Jumat, 07 November 2014

Pengantar Worldview of Islam*

بسم الله الرّحمن الرّحيم
Manusia memiliki cara pandang masing–masing sesuai dengan apa yang difahaminya, lebih-lebih sesuai dengan apa yang diyakininya dalam kehidupan. Berangkat dari pemahan dan keyakinan itu manusia bisa menilai apa yang bisa dilihat ataupun yang tidak bisa dilihat, yang berwujud atau tidak berwujud (metafisika). Disadari ataupun tidak cara pandang inilah yang nantinya akan memengaruhi kehidupan manusia, secara umum dalam bahasa Inggris cara pandangan disebut worldview (pandangan hidup), dalam bahasa Jerman adalah weltanschauung (filsafat hidup) atau weltansicht (pandangan dunia).
Menurut para ahli ada beberapa ta’rif terkait  worldview, diantaranya:
Ä  Ninian Smart mengungkapkan bahwa worldview adalah keyakinan atau kepercayaan dasar dalam pikiran yang menjadi motor bagi keberlangsungan dan perubahan sosial/moral.
Ä  Thomas F. Wall mengemukakan bahwa worldview adalah sistem kepercayaan asas yang integral tentang hakekat diri kita, realitas dan tentang makna eksistensi.
Ä  Prof. Alparslan mengartikan worldview sebagai asas bagi setiap perilaku manusia, termasuk aktifitas-aktifitas ilmiyah dan teknologi. Setiap aktifitas manusia akhirnya dapat dilacak pada pandangan hidupnya dan dalam pengertian itu maka aktifitas manusia dapat direduksi menjadi pandangan hidup.
Dari ta’rif di atas kita bisa memahami bahwa worldview adalah asas penting yang melandasi tingkah laku manusia dalam mengenal, menyamakan dan membedakan atas wujud/realitas sehingga nantinya bisa menjadi identitas manusia itu sendiri. Lebih singkatnya bisa juga disimpulkan worldview adalah ilmu dan amal sebagaimana pernyataan al Ghazali, apa yang diyakini, apa yang harus dikerjakan dan apa yang harus ditinggalkan. Manakala kita punya keinginan merubah masyarakat tentu kita harus merubah cara pandang mereka, merubah paradigma mereka, merubah pandangan hidupnya.
Proses terbentuknya worldview pada individu, melalui pengalaman hidupnya/terdidik oleh lingkungan secara bertahap (budaya, sosial), ada pula yang melalui proses berpikir di sekolah-sekolah atau perguruan tinggi, pendidikan yang diperoleh melalui pengetahuan. Kedua-duanya bisa didapatkan secara bersamaan baik melalui proses berpikir atau pun pengalaman karena keduanya saling berkaitan. Thomas F. Wall mengemukakan elemen pokok pembentuk worldview tidak kurang dari Tuhan, ilmu, realitas, etika, diri dan masyarakat.
Islam mempunyai cara pandang sendiri terhadap segala sesuatu, dalam Islam istilah worldview memiliki beberapa ta’rif yang tujuannya sama, diantaranya menurut:
Ä  al-Maududi, Islami Nazariyat (worldview) adalah pandangan hidup yang dimulai dari konsep keesaan Tuhan (shahadat) yang berimplikasi pada keseluruhan kegiatan kehidupan manusia di dunia. Sebab shahadat adalah pernyataan moral yang mendorong manusia untuk melaksanakannya dalam kehidupannya secara menyeluruh.
Ä  Syaikh Atif al-Zayn mengartikan Aqidah Fikriyyah (kepercayaan yang rasional) yang berdasarkan pada akal. Sebab setiap Muslim wajib beriman kepada hakekat wujud Allah, kenabian Muhammad saw. dan kepada al-Qur`an dengan akal. Iman kepada hal-hal yang ghaib itu berdasarkan cara penginderaan yang diteguhkan oleh akal sehingga tidak dapat dipungkiri lagi. Iman kepada Islam sebagai Din yang diturunkan melalu Nabi Muhammad saw. untuk mengatur hubungan manusia dengan Tuhan, dengan dirinya dan lainnya.
Ä  Sayyid Qutb mengartikan al-Tasawwur al-Islami, sebagai akumulasi dari keyakinan asasi yang terbentuk dalam pikiran dan hati setiap muslim, yang memberi gambaran khusus tentang wujud dan apa-apa yang terdapat dibalik itu.
Ä  Prof. al-Attas mengartikan worldview Islam adalah pandangan Islam tentang realitas dan kebenaran yang nampak oleh mata hati kita dan yang menjelaskan hakekat wujud; oleh karena apa yang dipancarkan Islam adalah wujud yang total maka worldview Islam berarti pandangan Islam tentang wujud (ru’yaat al-Islam li al-Wujud) (ICLIF, 2).
Ta’rif di atas telah cukup baik menggambarkan karakter Islam sebagai suatu pandangan hidup yang membedakannya dengan pandangan hidup lain. Namun, jika kita kaji keseluruhan pemikiran dibalik definisi para ulama tersebut kita dapat beberapa orientasi yang berbeda. Al-Maududi lebih mengarahkan kepada kekuasaan Tuhan yang mewarnai segala aktifitas kehidupan manusia, yang berimplikasi politik. Syaikh Atif al-Zayn dan Sayyid Qutb lebih cenderung mamahaminya sebagai seperangkat doktrin kepercayaan yang rasional yang implikasnya adalah ideologi. Prof. al-Attas lebih cenderung kepada makna metafisis dan epistemologis.
Berbeda dengan cara pandang Barat, dalam Islam segalanya dijarkan terlebih dahulu oleh Allah swt. kemudian melihat realitas sedangkan di Barat melihat dulu realitas kemudian menyimpulkan atau membuat teori, hal ini tentu sangat bertentangan dengan Islam. Dr. Hamid Fahmy Zarkasyi menggambarkan elemen pandangan Alam Islam diantaranya,

Up-Down Arrow: Hukum

Up-Down Arrow: Teknologi 















Dari bagan di atas tampak jelas alur pandangan alam Islam, semuanya saling terhubung satu sama lain, karena dalam Islam segala sesuatunya mempunyai nilai ibadah bagi hamba-hamba-Nya.
Beberapa karakter pandangan alam Islam:
  • Segala terpusat pada Allah swt., ini adalah alasan segala hal, bukan hasil dari olah pikir sangat jelas karena orientasinya adalah ibadah, bagaimana mungkin kita beribadah tanpa mempunyai keyakinan dan terpusat pada-Nya.
  • Pengakuan wujud fisik dan metafisik, dalam Islam mengakui wujud fisik dan metafisik karena berdasarkan keimanan.
  • Bersifat tauhidik bukan dikotomi, tidak mengenal dikotomi yang mempertentangkan satu aspek dengan aspek lainnya seperti:
Dunia vs Akhirat
Tekstual vs Kontekstual
Objektif vs Subjektif
Sunstansial vs Bentuk
Wahyu vs Sains
Ibadah (ritual) vs Mu’amalah (sosial)
Kedua-duanya dalam Islam diakui dan harus saling bergandengan karena tidak bisa dipisahkan jika terjadi pemisahan tentu itu bukan yang diajarkan Islam melainkan ajaran secular, serta harus seimbang karena dunia hanya sebatas wasilah untuk sampai pada akhirat.
  • Dasarnya wahyu bukan spekulasi filosofis, Islam bersumber dari ajaran wahyu, al-Qur`an dan as-Sunnah, dalam hal ini akal berfungsi untuk memahami bukan mempertentangkan atau bahkan mengkritiknya karena semua pandangan alam Islam masuk akal, meskipun tidak selalu berarti rasional.
  • Final, sebagaimana firman Allah swt. dalam QS. al Maidah ayat 3,
..الْيَوْمَ أَكْمَلْتُ لَكُمْ دِينَكُمْ وَأَتْمَمْتُ عَلَيْكُمْ نِعْمَتِي وَرَضِيتُ لَكُمُ الْإِسْلَامَ دِينًا..
“..pada hari ini telah Kusempurnakan untuk kamu agamamu, dan telah Ku-cukupkan kepadamu nikmat-Ku, dan telah Ku-ridhai Islam itu jadi agama bagimu..“
Dari keterangan di atas sangat jelas bahwa Islam adalah agama final, dalam artian tidak berubah karena bersifat metahistoris, atau melintasi jaman, senantiasa up to date dan mature (dewasa), selalu sesuai dengan keadaan dan tempat, juga deevolutif bukan evolutif, selalu merujuk pada kehidupan Rasulullah saw. dan para sahabatnya di masa silam.
Perlu diketahui bersama istilah tajdid atau pembaruan dalam Islam bukan berarti membuat baru, tetapi pemurnian kepada awal yang benar walaupun pada zaman modern dalam substansinya. Seringkali ada segelintir orang yang belum faham akan hal ini, semoga kita semua bisa mengambil hikmah dari pembelajaran kali ini.
Wal-‘Llahu a’lam
*Oleh: Ade Rully Nasrulloh, Mahasiswa Institut Pemikiran Islam dan Pembangunan Insan, PIMPIN Bandung

Arsip Blog