Senin, 09 Maret 2015

Konsep Ilmu dalam Islam


Konsep Ilmu dalam Islām[1]
A.   Pentingnya Ilmu
·         Karena ilmu manusia dimulyakan, sebagaimana Allāh swt. berfirman dalam Surat al Baqarah: 33-34,
قَالَ يَا آدَمُ أَنْبِئْهُمْ بِأَسْمَائِهِمْ فَلَمَّا أَنْبَأَهُمْ بِأَسْمَائِهِمْ قَالَ أَلَمْ أَقُلْ لَكُمْ إِنِّي أَعْلَمُ غَيْبَ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ وَأَعْلَمُ مَا تُبْدُونَ وَمَا كُنْتُمْ تَكْتُمُونَ، وَإِذْ قُلْنَا لِلْمَلَائِكَةِ اسْجُدُوا لِآدَمَ فَسَجَدُوا إِلَّا إِبْلِيسَ أَبَى وَاسْتَكْبَرَ وَكَانَ مِنَ الْكَافِرِينَ
Allāh berfirman: "Hai Adam, beritahukanlah kepada mereka nama-nama benda ini." Maka setelah diberitahukannya kepada mereka nama-nama benda itu, Allāh berfirman: "Bukankah sudah Ku katakan kepadamu, bahwa Sesungguhnya Aku mengetahui rahasia langit dan bumi dan mengetahui apa yang kamu lahirkan dan apa yang kamu sembunyikan?" Dan (Ingatlah) ketika kami berfirman kepada para malaikat: "Sujudlah[2] kamu kepada Adam," Maka sujudlah mereka kecuali Iblis; ia enggan dan takabur dan adalah ia termasuk golongan orang-orang yang kafir.
·         Begitupula segala perkataan dan perbuatan harus berdasarkan ilmu, Allāh swt. menerangkan dalam surat al Isrā`: 36,
وَلَا تَقْفُ مَا لَيْسَ لَكَ بِهِ عِلْمٌ إِنَّ السَّمْعَ وَالْبَصَرَ وَالْفُؤَادَ كُلُّ أُولَئِكَ كَانَ عَنْهُ مَسْئُولًا
Dan janganlah kamu mengikuti apa yang kamu tidak mempunyai pengetahuan tentangnya. Sesungguhnya pendengaran, penglihatan dan hati, semuanya itu akan diminta pertanggungan jawabnya.
·         Derajat manusia juga ditentukan dengan ilmu yang dimilikinya, Allāh swt. menegaskan dalam surat az Zumar: 9,
قُلْ هَلْ يَسْتَوِي الَّذِينَ يَعْلَمُونَ وَالَّذِينَ لَا يَعْلَمُونَ إِنَّمَا يَتَذَكَّرُ أُولُو الْأَلْبَابِ
…katakanlah: "Adakah sama orang-orang yang mengetahui dengan orang-orang yang tidak mengetahui?" Sesungguhnya orang yang berakAllāh yang dapat menerima pelajaran.
·         Keimanan seseorang harus berdasarkan ilmu, bukan  berdasarkan dogma-dogma yang berlaku di masyarakat, tergambar jelas dalam surat āli ‘Imrān: 18,

شَهِدَ اللَّـهُ أَنَّهُ لَا إِلَهَ إِلَّا هُوَ وَالْمَلَائِكَةُ وَأُولُو الْعِلْمِ قَائِمًا بِالْقِسْطِ لَا إِلَهَ إِلَّا هُوَ الْعَزِيزُ الْحَكِيمُ
Allāh menyatakan bahwasanya tidak ada Tuhan melainkan dia (yang berhak disembah), yang menegakkan keadilan. para malaikat dan orang-orang yang berilmu[3] (juga menyatakan yang demikian itu). tak ada Tuhan melainkan dia (yang berhak disembah), yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.
·         Banyaknya keutamaan bagi orang yang berilmu, penuntut ilmu dan pengajar ilmu itu sendiri
·         Nabi saw. sendiri memerintahkan umatnya untuk senantiasa mencari ilmu
Mari kita cermati kembali perkataan sahabat Ali Ibn Abi Thalib ra. terkait ilmu, berliau mengatakan:
Ilmu lebih baik daripada harta, oleh karena harta kita yang menjaganya, sedang ilmu yang akan menjaga kita, harta akan lenyap jika dibelanjakan sedangkan ilmu akan berkembang jika diinfakkan, ilmu adalah penguasa, harta adalah yang dikuasai, telah mati para penyimpan harta padahal mereka masih hidup, sementara ulama tetap hidup sepanjang masa.
·         Dalam al Qur`ān ada sekitar 750 dari 78.000 kosa kata (1%) yang merupakan kata ilmu atau turunannya.
·         Menurut Rosenthal, terdapat 120 definisi ilmu di dalam tradisi keilmuan Islam, sampai-sampai dia mengatakan bahwa Islam adalah peradaban ilmu.
B.   Masalah Kekeliruan Ilmu
Seringkali kita bingung merinci-kan kekeliruan ilmu itu sendiri, bisa jadi karena kita tidak faham apa sebenarnya benang merah dari kekeliruan ilmu itu sendiri, berikut saya paparakan menurut al Attas:
  • Pangkal kemunduran ilmu
  • Kekeliruan ilmu bukan kurangnya ilmu, tetapi salah ilmu (sesat)
  • Penyebab meresapnya paradigma keilmuan Barat (westernisasi) sehingga menjadi problem epistemology ilmu itu sendiri
  • Indikasinya, terjadi split personality (kepribadian ganda), agama Islām tetapi berpikir dan bertindak tidak secara Islām (terbaratkan)
Sebagai contoh:
-          Muslim mendukung Liberalisme, sebaliknya benci dengan syari’at
-          Dalam mempelajari ilmu umum, agama (Islām) diasingkan
-          Pendidikan berbasis sekular
-          Muslim Humanis yang artinya muslim harus bersifat kemanusiaan (anti Tuhan), Muslim (berdasarkan wahyu), Humanis (berdasarkan rasio) yang menjadikan manusia sebagai poros kebenaran
-          Negara Barat lebih islami dibanding Negara muslim sendiri, pernyataan seperti ini tidak benar, karena bukan hanya sebatas perilaku adopsinya saja, tetapi harus berdasarkan pada keilmuan Islām dengan lebih awal meyakini Allāh swt. sebagai satu-satunya Rabb yang harus disembah, jadi jelas ungkapan Negara Barat lebih islami tidak bisa dibenarkan
-          Inferiority complex atau yang kita sebut dengan rendah diri
  • Wahyu bukanlah ilmu, terutama menurut pandangan ilmu umum
  • Hanya metode scientific yang sah (scientism) sebagai tolak ukurnya sehingga kebenaran dibatasi pada yang bersifat factual (rasional dan faktual)
  • Ilmu menambah keraguan (relativisme, skeptivisme dan agnotikisme)
  • Ilmu hanya untuk tujuan pragmatis atau yang sifatnya ekonomi
  • Penyamarataan derajat ilmu; adalah problem klasifikasi ilmu (ilmu fardlu a’in, fardlu kifayah dan bukan fardlu)
C.   Makna Kebodohan
Seringkali kita memahami kebodohan itu hanyalah sebatas ketidaktahuan semata, padahal sejatinya lebih dari sekedar ketidak tahuan, jika sebatas itu bisa diatasi dengan belajar. Kebodohan terbagi dua bagian,
1.       Kebodohan ringan, ketidaktahuan terhadap sesuatu yang seharusnya diketahui, penanganannya bisa diatasi dengan pengajaran atau pendidikan
2.       Kebodohan berat,
a.       adalah keyakinan yang salah terhadap suatu fakta atau realita
b.       meyakini sesuatu yang berbeda dengan sesuatu itu
c.       melakukan sesuatu tidak sebagaimana mestinya
Kebodohan dikatakan berat karena pihak yang bodoh merasa tahu sehingga menolak kebenaran yang nantinya akan merusak dirinya sendiri
D.  Perihal Netralitas Ilmu
Bahwa sejatinya ilmu tidak netral, kita harus mengetahui dan menyadari bahwa sebenarnya ilmu tidak netral, bahwa setiap kebudayaan memiliki pemahaman yang berbeda mengenainya –meskipun diantara keduanya terdepat persamaan[4]
-          Karena dibentuk oleh pandangan hidup, agama kebudayaan pendidikan dan lainnya
-          Ilmu ada dalam pikiran karenanya fakta bukanlah ilmu, fakta menjadi ilmu jika ia dimengerti
-          Dikatakan sains ilmu netral karena prilaku dan akal terlihat sama bagi siapapun, misalnya batu yang jatuh ke tanah dengan kecepatan 10 km/s akan terlihat sama bagi siapapun, tidak bergantung agamanya apa, bukan hanya kausalitas
-          Dalam hal ini sama, tetapi ada makna yang berbeda ketika dikaitkan dengan objek lain. Dalam kaitannya dengan Tuhan dalam pandangan sekular segala kejadian alam tidak dimaknai adanya peranan Tuhan
-          Penguatan dengan Tuhan akan melahirkan dampak yang berkaitan dengan perkembangan ilmu
E.   Hilang atau Tiadanya Adab
Hilang atau rusaknya Adab akan melahirkan pemimpin yang palsu/ rusak & pemimpin yang rusak akan melahirkan kebingungan ilmu & kekeliruan ilmu. Begitulah seterusnya lingkaran setan berputar




 






  • Kekeliruan ilmu, hilangnya adab dan lahirnya pemimpin palsu adalah siklus yang akan terjadi kecuali ada upaya pemutusan rantai siklus ini
  • Caranya dengan membetulkan kekeliruan ilmu, tetapi membetulkannya harus dimulai dengan adab yang benar dalam menutut ilmu, misalnya meluruskan kembali tujuan ilmu yaitu untuk mengenal dan mengabdi kepada Allāh swt. jika tidak, siklus ini akan terus berjalan dan tak bisa diputuskan
F.    Makna Adab
Adab adalah disiplin pikiran & tindakan pengenalan (ilmu) & pengakuan (amal) atas tempat yang tepat bagi seseorang dalam hubungannya dengan segala sesuatu. Terjadinya adab pada diri seseorang dan pada masyarakat sebagai suatu keseluruhan yang mencerminkan kondisi keadilan. Hilangnya adab menyiratkan hilangnya keadilan, yang pada gilirannya menampakkan kebingungan atau kekeliruan dalam ilmu. Dalam hubungannya dengan masyarakat dan umat, kebingungan dalam ilmu tentang Islām dan pandangan alam (worldview) Islām menciptakan keadaan yang memungkinkan pemimpin-peminpin palsu muncul dan berkembang serta menimbulkan ketidakadilan[5] sebagaimana tergambar dalam siklus di atas.
Adab itu suatu keadaan dimana segala sesuatu pada tempatnya (sama dengan adil). Artinya Adab dengan Adil merupakan Sinonim, ada 6 Adab yang bisa kita fahami diantaranya:
Ä  Adab kepada Allāh swt.
Ä  Adab kepada Ilmu (mencarinya)
Ä  Adab kepada Rasulullāh saw.
Ä  Adab kepada Diri sendiri
Ä  Adab kepada Manusia lainnya
Ä  Adab kepada Alam (memperlakukan dengan baik)

G.   Adab dan Keadilan
Keadilan adalah suatu keadaan dimana segala sesuatu berada di tempat yang seharusnya (….sesuai dengan kebijaksanaan Tuhan). Keadilan dalam Islām bukanlah konsep yang merujuk kepada keadaan hubungan dua orang atau keadaan hubungan dua pihak, seperti satu orang dengan yang lain atau antara masyarakat dengan Negara; atau antara pemerintah dan rakyat atau antara raja dan warganya. Seperti disinggung di atas, keadilan dalam Islām lebih dari itu[6].
H.  Golongan Anti Ilmu (Sofisme)
Golongan anti ilmu atau Sofisme ini bisa kita fahami karena mereka keliru, salah bahkan menolak kebenaran yang Allāh swt. tunjukan, terdapat tiga golongan yang anti terhadap ilmu;
  1. Golongan relativis (al ‘indiyah)
Golongan ini sebagaimana namanya diambil dari kalimat ‘indi yang artinya menurut saya, jadi segala sesuatu dipandang berdasarkan pandangannya sendiri, orang tidak bisa menyalahkan karena salah dan benar ukurannya tergantung setiap pandangan orang dalam artian kebenaran adalah semu, sebagai contoh:
-          Kebenaran itu ditentukan oleh siapa yang berbicara, biasanya juga terkait waktu dan tempat
-          Protagoras mengatakan: tidak ada pendapat yang lebih benar dari…
  1. Agnostic (lā adri)
Golongan ini dinamai lā adri yang berarti saya tidak tahu, lebih jauhnya kebanaran itu tidak dapat diketahui, contohnya Gorgias mengatakan bahwa:
Tidak ada sesuatupun yang wujud (exist) kalaupun ada ia tidak dapat diketahui, kalaupun dapat diketahui ia tidak bisa disampaikan.
  1. Nihilis (inādi)
Golongan ini dinamakan nihilis karena mereka menolak (inādi) segala realitas yang ada, mereka menyatakan bahwa;
-          Kebenaran itu tidak ada
-          Tuhan tidak ada, adanya Tuhan hanyalah sebuah ilusi oarng tertindas
I.     Indikasi Sofisme dalam Sendi-sendi Kehidupan Modern
Sebagaimana kita ketahui bahwa golongan sofieme atau anti ilmu sangat bertentangan dengan ajaran Islām, mereka tidak menyakini adanya kebenaran kalaupun ada itu hanyalah relative dan tidak bisa memaksakan kebenaran pada orang lain, dianta indikasinya adalah:
Ä  Menguatnya Atheisme dan Skeptivisme, kebenaran Tuhan tidak dapat dibuktikan
Ä  Relativisme nilai dan moral
Ä  Pluralisme agama
Ä  Feminisme muslim, diperlukannya pembuatan tafsir al Qur`ān versi feminisme atau menurut pemikiran wanita
Ä  Menguatnya kecenderungan untuk berdebat dalam menentukan kebenaran terhadap suatu masalah (hipokrit), yang dikatan benar adalam mereka yang mampu dan pandai berpidato dan berretorika dengan baik
Ä  Penyamarataan kedudukan manusia tanpa memperhatikan kedalaman ilmu masing-masing pihak
Wal-‘Llāhu a’lam



[1] Pertemuan ke- 06 kuliah Worldview of Islām 13 Desember 2014 di kampus UNIKOM Bandung bersama Dr. Wendi Zarman, M.Si
[2] Sujud di sini berarti menghormati dan memuliakan Adam, bukanlah berarti sujud memperhambakan diri, Karena sujud memperhambakan diri itu hanyalah semata-mata kepada Allāh swt.

[3] ayat ini untuk menjelaskan martabat orang-orang berilmu
[4] al Attas, ar Risalah
[5] al Attas, Islām dan Sekularisme, PIMPIN, hlm. 131
[6] al Attas, Islām dan Sekularisme, PIMPIN, hlm. 95-96

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Arsip Blog