Sabtu, 07 Juni 2014

Menelusuri Jejak al-Fatih di Kota Tua Istanbul




Tanggal 31 Mei dan 1 Juni 2014, penulis diundang menghadiri Muktamar IIFSO (International Islamic Federation of Student Organization) atas nama Pemuda Persatuan Islam yang belum lama bergabung di organisasi yang didirikan oleh para aktivis Islam di Aachen Jerman tahun 1969. Muktamar ini diselenggarakan empat tahun sekali. Tahun 2010 Muktamar diadakan di Jakarta. Muktamar kali ini diselenggarakan di Istanbul Turki. Tahun 2010 terpilih Dr. Ahmad Abudl ‘Athi dari Mesir sebagai Sekjen. Hanya saja, karena ia dianggap dekat dengan Presiden Muhammad Mursi, akhirnya ia ditangkap dan dipenjarakan oleh rezim A-Sisi. Oleh sebab itu, pada Muktamar kali ini ia tidak dapat hadir. Selain menghadiri Muktamar, penulis juga berkesempatan menelusuri sudut-sudut kota Istanbul dengan warisan sejarahnya yang sangat menginspirasi. Berikut beberapa hal yang insya Allah bisa bermanfaat untuk para pembaca.
Muktamar dan Tantangan Peradaban Islam
Muktamar diselenggarakan selama dua hari. Selain agenda laporan pertanggungjawaban pengurus selama empat tahun yang lalu, juga diselenggarakan pemeilihan Sekretaris Jendral baru dan anggota Majlis Syuro. Dalam pemilihan yang berlangsung cukup tertib, terpilih Dr. Khallad Suwaid dari Syria sebagai Sekjen baru IIFSO untuk empat tahun ke depan. Sebelumnya ia menjabat sebagai Wakil Sekjen. Para pemilih adalah perwakilan dari organisasi-organisasi yang bergabung di IIFSO. Hadir dalam pemilihan ini sekitar 36 negara dari seluruh dunia. Bahkan, hadir pula perwakilan dari Italia, Inggris dan Jerman. Sekjen terpilih sendiri walaupun berkebangsaan Syria, tinggal di Jerman. Sementara Majlis Syuro yang wajib mengadakan permusyawarahan setahun sekali dipilih sebanyak 11 orang mewakili regional tertentu. Indonesia dalam Muktamar IIFSO kali ini terpilih mewakili Asia Tenggara sebagai anggota Majelis Syuro.
Selain agenda permusyawarahan juga diselenggarakan diskusi tentang berbagai tantangan yang tengah dihadapi umat Islam di seluruh belahan dunia. Para pembicara pun sengaja diundang  dari berbagai negara untuk berbagi tentang tantangan di negara masing-masing. Hadir di antaranya Ketua Partai Saadat Turki Dr. Mustafa Kamal, Ketua Partai PAS Malaysia Haji Abdul Hadi Awang, dan Sekjen Ikhwanul Muslimin Mesir Mustafa Mahmud. Selain para  pembicara di atas, beberpa organisasi undangan dari berbagai negara juga didaulat untuk menyampaikan kondisi umat Islam di tempat masing-masing, dari mulai kondisi sosial, politik, pendidikan, media masa dan gerakan pemuda. Acara ini pun benar-benar menjadi ajang silaturahmi dan shilatul-fikri di antara pemuda Islam di seluruh belahan dunia yang pada masa yang akan datang cukup strategis untuk tetap mengusahakan terjadinya persatuan di antara negara-negara Islam. Mereka yang hadir dalam kegiatan ini adalah calon-calon pemimpin di tempat masing-masing.
Semua pembicaraan mengarah pada satu pemikiran yang sama bahwa tantangan paling serius yang hari ini dihadapi oleh negara-negara Islam adalah tantangan peradaban (civilization) setelah sebelumnya secara politik negara-negara Islam dapat melepaskan diri dari kolonialisme. Harus diakui bahwa pada umumnya negara-negara  Islam belum terkategori sebagai negara berperadaban maju. Raja-raja peradaban dunia hari ini adalah negara-negara seperti Amerika, Inggris, Prancis, Jepang dan semisalnya yang umumnya bukan Muslim. Padahal, tiga abad kebelakang negara-negara ini buka apa-apa. Negeri-negeri Islam sebelumnya adalah para pemimpin peradaban dunia sejak Umawiyah di Damaskus. Abbasiyah di Baghdad dan terakhir Usmaniyah di Turki.
Di antara saran-saran yang disampaikan para pembicara untuk mengatasi persoalan ketertinggalan peradaban ini, umat Islam harus secara serius memperhatikan bidang pendidikan. Bidang inilah yang hari ini paling strategis dan bervisi jangka panjang untuk membangun kembali peradaban Islam yang hilang. Diakui bersama bahwa kemajuan peradaban Barat hari ini disebabkan mereka memulainya dengan gerakan ilmiah. Riset mereka galakkan dengan serius. Kemudian dibangun universitas-universitas dan lembaga pendidikan di bawahnya untuk menularkannya secara merata kepada anak-anak muda mereka. Dengan cara itu, dalam jangka waktu yang tidak terlalu lama Barat mulai menuai hasilnya seperti yang kita saksikan hari ini.
Sejak kepemimpinan Prof. Nechmetin Erbakan tahun 1996 yang diantarkan oleh partai besutannya Refah, Turki seolah-olah mengalami titik balik (turning point). Sekularisme yang dicanangkan oleh Mustafa Kemal Pasya tahun 1920-an dan berhasil mengubah wajah turki Islam menjadi Turki Sekular selama puluhan tahun, dengan naiknya Erbakan seolah-olah Turki memasuki babak baru kembali. Pasalnya, Erbakan adalah representasi tokoh Islam baru. Ia mendirikan partai Islam Refah yang akhirnya memenangi pemilu Turki tahun 1996 dan mengantarkannya menjadi Perdana Menteri Turki. Sayang sekali, kebangkitan Islam di Turki menuai tentangan dari kelompok militer pendukung sekularisme Turki. Ia akhirnya harus tinggalkan jabatannya tahun 1997 karena desakan militer. Partainya pun dibubarkan karena dianggap menentang konstitusi yang menjadikan sekularisme sebagai dasar negara Turki.
Walaupun demikian, bukan berarti gerakan Islam di Turki mati seketika. Para penerus Erbakan terus mengawal Islamisasi Turki di bidang politik, walaupun dengan strategi yang agak berbeda dengan Erbakan. Sebagai pendukung Islam, mencoba membangun kembali partai Islam baru. Ia kemudian mendirikan Saadet Partisi tahun 2001. Hanya saja, sebagian mentornya di Refah memilih untuk mendirikan partai lain, yaitu Adelet ve Kankinma Partisi pada tahun yang sama. Tokoh partai ini adalah Abdullah Gul dan Tayyip Erdogan. Abdullah Gul tahun 2002 setelah kemenangan pertama AKP  menjadi PM, tetapi kemudian digantikan oleh Erdogan tahun 2003. Abdullah Gul sendiri ikut dalam pemilihan Presiden tahun 2007 dan memenangkannya hingga saat ini Turki dipimpin oleh dua tokoh yang dididik dan dibesarkan Erbakan, yaitu Abdullah Gul dan Recep Tayyip Erdogan.
Dalam menjalankan strateginya, Saadat Partisi memilih jalan yang boleh dikatakan keras dalam memperjuangkan Islam sehingga oleh para pengamat partai ini dianggap sebagai fundamentalis dan garis keras. Sementara AK Partisi memilih jalan yang lebih halus dan berfokus pada pembangunan ekonomi dan pendidikan di Turki. Bila Saadat sangat menentang Amerika dan Uni Eropa, bahkan mengecam kebijakan Erdogan yang ingin memasukkan Turki ke dalam Uni Eropa, maka AK Partai masih mau bekerja sama dengan Amerika dan Uni Eropa. Saadat juga sangat keras menentang invasi terhadap Palestina oleh Israel. Partai ini ingin agar Turki menyatakan perang terhadap Israel, atau sekedar memutuskan hubungan diplomatik Turki dengan Israel. AK Partisi pimpinan Erdogan bersikap agak lunak terhadap Israel. Walaupun Erdogan pun sama mengecam sikap Israel terhadap Palestina, namun tidak sampai memutuskan hubungan diplomatik. Pilihan sikap politik inilah di antara yang menyebabkan AK Partisi lebih diterima dan memenangkan pemilu tahun 2002 (47%) dan 2007 (48,9%) mengalahkan dominasi partai sekular Cumhiriyet Halk Partisi (CHP) yang sebelum tahun 2006 selalu memenangkan pemilu. Sementara Saadat Partisi (SP) hanya memenangkan suara kurang dari 4% dalam dua kali pemilu dan tidak masuk parlemen karena Parliamantary Tresshold (PT) yang sangat tinggi, yaitu 10%.
Walaupun secara gerakan terjadi perpecahan di kalangan parpol Islam di Turki, namun sejak zaman Erbakan hingga Erdogan partai Islam selalu menjadi pilihan. Ada beberapa alasan yang menyebabkan kemenangan sayap partai Islam di Turki. Pertama, sejak sekularisme dicanangkan di Turki dan partai-partai secular atas bantuan militer selalu memenangkan pemilihan umum, tidak terjadi perubahan kesejahteraan yang signifikan dari rakyat Turki. Turki tetap stagnan menjadi negara tertinggal di belahan benua Eropa paling timur ini. Kesejahteraan rakyat Turki pun tidak banyak peningkatan hingga berimplikasi pada posisi Turki yang terus terpojok di Eropa. Satu-satunya perubahan yang diwariskan CHP adalah sekularisme Turki yang cukup berpengaruh bagi masyarakat. Sekularisme ini pula yang hingga saat ini mewariskan problem besar di tengah masyarakat yang 98% Muslim, yaitu minuman keras, perjuadian dan prostitusi. Ketiga perkara yang diharamkan dalam Islam ini, sejak lama dilegalkan oleh penguasa Kemalis ini. Oleh sebab itu, tidak mudah bagi pemerintah baru Islam untuk melakukan restriksi minuman keras, judi dan prostitusi yang sudah menjadi terbiasa di tengah masyarakat Turki. Bahkan, baru tahun 2013 pemerintah Erdogan berhasil mencabut larangan berjilbab yang juga merupakan kebijakan warisan pemerintahan sekular sejak zaman Kemal at-Taturk.
Kedua, saat Erbakan muncul sebagai politisi Islam sebelum akhirnya menjadi Perdana Menteri tahun 1996, ia menampilkan suatu wajah Islam yang baru. Ia adalah Professor ahli “panser” lulusan Aachen University Jerman, tempat BJ. Habibie menimba ilmu pesawat terbang di sana. Ia bahkan belajar satu periode bersma-sama Habibie. Tidak heran bila hubungan Indonesia-Turki saat Habibie menjabat Presiden sangat erat. Dengan pembawaan Erbakan yang meyakinkan dapat membawa suasana baru dan perubahan di Turki, maka tidak heran bila partainya memenagkan pemilu tahun 2006, walaupun akhirnya harus menghadapi kudeta militer yang halus. Ia selalu menjanjika perubahan itu melalui Refah yang dipimpinnya.
Ketiga, apa yang dicita-citakan dan dijanjikan Erbakan, akhirnya baru dapat terwujud ketika mentornya Erdogan menjadi Perdana Menteri. Prestasi Erdogan sebetulnya sudah dikenal oleh rakyat Turki ketika ia menjadi Walikota Istanbul dari Partai Refah. Ia berhasil menjawab berbagai masalah yang dihadapi Istanbul saat itu, di antaranya masalah air bersih, kebersihan kota, pemukiman dan lainnya. Di bawah kepemimpinannya, Istanbul berubah dari kota yang cenderung kumuh menjadi kota tempat tinggal dan tujuan wisata yang menyenangkan. Lebih menarik lagi dan membanggakan warga Istanbul, Erdogan berhasil mengambil alih tempat-tempat bersejarah peninggalan Usmani yang cukup banyak telah berubah menjadi milik swasta dan dijadikan tempat-tempat bisnis. Ia mengembalikan fungsinya sebagai cagar budaya. Kebijakan ini semakin memantapkan Istanbul sebagai kota tujuan wisata sejarah paling menarik di seluruh dunia. Imbasnya, indeks ekonomi semakin baik dan rakyat semakin sejahtera. Saat ia dilantik menjadi Perdana Menteri, kebijakannya saat menjabat Walikota Istanbul diperluas sampai ke seluruh penjuru Turki. Kini Turki di bawah kepemimpinannya menjadi salah satu negara yang cukup penting, baik secara ekonomi maupun politik, dalam percaturan dunia. Perubahan itu sangat terasa dibandingkan sepuluh atau dua puluh tahun lalu. Oleh sebab itu, rakyat percaya bahwa AK Partisi pimpinan Erdogan mampu menjalankan kepemimpinan dengan baik. Inilah juga yang menyebabkan pengaruh Islam pun lambat laun semakin muncul ke permukaan di Turki. Semakin banyak tokoh intelektual Muslim yang muncul menjadi tokoh-tokoh penting di Turki.
Menelusuri Jejak-jejak Kemegahan Islam di Turki
Acara Muktamar IIFSO kali ini yang menjadi tuan rumah adalah satu oraganisasi pemuda Islam di Turki International Youth Forum (IYF), pimpinan Muhammad Musa Budak. Secara langsung atau tidak, organisasi ini cukup dekat dengan Saadet Partisi. Partai ini, walaupun tidak masuk di parlemen Turki, namun gerakannya di bidang social dan dakwah cukup penting di Turki. Sebelum meninggal Erbakan sempat memimpin kembali partai ini (2007-2011) dan kini dipimpin oleh Mustafa Kamal. Partai ini memiliki sayap sosial seperti IHH (Insan Hak ve Huriyetleri) yang mengirimkan bantuan kemanusiaan ke Palestina menggunakan kapal Mavi Marmara yang sangat terkenal tahun 2010 saat Israel memblokade Gaza. Partai ini selalu mencoba menghidupkan kebanggaan masyarakat Turki melalui sejarahnya yang gemilang sejak masa penaklukan Istanbul oleh Muhammad al-Fatih 29 Mei 1453.
Di sela-sela kegiatan Muktamar IIFSO, panitian membawa peserta mengikuti Fetih Festival yang dipusatkan dilapangan sepakbola kota Izmit, kota industri sekitar 2 jam perjalanan dari Istanbul. Acara ini adalah rangkaian acara tahunan yang digagas oleh Erbakan sekitar sepuluh tahun yang lalu. Acara biasanya diisi orasi-orasi tokoh Turki mengingatkan kembali tentang semangat dan kepahlawanan al-Fatih, kemudian diakhiri dengan pertunjukan teatrikal besar memperlihatkan bagaimana al-menaklukkan Konstantinopel. Al-Fatih menukar nama ini menjadi Islambol (Islam full) setelah menaklukkannya dan kemudian diubah lagi oleh at-Taturk menjadi Istanbul. Fetih Festival tahun ini didahului dengan acara yang tidak biasa, yaitu menyelenggarakan Shalat Shubuh berjamaah di depan bangunan bekas masjid Aya Sofia pada tanggal 29 Mei. Shalat Shubuh ini kemudian diunggah ke Youtube dan menyebar ke seluruh dunia, termasuk Indonesia. Sayang sekali ke saya sampai sms yang berbunyi kurang lebih begini.
“Dahulu Sulthan Muhammad al-Fatih membeli Gereja Aya Sofia dengan uang pribadinya sendiri, lalu merubahnya menjadi masjid… di masa Kemal Pasha masjid ini ditutup dan dijadikan museum. Dan kini setelah 79 tahun digunakan sebagai museum, Subuh kemarin Erdogan mengembalikan fungsinya sebagai masjid. Gemuruh takbir kembali bergema seperti berabad yang lalu, Subuh perdana diimami langsung oleh Sekjen Organisasi Tahfizh internasional, Syeikh Abdullah Bashfar… silakan saksikan tayangannya…”
Sebetulnya tidak sama sekali pengubahan fungsi Aya sofia , apalagi oleh Erdogan. Ini adalah acara yang diinisiasi jaringan Saadat Partisi dan memang mengundang Syeikh Bashfar  untuk menjadi imam dalam acara yang semacam “demonstrasi” kepada Erdogan agar mengubahnya menjadi masjid kembali. Jadi, bukan acara inisiasi “subuh pertama”. Dilakukannya pun bukan di dalam ruangan Aya Sofia, tetapi di pelatarannya.
Kami memang tidak sempat menghadiri shalat subuh berjamaah di pelataran Aya Sofia ini, namun dalam acara pembukaan dan Sesi Diskusi Muktamar IIFSO peristiwa ini disampaikan kembali oleh para pembicara Turki, terutama oleh Ketua Partai Saadat Mustafa Kamal. Ia bersama partainya menghendaki supaya Erdogan mengambil kebijakan pengembalian fungsi Aya sofia sebagai masjid. Dengan penuh semangat ia menginginkan agar Turki kembali menjadi faktor pemersatu di antara negeri-negeri Islam di seluruh dunia sebagaimana hal itu sudah dilakukan dahulu oleh al-Fatih.
Untuk semakin memperkuat keyakinan sejarah tentang al-Fatih, panitia membawa seluruh peserta menelusuri jejak-jejak penginggalan al-Fatih. Berangkat dari arah Laut Marmara, kapal yang kami tumpangi terus melaju ke arah selat Bosporus hingga mencapai titik pertempuran laut al-fatih di Golden Horn. Sepanjang perjalanan kami melalui penginggalan-peninggalan bersejarah al-Fatih seperti reruntuhan Benteng Konstantin yang begitu kokoh, Aya sofia, Istana Top Kapi, Blue Mosque dan jemabtan yang menghubungkan benua Asia dan Eropa. Perjalanan kemudian dilanjutkan untuk melihat secara langsung betapa megahnya Masjid Biru Sultan Ahmet dan Aya sofia. Di sampingnya masih berdiri megah Istana Top Kapi yang didirikan al-Fatih. Istana ini adalah simbol kesederhanaan dan kedekatan rakyat dengan al-Fatih.
Monumen sejarah paling baru yang dbuat Erdogan adalah Museum Pnorama 1453. Museum ini terletak persis di titik penyerangan utama al-Fatih ke Kontantinopel. Daerahnya disebut pula wilayah Top kapi. Dalam bahasa Turki, Top kapi artinya adalah “gerbang utama”. Sebelum masa al-Fatih inilah Top Kapi-nya Konstantinopel. Setelah ditaklukkan Top Kapi (gerbang utama) dipindahkan persis di pinggir selat Borporus menghadap ke Turki sisi Asia-nya. Ini sebagai penanda bahwa al-Fatih sudah berhasil menggabungkan Anatolia dan Konstantinopel menjadi satu Turki. Museum didirikan ini tepat pada titik al-Fatih membangun pusat serangan utama ke arah Konstantinopel. Perjuangan Erdogan untuk membangun wilayah ini menjadi Museum sangat patut diacungi jempol. Ia harus membebaskan tanah yang sudah menjadi pusat bisnis cukup ramai di Istanbul. Akan tetapi, karena kepeduliaanya pada sejarah, ia memilih untuk mengeluarkan dana besar membeli kawasan itu untuk dijadikan monumen memperingati kehebatan al-Fatih menaklukkan Konstantinopel. Museum itu sendiri berisi gambar-gambar tentang sejarah penaklukkan al-Fatih. Di lantai paling atas dibuat gambar tiga dimensi yang menceritakan proses penaklukkan al-Fatih.
Selepas mengelilingi kota Istanbul, seluruh peserta Muktamar dibawa le Izmit untuk menyaksikan puncak acara Fetih Festival. Acara dimulai sekitar jam 18:00 waktu Turki dan berakhir pada pukul 23:00 waktu turki. Walaupun acara ini didukung  penuh oleh Saadat Partisi, namun tidak ada satu pun simbol partai yang berkibar. Stadion yang disesaki oleh pengunjung yang datang dari bebagai kota dan negara ini penuh dengan ornamen yang mengingatkan kita pada periode kegemilangan Usmani, kegemilangan Islam di Turki. Siapa pun yang hadir akan merasakan gegap gempita para orator dan aksi-aksi teatrikal yang sangat menarik. Tidak setiap yang menyengaja berkunjung ke Indonesia dapat menyaksikan kemeriahan mengenang al-Fatih seperti di Izmit ini. Beruntung penulis dan para peserta Muktamar IIFSO lainnya difasilitasi untuk melihat kemeriahan yang mengispirasi ini.
Sepanjang perjalan menelusuri Istanbul ini ingatan kita benar-benar dibawa untuk merenungkan kembali betapa Islam begitu hebat. Kehebatan itu bahkan masih terasa hingga berabad-abad setelahnya. Kemal Pasha memang hendak menghilangkan memori bangsa Turki dari kegemilangan Usmani. Akan tetapi, usaha itu sia-sia. Tidak ada kebanggaan bangsa Turki Muslim selain mereka pernah memiliki al-Fatih dan mereka pernah memiliki sejarah Usmani. Oleh sebab itu, usaha-usaha yang dilakukan oleh Erbakan dan Erdogan untuk menghidupkan kembali inspirasi sejarah Usmani dalam jiwa rakyat Turki dan kaum Muslim di seluruh dunia di masa yang akan datang dapat menjadi cambuk yang akan sangat kuat untuk menghidupkan lagi ghirah umat Islam memperjuangkan kembali kejayaan peradaban Islam.
Sejarah Hubungan Usmani-Indonesia
Hal lain yang menarik dari pejalanan ke Istanbul kali ini adalah diskusi informasi dengan mahasiswa Indonesia yang tengah menempuh S2 dalam bidang sejarah di Universitas Mimar Sinan Guzel Sanatlar Istanbul. Sebelumnya ikhwan kita-kita ini berkuliah di Universitas al-Azhar Kairo Mesir. Yang menarik dari diskusi kecil kami adalah risetnya yang cukup menarik, yaitu hubungan Indonesia-Usmani. Ia mengambil spesifiksi abad ke-16 sampai 18. Ini berarti di Indonesia bertepatan dengan zaman Kerajaan Aceh Darussalam, Kerajaan Demak (kemudian Mataram), Kerajaan Cirebon dan Kerajaan Banten.
Menurut informasi dari ikhwan kita ini, di Istanbul tersimpan sangat baik arsip-arsip mengenai hubungan Turki dengan kerajaan-kerajaan Islam di Indonesia seperti Aceh, Demak dan sebagainya. Ia bahkan telah mengkopi lebih dari 800 lembar arsip untuk studinya. Itupun tidak semua digunakan. Hanya saja, arsip yang masih sangat langka dipelajari di Indonesia ini sangat penting untuk didokumetasi sehingga kita dapat mengetahui bagaimana pola hubungan Turki Usmani yang dianggap sebagai pusat kekhalifahan Islam dengan kerajaan-kerajaan Islam lain yanga jarakanya berjauhan. Pola hubungan ini sangat penting dipelajari karena beberapa alasan.
Pertama, selama ini banyak yang memperjuangkan tegaknya kembali kekhalifahan Islam setelah Kekhalifahan Turki Usmani dihapuskan sepenuhnya oleh Mustafa Kemal tahun 1924. Akan tetapi, yang tidak mengerti sesungguhnya bagaimana model yang disebut “kekhalifahan” Islam yang dianggap hilang tahun 1924 itu? Apakah modelnya seperti suatu negara kesatuan yang seluruh wilayahnya dikontrol secara ketat dari pusat? Atau modelnya seperti negara federal yang memungsikan pusat pengatur umum, sementara masing-masing wilayah mengatur urusan internal masing-masing? Atau seperti sebuah konfederasi yang memberikan kewenangan penuh kepada wilayah kekuasaan masing-masing, sementara pusat hanya berperan sebagai simbol? Model-model ini hingga saat ini, sekalipun dapat dipelajari dengan baik melalui penginggalan sejarah kekhalifahan Islam sejak zaman abu Bakar hingga Sultan Abdul Hamid II, namun masih tetap merupakan perkara yang kabur sehingga perjuangan menegakkan khilafah masih sangat absurd hingga saat ini. Dengan dipelajarinya model hubungan Indonesia-Usmani ini akan memperjelas bagaimana model kekhalifahan itu sesungguhnya di masa lalu.
Kedua, diketahuinya model hubungan dalam kekuasaan kekhalifahan Islam inin akan memberikan insight yang lebih positif, strategis dan taktis bagi mereka yang memperjuangkan tegaknya khilafah Islam. Selama ini perjuangan khilafah banyak “diejek” dan dianggap sebelah mata karena konsepnya yang tidak applicable dan cenderung absurd. Sebabnya adalah ketidakpahaman terhadap tealitas sejarah pelaksanaan khilafah pada setiap masa dan hubungannya dengan kekuasaan Islam yang menyebar ke berbagai penjuru dunia, termasuk ke Indonesia. Seandainya dapat dijelaskan dengan baik bagaimana hubungan Aceh-Usmani saat itu, misalnya, kita akan mengerti bagaimana posisi masing-masing. Setelah itu, kita dapat menilai apakah hubungan itu ideal atau tidak dalam konteks penegakkan politik Islam. Selain itu, dalam konteks Indonesia hari ini kita juga dapat dipirkirkan bagaimana cara paling kontekstual untuk membangkitkan kembali kekhalifahan Islam.
Ketiga, memahami hubungan Usmani dengan kerajaan Indonesia juga akan semakin membuat kita paham apa yang membuat berbagai kerajaan mau menjadi bagian dari kekhalifahan dan bagaimana akhirnya kekhalifahan ini diabaikan. Sebab, sejarah kekhalifahan Islam sesungguhnya sangat dinamis. Adakalanya ia kuat dan sangat disegani baik oleh kawan maupun lawan. Namun, berkali-kali kekuasaan kekhalifahan ini hancur dan kemudian berpindah dari satu penguasa ke penguasa lain dengan istilah yang sama, yaitu khalifah sejak zaman Umawiyah, Abbasiyah, Mamluk, Ayyubiyah hingga Usmaniyah. Mempelajari bagian ini akan memberikan pelajaran kepada kita faKtor-faktor konstruktif apa yang harus ada terlebih dahulu sebelum kekuasaan khalifah ditegakkan. Bagian inipun banyak dilupakan oleh para pejuang Khilafah Islam.
Karena pentingnya masalah-masalah di atas, perlu bagi kita mendapat pengetahuan yang objektif berdasarkan fakta-fakta historis tentang apa yang sesungguhnya terjadi dalam kekhalifahan Islam, baik zaman awal maupun zaman Usmani yang lebih dekat dan tersedia data cukup banyak. Oleh sebab itu, diperlukan banyak kader-kader umat Islam yang mempelajari aspek sejarah yang masih cukup gelap ini. Sayang sekali, dari sekitar 200-an mahasiswa Indonesia yang belajar di Istanbul hanya sekitar tiga orang yang khusus belajar sejarah, masing–masing S1, S2 dan S3. Tidak mengherankan kalau masa lalu Islam Indonesia dan hubungan internasionalnya dengan pusat kekuasaan Islam di Turki hingga saat ini masih termasuk “dunia gelap”. Mudah-mudahan di masa yang akan datang banyak yang terinspirasi untuk melakukan studi ini.
Wallâhu A’lam bi al-Shawwâb.
Tiar Anwar Bachtiar (Ketua Umum PP Pemuda Persis)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Arsip Blog