Konsep
Ilmu dalam Islām[1]
A. Pentingnya Ilmu
·
Karena ilmu manusia dimulyakan, sebagaimana Allāh swt.
berfirman dalam Surat al Baqarah: 33-34,
قَالَ يَا آدَمُ
أَنْبِئْهُمْ بِأَسْمَائِهِمْ فَلَمَّا أَنْبَأَهُمْ بِأَسْمَائِهِمْ قَالَ أَلَمْ
أَقُلْ لَكُمْ إِنِّي أَعْلَمُ غَيْبَ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ وَأَعْلَمُ مَا
تُبْدُونَ وَمَا كُنْتُمْ تَكْتُمُونَ، وَإِذْ قُلْنَا لِلْمَلَائِكَةِ اسْجُدُوا
لِآدَمَ فَسَجَدُوا إِلَّا إِبْلِيسَ أَبَى وَاسْتَكْبَرَ وَكَانَ مِنَ
الْكَافِرِينَ
Allāh berfirman:
"Hai Adam, beritahukanlah kepada mereka nama-nama benda ini." Maka
setelah diberitahukannya kepada mereka nama-nama benda itu, Allāh berfirman:
"Bukankah sudah Ku katakan kepadamu, bahwa Sesungguhnya Aku mengetahui
rahasia langit dan bumi dan mengetahui apa yang kamu lahirkan dan apa yang kamu
sembunyikan?" Dan
(Ingatlah) ketika kami berfirman kepada para malaikat: "Sujudlah[2]
kamu kepada Adam," Maka sujudlah mereka kecuali Iblis; ia enggan dan
takabur dan adalah ia termasuk golongan orang-orang yang kafir.
·
Begitupula segala
perkataan dan perbuatan harus berdasarkan ilmu, Allāh swt. menerangkan
dalam surat al Isrā`: 36,
وَلَا تَقْفُ مَا لَيْسَ لَكَ بِهِ عِلْمٌ إِنَّ السَّمْعَ وَالْبَصَرَ
وَالْفُؤَادَ كُلُّ أُولَئِكَ كَانَ عَنْهُ مَسْئُولًا
Dan
janganlah kamu mengikuti apa yang kamu tidak mempunyai pengetahuan tentangnya.
Sesungguhnya pendengaran, penglihatan dan hati, semuanya itu akan diminta
pertanggungan jawabnya.
·
Derajat manusia juga
ditentukan dengan ilmu yang dimilikinya, Allāh swt. menegaskan dalam
surat az Zumar: 9,
…قُلْ هَلْ يَسْتَوِي الَّذِينَ يَعْلَمُونَ وَالَّذِينَ لَا يَعْلَمُونَ
إِنَّمَا يَتَذَكَّرُ أُولُو الْأَلْبَابِ
…katakanlah: "Adakah
sama orang-orang yang mengetahui dengan orang-orang yang tidak mengetahui?"
Sesungguhnya orang yang berakAllāh yang dapat menerima pelajaran.
·
Keimanan seseorang harus
berdasarkan ilmu, bukan berdasarkan
dogma-dogma yang berlaku di masyarakat, tergambar jelas dalam surat āli ‘Imrān:
18,
شَهِدَ اللَّـهُ أَنَّهُ لَا إِلَهَ إِلَّا هُوَ وَالْمَلَائِكَةُ
وَأُولُو الْعِلْمِ قَائِمًا بِالْقِسْطِ لَا إِلَهَ إِلَّا هُوَ الْعَزِيزُ
الْحَكِيمُ
Allāh
menyatakan bahwasanya tidak ada Tuhan melainkan dia (yang berhak disembah),
yang menegakkan keadilan. para malaikat dan orang-orang yang berilmu[3]
(juga menyatakan yang demikian itu). tak ada Tuhan melainkan dia (yang berhak
disembah), yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.
·
Banyaknya keutamaan bagi
orang yang berilmu, penuntut ilmu dan pengajar ilmu itu sendiri
·
Nabi saw. sendiri memerintahkan umatnya untuk
senantiasa mencari ilmu
Mari kita cermati kembali perkataan
sahabat Ali Ibn Abi Thalib ra. terkait ilmu, berliau mengatakan:
Ilmu lebih baik daripada harta, oleh
karena harta kita yang menjaganya, sedang ilmu yang akan menjaga kita, harta
akan lenyap jika dibelanjakan sedangkan ilmu akan berkembang jika diinfakkan,
ilmu adalah penguasa, harta adalah yang dikuasai, telah mati para penyimpan
harta padahal mereka masih hidup, sementara ulama tetap hidup sepanjang masa.
·
Dalam al Qur`ān ada sekitar 750 dari 78.000 kosa kata
(1%) yang merupakan kata ilmu atau turunannya.
·
Menurut Rosenthal,
terdapat 120 definisi ilmu di dalam tradisi keilmuan Islam, sampai-sampai dia
mengatakan bahwa Islam adalah peradaban ilmu.
B. Masalah
Kekeliruan Ilmu
Seringkali
kita bingung merinci-kan kekeliruan ilmu itu sendiri, bisa jadi karena kita
tidak faham apa sebenarnya benang merah dari kekeliruan ilmu itu sendiri, berikut
saya paparakan menurut al Attas:
- Pangkal kemunduran ilmu
- Kekeliruan ilmu bukan kurangnya ilmu, tetapi salah ilmu
(sesat)
- Penyebab meresapnya paradigma keilmuan Barat (westernisasi)
sehingga menjadi problem epistemology ilmu itu sendiri
- Indikasinya, terjadi split personality
(kepribadian ganda), agama Islām tetapi berpikir dan bertindak tidak
secara Islām (terbaratkan)
Sebagai contoh:
-
Muslim mendukung Liberalisme, sebaliknya benci dengan
syari’at
-
Dalam mempelajari ilmu umum, agama (Islām) diasingkan
-
Pendidikan berbasis sekular
-
Muslim Humanis yang artinya muslim harus bersifat
kemanusiaan (anti Tuhan), Muslim (berdasarkan wahyu), Humanis (berdasarkan
rasio) yang menjadikan manusia sebagai poros kebenaran
-
Negara Barat lebih islami dibanding Negara muslim sendiri,
pernyataan seperti ini tidak benar, karena bukan hanya sebatas perilaku
adopsinya saja, tetapi harus berdasarkan pada keilmuan Islām dengan lebih awal
meyakini Allāh
swt. sebagai satu-satunya Rabb yang harus disembah, jadi jelas ungkapan
Negara Barat lebih islami tidak bisa dibenarkan
-
Inferiority complex
atau yang kita sebut dengan rendah diri
- Wahyu bukanlah ilmu, terutama menurut pandangan ilmu
umum
- Hanya metode scientific yang sah (scientism)
sebagai tolak ukurnya sehingga kebenaran dibatasi pada yang bersifat factual
(rasional dan faktual)
- Ilmu menambah keraguan (relativisme, skeptivisme dan
agnotikisme)
- Ilmu hanya untuk tujuan
pragmatis atau yang sifatnya ekonomi
- Penyamarataan derajat ilmu; adalah problem klasifikasi
ilmu (ilmu fardlu a’in, fardlu kifayah dan bukan fardlu)
C. Makna Kebodohan
Seringkali
kita memahami kebodohan itu hanyalah sebatas ketidaktahuan semata, padahal
sejatinya lebih dari sekedar ketidak tahuan, jika sebatas itu bisa diatasi
dengan belajar. Kebodohan terbagi dua bagian,
1. Kebodohan ringan,
ketidaktahuan terhadap sesuatu yang seharusnya diketahui, penanganannya bisa
diatasi dengan pengajaran atau pendidikan
2. Kebodohan berat,
a. adalah keyakinan
yang salah terhadap suatu fakta atau realita
b. meyakini sesuatu
yang berbeda dengan sesuatu itu
c. melakukan sesuatu
tidak sebagaimana mestinya
→ Kebodohan dikatakan berat
karena pihak yang bodoh merasa tahu sehingga menolak kebenaran yang nantinya
akan merusak dirinya sendiri
D. Perihal
Netralitas Ilmu
Bahwa
sejatinya ilmu tidak netral, kita harus mengetahui dan menyadari bahwa
sebenarnya ilmu tidak netral, bahwa setiap kebudayaan memiliki pemahaman yang
berbeda mengenainya –meskipun diantara keduanya terdepat persamaan[4]
-
Karena dibentuk oleh pandangan hidup, agama kebudayaan
pendidikan dan lainnya
-
Ilmu ada dalam pikiran karenanya fakta bukanlah ilmu, fakta
menjadi ilmu jika ia dimengerti
-
Dikatakan sains ilmu netral karena prilaku dan akal terlihat
sama bagi siapapun, misalnya batu yang jatuh ke tanah dengan kecepatan 10 km/s
akan terlihat sama bagi siapapun, tidak bergantung agamanya apa, bukan hanya
kausalitas
-
Dalam hal ini sama, tetapi ada makna yang berbeda ketika
dikaitkan dengan objek lain. Dalam kaitannya dengan Tuhan dalam pandangan sekular
segala kejadian alam tidak dimaknai adanya peranan Tuhan
-
Penguatan dengan Tuhan akan melahirkan dampak yang berkaitan
dengan perkembangan ilmu
E. Hilang atau
Tiadanya Adab
Hilang atau
rusaknya Adab akan melahirkan pemimpin yang palsu/ rusak & pemimpin yang
rusak akan melahirkan kebingungan ilmu & kekeliruan ilmu. Begitulah
seterusnya lingkaran setan berputar
- Kekeliruan ilmu, hilangnya adab dan lahirnya pemimpin
palsu adalah siklus yang akan terjadi kecuali ada upaya pemutusan rantai
siklus ini
- Caranya dengan membetulkan kekeliruan ilmu, tetapi
membetulkannya harus dimulai dengan adab yang benar dalam menutut ilmu,
misalnya meluruskan kembali tujuan ilmu yaitu untuk mengenal dan mengabdi
kepada Allāh
swt. jika tidak, siklus ini akan terus berjalan dan tak bisa
diputuskan
F. Makna Adab
Adab
adalah disiplin pikiran & tindakan pengenalan
(ilmu) & pengakuan (amal) atas tempat yang tepat bagi seseorang dalam
hubungannya dengan segala sesuatu. Terjadinya adab pada diri seseorang dan pada
masyarakat sebagai suatu keseluruhan yang mencerminkan kondisi keadilan.
Hilangnya adab menyiratkan hilangnya keadilan, yang pada gilirannya menampakkan
kebingungan atau kekeliruan dalam ilmu. Dalam hubungannya dengan masyarakat dan
umat, kebingungan dalam ilmu tentang Islām dan pandangan alam (worldview)
Islām menciptakan keadaan yang memungkinkan pemimpin-peminpin palsu muncul dan
berkembang serta menimbulkan ketidakadilan[5]
sebagaimana tergambar dalam siklus di atas.
Adab itu suatu keadaan dimana segala
sesuatu pada tempatnya (sama dengan adil). Artinya Adab dengan Adil merupakan
Sinonim, ada 6 Adab yang bisa kita fahami diantaranya:
|
Ä Adab
kepada Allāh swt.
|
Ä Adab
kepada Ilmu (mencarinya)
|
|
Ä Adab
kepada Rasulullāh saw.
|
Ä Adab
kepada Diri sendiri
|
|
Ä Adab
kepada Manusia lainnya
|
Ä Adab
kepada Alam (memperlakukan dengan baik)
|
G. Adab
dan Keadilan
Keadilan adalah suatu keadaan dimana
segala sesuatu berada di tempat yang seharusnya (….sesuai dengan kebijaksanaan
Tuhan). Keadilan dalam Islām bukanlah konsep yang merujuk
kepada keadaan hubungan dua orang atau keadaan hubungan dua pihak, seperti satu
orang dengan yang lain atau antara masyarakat dengan Negara; atau antara
pemerintah dan rakyat atau antara raja dan warganya. Seperti disinggung di
atas, keadilan dalam Islām lebih dari itu[6].
H. Golongan Anti Ilmu (Sofisme)
Golongan anti ilmu atau Sofisme
ini bisa kita fahami karena mereka keliru, salah bahkan menolak kebenaran yang
Allāh swt. tunjukan, terdapat tiga golongan yang anti terhadap ilmu;
- Golongan relativis
(al ‘indiyah)
Golongan
ini sebagaimana namanya diambil dari kalimat ‘indi yang artinya menurut
saya, jadi segala sesuatu dipandang berdasarkan pandangannya sendiri, orang
tidak bisa menyalahkan karena salah dan benar ukurannya tergantung setiap
pandangan orang dalam artian kebenaran adalah semu, sebagai contoh:
-
Kebenaran itu ditentukan
oleh siapa yang berbicara, biasanya juga terkait waktu dan tempat
-
Protagoras mengatakan:
tidak ada pendapat yang lebih benar dari…
- Agnostic (lā adri)
Golongan
ini dinamai lā adri yang berarti saya tidak tahu, lebih jauhnya
kebanaran itu tidak dapat diketahui, contohnya Gorgias mengatakan bahwa:
Tidak
ada sesuatupun yang wujud (exist) kalaupun ada ia tidak dapat diketahui,
kalaupun dapat diketahui ia tidak bisa disampaikan.
- Nihilis (inādi)
Golongan ini dinamakan nihilis karena mereka
menolak (inādi) segala
realitas yang ada, mereka menyatakan bahwa;
-
Kebenaran itu tidak ada
-
Tuhan tidak ada, adanya Tuhan hanyalah sebuah
ilusi oarng tertindas
I.
Indikasi Sofisme dalam Sendi-sendi
Kehidupan Modern
Sebagaimana
kita ketahui bahwa golongan sofieme atau anti ilmu sangat bertentangan dengan
ajaran Islām, mereka tidak menyakini adanya kebenaran
kalaupun ada itu hanyalah relative dan tidak bisa memaksakan kebenaran pada
orang lain, dianta indikasinya adalah:
Ä
Menguatnya Atheisme dan Skeptivisme, kebenaran
Tuhan tidak dapat dibuktikan
Ä
Relativisme nilai dan moral
Ä
Pluralisme agama
Ä
Feminisme muslim, diperlukannya pembuatan tafsir
al Qur`ān versi feminisme
atau menurut pemikiran wanita
Ä
Menguatnya kecenderungan untuk berdebat dalam menentukan
kebenaran terhadap suatu masalah (hipokrit), yang dikatan benar adalam mereka
yang mampu dan pandai berpidato dan berretorika dengan baik
Ä
Penyamarataan kedudukan manusia tanpa
memperhatikan kedalaman ilmu masing-masing pihak
Wal-‘Llāhu
a’lam
[1] Pertemuan ke- 06 kuliah Worldview of
Islām 13 Desember 2014 di kampus UNIKOM Bandung bersama Dr. Wendi
Zarman, M.Si
[2] Sujud di sini berarti menghormati dan memuliakan
Adam, bukanlah berarti sujud memperhambakan diri, Karena sujud memperhambakan
diri itu hanyalah semata-mata kepada Allāh swt.
[3] ayat ini
untuk menjelaskan martabat orang-orang berilmu
[4] al Attas, ar Risalah

Tidak ada komentar:
Posting Komentar