بسم الله الرحمن الرحيم
تَبَارَكَ الَّذِي
بِيَدِهِ الْمُلْكُ وَهُوَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ (1)
الَّذِي خَلَقَ الْمَوْتَ وَالْحَيَاةَ لِيَبْلُوَكُمْ أَيُّكُمْ أَحْسَنُ عَمَلًا
وَهُوَ الْعَزِيزُ الْغَفُورُ [الملك/1،
2]
"Maha
Suci Allah yang di tangan-Nyalah segala kerajaan, dan Dia Maha Kuasa atas
segala sesuatu, Yang menjadikan mati dan hidup, supaya Dia menguji kamu, siapa
di antara kamu yang lebih baik amalnya. Dan Dia Maha Perkasa lagi Maha
Pengampun." [Q.S. Al-Mulk : 1-2]
·
رُوِيَ
عَنِ ابْنِ عُمَرَ –رَضِيَ الله عَنْهُ - مَرْفُوعًا: " أَحْسَنُ عَمَلاً"
أَحْسَنُ عَقْلاً وَأَوْرَعُ عَنْ مَحَارِمِ اللهِ، وَأَسْرَعُ فِي طَاعَةِ اللهِ.
·
وَقَالَ
فُضَيلٍ بْنِ عِيَاضٍ "أَحْسَنُ عَمَلاً" أَخْلَصُهُ وَأَصْوَبُهُ. وَقَالَ:
اَلْعَمَلُ لاَ يُقْبَلُ حَتَّى يَكُونَ خَالِصًا صَوَابًا، اَلْخَالِصُ: إِذَا كَانَ
لله، وَالصَّوَابُ: إِذَا كَانَ عَلَى السُّنَّةِ.
·
وَقَالَ
الْحَسَنُ: أَيُّكُمْ أَزْهَدُ فِي الدُّنْيَا وَأَتْرَكُ لَهَا. تفسير البغوي -
(ج 8
/ ص 173)
·
Diriwayatkan dari Ibnu 'Umar –semoga Allah meridhainya- secara marfû' (sampai kepada Nabi shallallāhu 'alaihi wa sallam), "Bahwa kata-kata: Ashan al-'amal itu
maksudnya adalah sebaik-baik akal (pemikiran), dan seapik-apiknya memelihara
diri dari hal-hal yang diharamkan, dan paling bersegera dalam ketaatan kepada
Allah."
·
Sedangkan Fudhail ibn 'Iyadh berkata, "Ahsan al-'Amal itu
adalah paling ikhlas dan paling benar."
Ia
menjelaskan bahwa sebuah amal itu tidak akan diterima sehingga disertai
keikhlasan dan berdasarkan kebenaran. Ikhlas itu berarti pelaksanaannya
ditujukan hanya untuk Allah, sedangkan makna kebenaran itu ialah jika ia
berlandasan dalil dari Sunnah Rasulullah shallallāhu 'alaihi wa sallam.
·
Al-Hasan berkata, "Maksud ayat ini: ‘Siapakah diantara kalian yang
paling zuhud dan meninggalkan (kesenangan) duniawi.’" (Tafsir
al-Baghawiy, Vol. VIII, hlm. 173 di dalam Maktabah Syâmilah)
عَنْ أَبِي
هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ
عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: قَالَ اللَّهُ تَبَارَكَ وَتَعَالَى: « أَنَا أَغْنَى
الشُّرَكَاءِ عَنْ الشِّرْكِ مَنْ عَمِلَ عَمَلًا أَشْرَكَ فِيهِ مَعِي غَيْرِي
تَرَكْتُهُ وَشِرْكَهُ ». - صحيح مسلم - (ج 14
/ ص 254
رقم الحديث 5300)
Dari Abu Hurairah –semoga Allah
meridhainya- ia berkata, "Rasulullah shallallāhu 'alaihi wa sallam bersabda, 'Allah Tabāraka wa Ta'ālā berfirman, "Aku tidak butuh kepada serikat (sekutu-sekutu). Oleh
sebab itu, siapa yang mengamalkan suatu amal yang ia menyekutukan Aku dengan
selain Diriku dalam amal tersebut, maka Aku akan meninggalkannya beserta
serikatnya.'" [H.R. Muslim]
خَلَقَ
الْمَوْتَ وَالْحَيَاةَ ، ابْتِلاَءً لِلْخَلْقِ ، يَخْتَبِرُهُمْ لِيَظْهَرَ لَهُ
شُكْرَانُهُمْ وَكُفْرَانُهُمْ ، كَيْفَ يَكُونَانِ عِنْدَ الْمِحْنَةِ فِي الصَّبْرِ
وَعِنْدَ النِّعْمَةِ فِي الشُّكْرِ - { وَهُوَ الْعِزِيزُ الْغَفُورُ } . – تفسير
القشيري - (ج 7
/ ص 446)
Allah
telah menciptakan kematian dan kehidupan sebagai ujian bagi makhluk (manusia),
supaya Dia menguji mereka agar tampak rasa syukur atau kufur mereka; bagaimana
kedua sifat itu terjadi ketika ujian berlangsung (apakah dihadapi) dengan
kesabaran, dan ketika mendapat nikmat (apakah dihadapi) dengan rasa syukur?
{Dialah Maha Perkasa lagi Maha Pengampun} (Tafsir al-Qusyairiy, Vol. VII, hlm.
446 di dalam Maktabah Syâmilah)
عَنْ
صَفْوَانَ بْنِ سُلَيْمٍ أَنَّهُ قَالَ: قِيلَ لِرَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ
عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: أَيَكُونُ الْمُؤْمِنُ جَبَانًا؟ فَقَالَ: «
نَعَمْ ».
فَقِيلَ لَهُ: أَيَكُونُ الْمُؤْمِنُ بَخِيلاً ؟ فَقَالَ: «
نَعَمْ ».
فَقِيلَ لَهُ: أَيَكُونُ الْمُؤْمِنُ كَذَّابًا ؟ فَقَالَ: «
لاَ !
». - موطأ مالك - (ج 6
/ ص 131
رقم الحديث 1571)
Dari Shafwan ibn Sulaim, bahwa
ia berkata, "Pernah ditanyakan kepada Rasulullah shallallāhu 'alaihi wa sallam, ‘Apakah seorang mukmin dapat menjadi seorang
penakut?’ Maka beliau menjawab, ‘Ya!’ Kemudian beliau ditanya lagi, ‘Apakah
seorang mukmin bisa menjadi kikir?’ Maka beliau menjawab, ‘Ya!’. Dan beliau
ditanya sekali lagi, ‘Apakah seorang mukmin dapat menjadi seorang pendusta?’
Maka beliau menjawab, ‘Tidak mungkin!’.” [H.R. Malik]
عَنْ أَبِي
هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ، قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ
عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: « لاَ يُؤْمِنُ الْعَبْدُ الْإِيمَانَ كُلَّهُ حَتَّى
يَتْرُكَ الْكَذِبَ فِي الْمُزَاحِ وَالْمِرَاءَ وَإِنْ كَانَ صَادِقًا ».- مسند
أحمد - (ج 17 / ص 453
رقم الحديث 8411)
Dari Abu Hurairah –semoga Allah
meridhainya- ia berkata, "Rasulullah shallallāhu 'alaihi wa sallam bersabda, ‘Tidak akan sempurna iman seorang
hamba, sehingga ia meninggalkan kebohongan –walaupun- hanya sekedar dalam
gurauan, dan menghindari sifat riyā` (pamer, ingin dipuji), sekalipun benar.’" [H.R. Ahmad]
حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ
بْنُ بَشَّارٍ حَدَّثَنَا يَحْيَى بْنُ سَعِيدٍ حَدَّثَنَا بَهْزُ بْنُ حَكِيمٍ
حَدَّثَنِي أَبِي عَنْ جَدِّي قَالَ: سَمِعْتُ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ
وَسَلَّمَ يَقُولُ: « وَيْلٌ لِلَّذِي يُحَدِّثُ بِالْحَدِيثِ لِيُضْحِكَ بِهِ
الْقَوْمَ فَيَكْذِبُ وَيْلٌ لَهُ وَيْلٌ لَهُ ». قَالَ: هَذَا حَدِيثٌ حَسَنٌ - سنن الترمذي - (ج
8
/ ص 292
رقم
الحديث 2237)
Telah
menceritakan kepada kami Muhammad ibn Basysyar, telah menceritakan kepada kami
Yahya ibn Sa'id, telah menceritakan kepada kami Bahzum ibn Hakim, telah
menceritakan kepadaku ayahku, dari kakekku, ia berkata, "Aku telah
mendengar Nabi shallallāhu 'alaihi wa sallam bersabda, ‘Celakalah orang
yang bercerita dusta dengan supaya suatu kaum tertawa karenanya, lalu ia
berdusta, maka celakalah ia celakalah ia!.’" [H.R. Tirmidzi]
عَنْ أَبِي اُمَامَةَ
قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: « أَنَا زَعِيمٌ بِبَيْتٍ
فِي رَبْضِ الْجَنَّةِ لِمَنْ تَرَكَ الْمِرَاءَ وَإِنْ كَانَ مُحِقًّا وَبِبَيْتٍ
فِي وَسَطِ الْجَنَّةِ لِمَنْ تَرَكَ اْلكَذِبَ وَإِنْ كَانَ مَازِحًا وَبِبَيْتٍ
فِي أَعْلَى الْجَنَّةِ لِمَنْ حَسُنَ خُلُقُهُ». -السنن الكبرى للبيهقي - (ج 10
/ ص 249)
Dari Abu Umamah, ia berkata,
"Rasulullah shallallāhu 'alaihi wa sallam bersabda,
'Aku akan menjadi pemimpin rumah pada tengah-tengah Surga bagi orang yang
meninggalkan sifat riyā' walaupun ia
menginginkannya. Dan akan menjadi pemimpin rumah di tengah Surga bagi orang
yang meninggalkan kebohongan walaupun hanya sekedar bergurau, dan akan menjadi
pemimpin rumah di Surga paling atas bagi ornag yang berakhlaq
mulia.'" [H.R. Baihaqiy]
عَنْ
أَبِي الْمَلِيحِ الْهُذَلِيِّ، أَنَّ نِسَاءً مِنْ أَهْلِ حِمْصَ أَوْ مِنْ
أَهْلِ الشَّامِ دَخَلْنَ عَلَى عَائِشَةَ فَقَالَتْ: أَنْتُنَّ اللَّاتِي
يَدْخُلْنَ نِسَاؤُكُنَّ الْحَمَّامَاتِ؟ سَمِعْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ
عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ : «مَا
مِنِ امْرَأَةٍ تَضَعُ ثِيَابَهَا فِي غَيْرِ بَيْتِ زَوْجِهَا إِلَّا هَتَكَتْ
السِّتْرَ بَيْنَهَا وَبَيْنَ رَبِّهَا».
قَالَ
أَبُو عِيسَى: هَذَا حَدِيثٌ حَسَنٌ. سنن الترمذي - (ج 9 / ص 494 رقم الحديث : 2727)، وسنن
أبي داود - (ج 11 / ص 23 رقم الحديث: 3495)، ومسند أحمد - (ج 54 / ص 478 رقم الحديث: 25794)
Dari Abu
al-Malihi al-Hudzaliy, bahwa kaum wanita dari penduduk kota Himsha atau kota
Syam datang kepada 'Aisyah maka ia bertanya, "Apakah kalian
itu orang-orang yang kaum wanitanya suka masuk ke WC? Padahal aku pernah
mendengar Rasulullah shallallāhu 'alaihi wa sallam bersabda, ‘Tidak ada
seorang perempuan pun yang menanggalkan pakaiannya di suatu rumah selain rumah
suaminya, kecuali ia telah menyingkapkan tirai (penutup auratnya) yang
menghalangi antara dirinya dan Tuhannya.'" [H.R. At-Tirmidzi, Abu Daud,
dan Ahmad]
فَقَدْ وَجَدَ فِي رِسَالَةِ
عُمَرَ بْنِ الْخَطَّابِ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ إِلَى أَبِي مُوسَى اْلأَشْعَرِي: عَلَيْكَ
بِالصَّبْرِ وَاعَلَمْ أَنَّ الصَّبْرَ صَبْرَانِ أَحَدُهُمَا أَفْضَلُ مِنَ اْلآخَرِ،
اَلصَّبْرُ فِي الْمُصِيبَاتِ حَسَنٌ وَأَفْضَلُ مِنْهُ الصَّبْرُ عَمَّا حَرَّمَ
اللهُ تَعَالَى. وَاعْلَمْ أَنَّ الصَّبْرَ مَلاَكُ اْلإِيْمَانِ وَذَالِكَ بِأَنَّ
التَّقْوَى أَفْضَلُ الْبِرِّ وَالتَّقْوَى بِالصَّبْرِ. – إحياء علوم الدين - (ج 3
/ ص 164)
Sungguh
telah ada di dalam surat Umar ibn al-Khaththab –semoga Allah meridhainya-
kepada Abu Musa al-Asy'ariy, "Hendaklah kau bersabar! Dan ketahuilah
sesungguhnya kesabaran itu ada dua; salah satunya labih utama daripada yang
lainnya. (Yakni) sabar ketika menerima berbagai cobaan (musibah) itu suatu
kebaikan, tetapi yang lebih utama daripada itu adalah kesabaran (untuk menghindar)
dari perkara yang diharamkan oleh Allah. Ketahuilah! Sesungguhnya kesabaran itu
kerajaan dari keimanan. Hal itu karena Taqwa itu lebih baik daripada kebajikan,
dan Taqwa itu ada karena kesabaran. (al-Ghazali, Ihyā` 'Ulûm al-Din, Vol. III, hal. 164 di dalam Maktabah Syâmilah)
عَنْ
أَبِى ذَرٍّ عَنِ النَّبِىِّ -صلى الله عليه وسلم- قَالَ: « ثَلاَثَةٌ لاَ
يُكَلِّمُهُمُ اللَّهُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ وَلاَ يَنْظُرُ إِلَيْهِمْ وَلاَ
يُزَكِّيهِمْ وَلَهُمْ عَذَابٌ أَلِيمٌ » قَالَ: فَقَرَأَهَا رَسُولُ اللَّهِ -صلى
الله عليه وسلم- ثَلاَثَ مِرَارٍ. قَالَ أَبُو ذَرٍّ : خَابُوا وَخَسِرُوا مَنْ
هُمْ، يَا رَسُولَ اللَّهِ؟ قَالَ: « الْمُسْبِلُ وَالْمَنَّانُ وَالْمُنَفِّقُ
سِلْعَتَهُ بِالْحَلِفِ الْكَاذِبِ ». صحيح مسلم - (ج 1
/ ص 71
رقم 306)
Dari Abi Dzar dari Nabi shallallāhu
‘alaihi wa sallam ia berkata, “Ada tiga golongan yang Allah tidak akan
mengajak berbicara mereka pada hari Kiamat dan tidak pula melihat mereka dan
menyucikan mereka bahkan bagi mereka siksaan yang pedih.” Abu Dzar mengatakan
Rasulullah shallallāhu ‘alaihi wa sallam mengutarakannya tiga kali. Abu
Dzar lalu berkata, “Mereka sungguh celaka dan merugi, siapa mereka itu, ya
Rasulullah?” Maka beliau bersabda, “Orang yang melabuhkan pakaian, orang yang
suka menyebut-nyebutkan kebaikan, dan pedagang yang menjual dagangannya dengan
bersumpah palsu.” (H.R. Muslim)
عَنْ
أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله
عليه وسلم-: « ثَلاَثَةٌ لاَ يُكَلِّمُهُمُ اللَّهُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ وَلاَ
يُزَكِّيهِمْ - قَالَ أَبُو مُعَاوِيَةَ: وَلاَ يَنْظُرُ إِلَيْهِمْ - وَلَهُمْ
عَذَابٌ أَلِيمٌ شَيْخٌ زَانٍ وَمَلِكٌ كَذَّابٌ وَعَائِلٌ مُسْتَكْبِرٌ ». – صحيح مسلم - (ج 1
/ ص 72
رقم 309)
Dari Abu Hurairah – semoga Allah
meridhainya – ia mengatakan, Rasulullah shallallāhu ‘alaihi wa sallam bersabda,
“Ada tiga golongan yang tidak akan diajak berbicara oleh Allah pada hari
Kiamat, dan tidak pula disucikan oleh-Nya.” – Abu Mu’awiyah mengatakan, dan
mereka juga tidak akan dilihat (diperhatikan). – “Dan bagi mereka siksaan yang
pedih, yaitu kakek yang berzina, raja pendusta, dan orang miskin yang sombong.”
(H.R. Muslim).
Wal-Llahu a'lam
Oleh: Syarif Hidayat, Ketua PW. Pemuda Persis Jawa Barat

Tidak ada komentar:
Posting Komentar