari Ubadah bin
As-shamit: “Ya Allah, selamatkanlah aku untuk Ramadhan dan selamatkanlah
Ramadhan untukku dan terimalah ia untukku (sebagai) yang diterima.” HR.
Ad-Dailami, Al-Firdaws bi Ma’tsur al-Khithab, I:471, No. 1919
Dalam penelusuran Ibnu
Hajar redaksi hadits versi Ad-Dailami itu selengkapnya sebagai berikut:
عَنْ عُبَادَةَ بْنِ الصَّامِتِ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ ، قَالَ : كَانَ رَسُولُ اللهِ صلى الله عليه وسلم يُعَلِّمُنَا هَؤُلاءِ الْكَلِمَاتِ إِذَا جَاءَ رَمَضَانُ يَقُولُ اللَّهُمَّ سَلِّمْنِي لِرَمَضَانَ وَسَلِّمْ رَمَضَانَ لِي وَتَسَلَّمْهُ مِنِّي مُتَقَبَّلا
Dari Ubadah bin As-shamit,
ia berkata, ”Rasulullah saw. mengajarkan kepada kami beberapa kalimat apabila
datang bulan Ramadhan, agar salah seorang di antara kami mengucapkan: Ya Allah,
selamatkanlah aku untuk Ramadhan dan selamatkanlah Ramadhan untukku dan
terimalah ia dariku (sebagai) yang diterima.” (Lihat, Al-Ghara’ib
al-Multaqathah min Musnad al-Firdaws Mimmaa Laisa fii al-Kutub al-masyhurah:589,
No. 614)
Sementara At-Thabrani
meriwayatkan dengan redaksi:
عَنْ عُبَادَةَ بْنِ الصَّامِتِ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ ، قَالَ : كَانَ رَسُولُ اللهِ صلى الله عليه وسلم يُعَلِّمُنَا هَؤُلاءِ الْكَلِمَاتِ إِذَا جَاءَ رَمَضَانُ أَنْ يَقُولَ أَحَدُنَا اللَّهُمَّ سَلِّمْنِي مِنْ رَمَضَانَ وَسَلِّمْ رَمَضَانَ لِي وَتَسَلَّمْهُ مِنِّي مُتَقَبَّلا
Dari Ubadah bin
As-shamit, ia berkata, ”Rasulullah saw. mengajarkan kepada kami beberapa
kalimat apabila datang bulan Ramadhan, agar salah seorang di antara kami
mengucapkan: Ya Allah, selamatkanlah aku dari Ramadhan dan selamatkanlah Ramadhan
untukku dan terimalah ia dariku (sebagai) yang diterima. HR. At-Thabrani, Ad-dhu’a:284,
No. 912
Abdul Karim bin Muhammad
al-Qazwini meriwayatkan pula dengan redaksi:
عَنْ عُبَادَةَ بْنِ الصَّامِتِ قَالَ كَانَ النَّبِيُّ صلى الله عليه وسلم إِذَا دَخَلَ رَمَضَانُ يُعَلِّمُنَا أَنْ نَقُوْلَ اللّهُمَّ سَلِّمْنَا لِرَمَضَانَ وَسَلِّمْ رَمَضَانَ مِنَّا وَتَسَلَّمْهُ مِنَّا مُتَقَبَّلاً
Dari Ubadah bin
As-shamit, ia berkata, ”Nabi saw. apabila datang bulan Ramadhan mengajarkan
kepada kami agar kami mengucapkan: Ya Allah, selamatkanlah kami untuk Ramadhan
dan selamatkanlah Ramadhan dari kami dan terimalah ia dari kami (sebagai) yang
diterima.” At-Tadwin fi Akhbar Qazwin, III:424
Ad-Dzahabi, dalam
menjelaskan rawi Ibnu Syaghabah Abu al-Qasim Abdul Malik bin Ali bin Khalaf,
mencantum hadits tersebut dengan redaksi:
عَنْ عُبَادَةَ بْنِ الصَّامِتِ قَالَ كَانَ النَّبِيُّ صلى الله عليه وسلم يُعَلِّمُنَا هؤلاءِ الْكَلِمَاتِ إِذَا جَاءَ رَمَضَانُ اللّهُمَّ سَلِّمْنِي لِرَمَضَانَ وَسَلِّمْ رَمَضَانَ لِيْ وَتَسَلَّمْهُ مِنِّي مُتَقَبَّلاً.
Dari Ubadah bin
As-shamit, ia berkata, ”Nabi saw. mengajarkan kepada kami beberapa kalimat
apabila datang bulan Ramadhan: Ya Allah, selamatkanlah aku untuk Ramadhan dan
selamatkanlah Ramadhan untukku dan terimalah ia dariku (sebagai) yang
diterima.” HR. Ibnu Syaghabah Abu al-Qasim, Siyar A’lam an-Nubala,
XIX:51, No. rawi 31
Kedudukan Hadits
Meski diriwayatkan oleh
beberapa mukharrij (pencatat dan periwayat hadits) dengan redaksi yang berbeda,
namun semua jalur periwayatan hadits itu melalui seorang rawi yang popular
disebut Abu Ja’far ar-Razi, dari Abdul Aziz bin Umar bin Abdul Aziz, dari
Shalih bin Kaisan, dari Ubadah bin as-Shamit.
Dengan demikian, hadits
di atas dikategorikan sebagai hadits gharib mutlaq (benar-benar
tunggal).
Hadits di atas dhaif
dengan sebab kedaifan Abu Ja’far ar-Razi, namanya Isa bin Abu Isa Mahan. Dia
didaifkan oleh para ahli hadits, antara lain: Al-Fallas berkata, “Dia buruk
hafalan”. Abu Zur’ah berkata, “Sering ragu-ragu (dalam meriwayatkan)” (Lihat, Al-Mughni
fid Dhu’afa, II:500)
Penilaian Para ulama
Terhadap Hadits di atas:
Syekh Syu’aib al-Arnauth
berkata:
إسناده ضعيف لضعف أبي جعفر الرازي، واسمه عيسى بن ماهان، قال ابن المديني: كان يخلط، وقال يحيى: كان يخطئ، وقال أحمد: ليس بالقوي في الحديث، وقال أبو زرعة: كان يهم كثيرا، وقال ابن حبان: كان ينفرد بالمناكير عن المشاهير، قلت: وهو راوي حديث أنس: ما زال رسول الله يقنت في صلاة الصبح حتى فارق الدنيا.
”Sanadnya dha’if karena
kedhaifan Abu Ja’far ar-Razi, namanya Isa bin Mahan. Ibnu al-Madini berkata, ’Dia
rusak (hapalannya).’ Yahya bin Ma’in berkata, ”Dia keliru.’ Ahmad berkata, ’Dia
tidak kuat dalam hadits.’ Abu Zur’ah berkata, ’Dia banyak waham.’ Ibnu Hiban
berkata, ’Dia menyendiri dengan riwayat-riwayat munkar dari rawi-rawi masyhur.’
Menurut saya, ’Dia rawi hadits Anas, ’Rasulullah saw. tidak henti-hentinya
qunut pada salat subuh hingga meninggal dunia’.” Lihat, Tahqiq Siyar
A’lam an-Nubala, XIX:51)
Kesimpulan Hadits Kedua:
Hadits yang berkaitan
dengan doa menyambut Ramadhan tanpa dirangkaikan dengan bulan Rajab dan Sya’ban
kedudukannya dhaif dan tidak dapat dijadikan hujjah untuk pengamalan.
Karena itu, kami
berkesimpulan bahwa dalam menyambut kedatangan bulan Ramadhan tidak
disyariatkan berdoa secara khusus.
Wal-‘Llahu a’lam

Tidak ada komentar:
Posting Komentar