يَا
أَيُّهَا
الَّذِينَ
آمَنُوا
إِذَا
قِيلَ
لَكُمْ
تَفَسَّحُوا
فِي
الْمَجَالِسِ
فَافْسَحُوا
يَفْسَحِ
اللَّهُ
لَكُمْ
ۖ
وَإِذَا
قِيلَ
انْشُزُوا
فَانْشُزُوا
يَرْفَعِ
اللَّهُ
الَّذِينَ
آمَنُوا
مِنْكُمْ
وَالَّذِينَ
أُوتُوا
الْعِلْمَ
دَرَجَاتٍ
ۚ
وَاللَّهُ
بِمَا
تَعْمَلُونَ
خَبِيرٌ
Hai orang-orang beriman apabila dikatakan kepadamu:
"Berlapang-lapanglah dalam majlis", maka lapangkanlah niscaya Allah
akan memberi kelapangan untukmu. Dan apabila dikatakan: "Berdirilah
kamu", maka berdirilah, niscaya Allah akan meninggikan orang-orang yang
beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa
derajat. Dan Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan. (QS. al-Mujadalah, 58: 11)
I.
Tujuan Pendidikan Islam
a. Surah al-Baqarah (1-5)
a. Surah al-Baqarah (1-5)
1.
Alif laam miim. 2. Kitab (al Qur`an) ini tidak ada keraguan padanya; petunjuk
bagi rnereka yang bertaqwa, 3. (yaitu) mereka yang beriman kepada yang ghaib,
yang mendirikan shalat, dan menafkahkan sebagian rezki, yang Kami anugerahkan
kepada mereka, 4. Dan mereka yang beriman kepada Kitab (al Qur`an) yang telah
diturunkan kepadamu dan Kitab-kitab yang telah diturunkan sebelummu; serta
mereka yakin akan adanya (kehidupan) akhirat.5. Mereka itulah yang tetap
mendapat petunjuk dari Rabb-nya, dan rnerekalah orang-orang yang beruntung.
Alif,
Lam, miim, ayat yang cukup singkat, tetapi sangat dalam maknanya, hanya Allah
yang tahu rahasianya. Sudah cukup lama para ulama al Qur`an berbeda pendapat.
Allahu A’lam, hanya Allah yang mengetahui, itulah jawaban yang dikemukakan oleh
para ulama abad pertama hingga abad ketiga. Tampaknya jawaban Allahu A’lam
yakni Allah lebih mengetahui masih diangap jawaban yang relevan sampai saat
ini, meskipun demikian jawaban itu masih dianggap kurang memuaskan.Pada ayat
ini menggunakan isyarat jauh untuk menunjuk al Qur`an. Semua ayat yang menunjuk
kepada firman-firman Allah dengan nama al Qur`an (bukan al-Kitab) yang mengarah
pada isyarat dekat “hadzal Qur`an”. Penggunaan isyarat jauh ini bertujuan memberi
kesan bahwa kitab suci ini berada dalam kedudukan tinggi dan sangat jauh dari
jangkauan makhluk, karena ia bersumber dari Allah Yang Maha Tinggi Maha
Bijaksana, sedang penggunaan kata “hadza ini” untuk menunjukkan betapa dekat
tuntunan-tuntunannya pada fitrah manusia. Dalam hal ini pula yang dimaksud
dengan orang-orang bertakwa adalah orang yang mempersiapkan jiwa mereka untuk
menerima petunjuk atau yang telah mendapatkannya tetapi masih mengharapkan
kelebihan, karena petunjuk Allah tidak terbatas. Dalam al Qur`an disebutkan
“Dan
Allah akan menambah petunjuk kepada mereka yang telah mendapat petunjuk. Dan
amal-amal saleh yang kekal itu lebih baik pahalanya di sisi Rabbmu dan lebib
baik kesudahannya”. (QS. 99: 76)
Pada
Ayat ke-3 dari surah al-Baqarah ini mengisyaratkan bahwa yang bertaqwa
hendaknya mengimani yang ghaib, mendirikan shalat, serta menafkahkan sebagian
rezeki yang telah dianugerahkan-Nya.Yuqinun atau yakin adalah pengetahuan yang
mantap tentang sesuatu dibarengi dengan tersingkirnya apa yang mengeruhkan
pengetahuan itu, baik berupa keraguan maupun dalih-dalih yang dikemukakan
lawan. Itu sebabnya pengetahuan Allah tidak dinamai mencapai tingkat yakin,
karena pengetahuan Yang Maha Mengetahui itu sedemikian jelas sehingga tidak
pernah sesat atau sedikitpun disentuh oleh keraguan. Berbeda dengan manusia
yang yakin. Sebelum tiba keyakinannya, ia terlebih dahulu disentuh oleh
keraguan, namun ketika ia sampai pada tahap yakin, maka keraguan yang tadinya
ada langsung sirna.Mereka itulah orang-orang yang sungguh jauh dan tinggi
kedudukannya berada di atas yakni memperoleh dengan mantap petunjuk dari Tuhan
Pembimbing mereka dan mereka itulah orang beruntung “muflihun”
memperoleh apa yang mereka dambakan.Dari hal diatas dapat dipahami bahwa surah
al-baqarah ayat 1-5 ini sangat dalam pesan moralnya, dimana kalaulah dikaitkan
dengan tujuan pendidikan itu sendiri dapat penulis simpulkan sebagai berikut:
1.
Menambah ketaqwaan manusia pada Allah.
2.
Agar manusia mempercayai akan keberadaan Allah.
3.
mewujudkan manusia yang banyak beramal shaleh.
4.
Mewujudkan manusia yang percaya akan hari akhir.
5.
Mewujudkan kesuksesan dalam hidup.
b. Surah ali-lmran: 138-139
b. Surah ali-lmran: 138-139
138.
(al Qur`an) ini adalah penerangan bagi seluruh manusia, dan petunjuk serta
pelajaran bagi orang-orang yang bertagwa.139. Janganlah kamu bersikap lemah,
dan janganlah (Pula) kamu bersedih hati, padahal kamulah orang-orang yang
paling tingi (derajatnya), jika kamu orang-orang yang beriman.
Pada
ayat 138 dalam surah Ali Imran ini mengandung pesan-pesan yang sangat jelas,
bahwa al Qur`an secara keseluruhan adalah penerangan yang memberi keterangan
dan menghilangkan kesangsian serta keraguan bagi manusia, atau dengan kata lain
ayat ini memberikan informasi tentang keutamaan al Qur`an yang mengungkap
adanya hukum-hukum yang mengatur kehidupan masyarakat. Kitab tersebut berfungsi
mengubah masyarakat dan mengeluarkan anggotanya dari kegelapan menuju terang
benderang dari kehidupan negative menuju kehidupan positif. Al Qur`an memang
adalah penerangan bagi seluruh manusia, petunjuk, serta peringatan bagi
orang-orang yang bertaqwa. Pernyataan Allah ini adalah penjelasan bagi manusia,
juga mengandung makna bahwa Allah tidak menjatuhkan sanksi sebelum manusia
mengetahui sanksi tersebut. Dia tidak menyiksa manusia secara mendadak, karena
ini adalah petunjuk, lagi peringatan. Pada ayat 139 ini membicarakan tentang
kelompok pada perang uhud. Pada perang uhud mereka tidak meraih kemenangan
bahkan menderita luka dan poembunuhan, dan dalam perang badar mereka dengan
gemilang meraih kemenangan dan berhasil melawan dan membunuh sekian banyak
lawan mereka, maka itu merupakan bagian dari sunnatullah. Namun demikian, apa
yang mereka alami dalam perang uhud tidak perlu menjadikan mereka berputus asa.
Karena itu, janganlah kamu melemah menghadapi musuhmu dan musuh Allah, kuatkan
jasmanimu dan janganlah (pula) kamu bersedih akibat dari apa yang kamu alami
dalam perang uhud, atau peristiwa lain yang seupa, kuatkanlah mentalmu. Mengapa
kamu lemah atau bersedih padahal kamulah orang-orang yang paling tinggi
(derajatnya) di sisi Allah, di dunia dan di akherat. Di dunia kamu
memperjuangkan agama Allah itulah sebuah kebenaran, di akherat kamu mendapatkan
surga Allah. Ini jika kamu orang-orang mukmin, yakni benar-benar keimanan telah
mantap dalam hatimu.Bila kita kaitkan dengan tujuan dari pendidikan itu sendiri
dapat kita ketahui sebagai berikut:
1.
Mewujudkan bimbingan pada manusia agar tidak binasa dengan hukum-hukum alam
2.
Mewujudkan kebahagiaan pada hambanya
3.
menjadikan manusia yang intelek dan mempunyai derajat yang tinggi.
c. Surah al-Fath: 29
c. Surah al-Fath: 29
“Muhammad
itu adalah utusan Allah dan orang-orang yang bersama dia adalah keras terhadap
orang-orang kafir tetapi berkasih sayang sesama mereka: kamu lihat mereka ruku’
dan sujud mencari karunia Allah dan keridhaan-Nya, tanda-tanda meraka tampak
pada muka mereka dari bekas sujud. Demikianlah sifat-sifat mereka dalam Taurat
dan sifat-sifat mereka dalam lnjil, yaitu seperti tanaman mengeluarkan tunasnya
maka tunas itu menjadikan tanaman itu kuat lalu menjadi besarlah dia dan tegak
lurus di atas pokoknya; tanaman itu menyenangkan hati penanam penanamnya karena
Allah hendak menjengkelkan hati orang-orang kafir (dengan orang-orang mu’min).
Allah menjanjikan kepada orang-orang yang beriman dan menegakan amal yang saleh
di antara mereka ampunan dan pabala yang besar”. (QS. 48: 29)
Pada ayat ini Allah menjelaskan sifat dan sikap Nabi
Muhammad saw. beserta pengikut-pengikut beliau. Allah berfirman: Nabi Muhammad
adalah utusan Allah yang diutusnya membawa rahmat bagi seluruh alam dan
orang-orang yang bersama dengannya yakni sahabat-sahabat Nabi serta
pengikut-pengikut setia beliau adalah orang-orang yang bersikap keras yakni
tegas tidak berbasa-basi yang mengorbankan akidahnya terhadap orang-orang
kafir. Walau mereka memiliki sikap tegas itu namun mereka berkasih sayang antar
sesama mereka. Mereka juga ruku’ dan sujud dengan tulus ikhlas karena Allah,
senantiasa mencari karunia Allah dan keridhaan-Nya yang agung.. demikian itulah
sifat-sifat yang agung dan luhur serta tinggi. Demikian itulah keadaan orang
mukmin pengikut Nabi Muhammad saw. Allah menjanjikan untuk orang-orang yang
beriman dan mengerjakan amal-amal yang shaleh di antara mereka yang bersama
Nabi serta siapapun yang mengikuti cara hidup mereka dapat mencapai
kesempurnaan atau luput dari kesalahan atau dosa. Kalimat asyidda’u ‘ala
al-kuffar sering kali dijadikan oleh sementara orang sebagai bukti keharusan
bersikap keras terhadap non muslim. Kalaupun dipahami sebagai sikap keras, maka
itu dalam konteks peperangan dan penegakan sanksi hukum yang dibenarkan agama.
Ini serupa dengan firman-Nya
“… dan janganlah belas kasihan kepada keduanya mencegah
kamu untuk (menjalankan) agama Allah, jika kamu beriman kepada Allah, dan hari
akherat..” (QS. 24: 2). Dari hal diatas dapat kita ketahui makna yang terkandung dari
ayat diatas sebagai berikut:
1. Mewujudkan rasa hormat dan rasa kasih sayang sesama
manusia
2. Mewujudkan seorang hamba yang ahli sujud dan taubat
3. Mewujudkan manusia yang selalu menyenangkan orang lain
d. Surah al-Hajj: 41
d. Surah al-Hajj: 41
″(yaitu) orang-orang yang jika Kami teguhkan kedudukan
mereka di muka bumi, niscaya mereka mendirikan shalat, menunaikan Zakat,
menyuruh berbuat yang ma’ruf dan mencegah dari perbuatan yang mungkar; dan
kepada Allah-lah kembali segala urusan “. (QS. 22: 47)
Ayat ini menerangkan tentang keadaan orang-orang yang
diberikan kemenangan dan Kami teguhkan kedudukan mereka di muka bumi; yakni
Kami berikan mereka kekuasaan mengelola satu wilayah dalam keadaan mereka yang
merdeka niscaya mereka melaksanakan shalat secara sempurna rukun, syarat, dan
sunnah-sunnahnya dan mereka juga menunaikan zakat sesuai kadarnya. Serta mereka
menyuruh anggota masyarakatnya agar berbuat yang ma’ruf serta mencegah dari
yang munkar.Ayat di atas mencerminkan sekelumit dari ciri-ciri masyarakat yang
diidamkan Islam, kapan dan di manapun, dan yang telah terbukti dalam sejarah
melalui masyarakat Nabi Muhammad saw. dan para sahabat beliau. al Qur`an
mengisyaratkan kedua nilai di atas dalam firman-Nya dalam surah Ali Imran ayat
104,
“Dan hendaklah ada di antara kamu segolongan umat yang
menyeru kepada kebajikan, menyuruh kepada yang ma’ruf dan mencegah dari yang
munkar; mereka adalah orang-orang yang beruntung”. (QS 3: 104)
Kaitannya dengan tujuan pendidikan sebagai berikut:
1. Mewujudkan seorang yang selalu menegakkan kebenaran
dan mencegah kemunkaran
2. Mewujudkan manusia yang selalu bertawaqqal pada Allah.
e. Surah adz-Dzariyat: 56
e. Surah adz-Dzariyat: 56
“Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan
supaya mereka menyembah-Ku”. (QS. 59:50)
Ayat di atas menggunakan bentuk persona pertama (Aku).
Ini bukan saja bertujuan menekankan pesan yang di kandungnya tetapi juga untuk
mengisyaratkan bahwa perbuatan-perbuatan Allah tidak melibatkan malaikat atau
sebab-sebab lainnya. Di sini penekanannya adalah beribadah kepada-Nya
semata-mata, maka redaksi yang digunakan berbentuk tunggal dan tertuju
kepada-Nya semata-mata tanpa memheri kesan adanya keterlibatan selain Allah swt.
Didahulukannya penyebutan kata al jin/jin dari kata al-ins/manusia karena jin
lebih dahulu diciptakan Allah dari pada manusia.Kaitannya dengan tujuan
pendidikan itu sendiri dapat kita pahami sebagai berikut: Pertama,
kemantapan makna penghambaan diri kepada Allah dalam hati setiap insan. Tidak
ada dalam wujud ini kecuali satu Tuhan dan selain-Nya adalah hamba-hamba-Nya. Kedua,
Mengarah kepada Allah dengan setiap gerak pada nurani, pada setiap anggota
badan dan setiap gerak dalam hidup. Semuanya mengarah hanya kepada Allah secara
tulus. Dengan demikian, terlaksanalah makna ibadah.
f. Surah Hud: 61
f. Surah Hud: 61
″Dan kepada Tsamud (Kami utus) saudara mereka Shaleh.
Shaleh berkata “Hai kaumku, sembahlah Allah, sekali kali tidak ada bagimu Ilah
selain Dia Dia telah meciptakan kamu dari bumi (tanah) dan menjadikan
pemakmurnya, karena itu mohanlah ampunan-Nya kemudian bertobatlah kepada-Nya.
Sesungguhnya Rabbku amat dekat (rahmat Nya) lagi memperkenankan (do’a hamba
Nya)”. (QS. 11: 61)
Setelah selesai kisah Ad kini giliran kisah suku Tsamud.
Tsamud juga merupakan satu suku terbesar yang telah punah. Mereka adalah
keturunan Tsamud Ibnu Jatsar, Ibnu Iram Ibnu Sam, Ibnu Nuh. Dengan demikian
silsilah keturunan mereka bertemu dengan Ad pada kakek yang sama yaitu Imran. Kaum
Tsamud pada mulanya menarik pelajaran berharga dari pengalaman buruk kaum Ad,
karena itu mereka beriman kepada Allah swt. Pada masa itulah, merekapun
berhasil membangun peradaban yang cukup megah, tetapi keberhasilan itu
menjadikan mereka lengah sehingga mereka kembali menyembah berhala serupa
dengan berhala yang disembah kaum Ad. Ketika itulah Allah mengutus Nabi Shaleh
as mengingatkan mereka agar tidak mempersekutukan Allah tetapi tuntunan dan
peringatan beliau tidak disambut baik oleh mayoritas kaum Tsamud. Ayat ini
mengandung perintah yang jelas kepada manusia –langsung maupun tidak langsung–
untuk membangun bumi dalam kedudukannya sebagai khalifah, sekaligus menjadi
alasan mengapa manusia harus menyembah Allah swt. semata-mata.Kaitannya dengan
tujuan pendidikan sebagai berikut:
1. Mewujudkan seorang hamba yang shaleh
2. Mewujudkan akan keesaan Tuhan
3. Mewujudkan manusia yang ahli do’a
4. Menunjukkan akan luasnya ilmu Tuhan
II. Subjek Pendidikan
a. Ar-Rahman: 1-4
(Rabb) Yang Maha Pemurah, (QS. 55: 1)Yang telah
mengajarkan al Qur`an. (QS. 55:2) Dia menciptakan manusia, (QS. 55: 3) Mengajarnya
pandai berbicara (QS. 55: 4)
Al Qur`an adalah firman-firman Allah yang disampaikan
oleh malaikat Jibril kepada Nabi Muhammad saw. dengan lafal dan maknanya yang
beribadah siapa yang membacanya, menjadi bukti kebenaran mukjizat Nabi Muhammad
saw. Kata al Qur`an dapat dipahami sebagai keseluruhan ayat-ayatnya yang enam
ribu lebih itu, dan dapat juga digunakan untuk menunjuk walau satu ayat saja
bagian dari satu ayat. Kata al-Insan disini mencakup semua jenis manusia, sejak
Adam as. Hingga akhir zaman. AI-Bayan berarti jelas. Namun ia tidak terbatas
pada ucapan, tetapi mencakup segala bentuk ekspresi, termasuk seni dan raut
muka.Dimulainya surah ini dengan kata ar-Rahman bertujuan mengundang rasa ingin
tahu mereka dengan harapan akan tergugah untuk mengakui nikmat-nikmat dan
beriman kepada Allah. Allah ar-Rahman yang mengajarkan al Qur`an itu ialah yang
menciptakan manusia, makhluk yang paling membutuhkan tuntunannya.
b. Surah an Nahl: 43-44
Dan Kami tidak mengutus sebelum kamu, kecuali orang-orang
lelaki yang Kami beri wahyu kepada mereka; maka bertanyalah kepada orang yang
mempunyai pengetahuan jika kamu tidak mengetahui, (QS. 16: 43) keteragan-keterangan
(mukjizat) dan kitab-kitab. Dan Kami turunkan kepadamu al Qur`an, agar kamu
menerangkan kepada umat manusia apa yang telah diturunkan kepada mereka supaya
meraka memikirkan, (QS. 16: 44)
Pada ayat ini diuraikan kesesatan pandangan kaum
musyrikin menyangkut kerasulan Nabi Muhammad saw. Dalam penolakan terhadap apa
yang diturunkan Allah swt. mereka selalu berkata bahwa manusia tidak wajar
menjadi rasul atau utusan Allah, atau paling tidak ia harus disertai oleh
malaikat. Nah, ayat ini menegaskan bahwa: Dan Kami tidak mengutus sebelum kamu
kepada umat manusia kapan dan di manapun kecuali orang-orang lelaki yakni jenis
manusia pilihan, bukan malaikat yang Kami beri wahyu kepada mereka antara lain
melalui malaikat Jibril. Maka wahai orang-orang yang ragu atau tidak tahu
bertanyalah kepada ahl dzikr yakni orang-orang yang berpengetahuan jika kamu
tidak mengetahui.Kata ahl dzikr pada ayat ini dipahami oleh banyak ulama dalam
arti para pemuka Yahudi dan Nasrani. Mereka adalah orang-orang yang dapat
memberi infonnasi tentang kemanusiaan para rasul yang diutus Allah. Mereka
wajar ditanyai karena mereka tidak dapat dituduh berpihak pada informasi al
Qur`an sebab mereka juga termasuk yang tidak mempercayainya, kendati demikian
persoalan kemanusiaan para rasul, mereka akui. Ada juga yang memahami istilah
ini dalam arti sejarawan, baik muslim ataupun non muslim. Walaupun penggalan
ayat ini turun dalam konteks tertentu, yakni objek pertanyaan, serta siapa yang
ditanya tertentu pula, namun karena redaksinya yang bersifat umum, maka ia
dapat dipahami pula sebagai perintah bertanya apa saja yang tidak diketahui
atau diragukan kebenarannya kepada siapapun yang tahu dan tidak tertuduh
objektivitasnya. Ayat di atas mengubah redaksinya dari persona ketiga menjadi
persona kedua yang ditujukan langsung kepada mitra bicara, dalam hal ini adalah
Nabi Muhammad saw. Agaknya hal ini mengisyaratkan penghormatan kepada beliau
dan bahwa beliau termasuk dalam kelompok rasul-rasul yang diutus Allah, bahkan
kedudukan beliau tidak kurang.Penyebutan anugerah Allah kepada Nabi Muhammad
secara khusus dan bahwa yang dianugerahkan-Nya itu adalah adz-dzikr
mengesankan perbedaan kedudukan beliau dengan para nabi dan para rasul
sebelumnya. Dalam konteks ini Nabi Muhammad saw. bersabda: “Tidak seorang
nabipun kecuali telah dianugerahkan Allah apa (bukti-bukti indrawi) yang
menjadikan manusia percaya padanya. Dan sesungguhnya aku dianugerahi wahyu (al
Qur`an) yang bersifat immaterial dan kekal sepanjang masa, maka aku mengharap
menjadi yang paling banyak pengikutnya di hari kemudian”. (HR.Bukhari). Ayat
ini juga menugaskan Nabi Muhammad saw. untuk menjelaskan al Qur`an. Bayan atau
penjelasan Nabi Muhammad itu bermacam-macam dan bertingkat-tingkat. Memang
as-Sunah mempunyai fungsi yang berhubungan dengan al Qur`an dan fungsi
sehubungan dengan pembinaan hokum syara’. Ada dua fungsi penjelasan Nabi
Muhammad dalam kaitannya dengan al Qur`an yaitu Bayan Ta’kid dan Bayan Tafsir.
Yang pertama sekedar menguatkan atau menggarisbawahi kembali apa yang terdapat
dalam Al Qur`an, sedang yang kedua memperjelas, merinci, bahkan membatasi
pengertian lahir dari ayat-ayat al Qur`an.
c. Surah al-Kahf: 66
Musa berkata kepada Khidhr: “Bolehkah aku mengikutimu
supaya kamu mengajarkan kepadaku ilmu yang benar di antara ilmu-ilmu yang telah
diajarkan kepadamu” (QS. 18: 66)
Dalam pertemuan kedua tokoh pada ayat ini diceritakan
Nabi Musa yang terkesan banyak menanyakan sesuatu kepada salah satu hamba Allah
yang memiliki ilmu khusus. Sementara jawaban dari orang tersebut menyatakan
bahwa Nabi Musa tidak akan sanggup untuk sabar bersamanya. Dan bagaimana Nabi
Musa dapat sabar atas sesuatu, sementara ia belum menjangkau secara menyeluruh
beritanya.Ucapan hamba Allah ini, memberi isyarat bahwa seorang pendidik
hendaknya menuntun anak didiknya dan rnemberi tahu kesulitan-kesulitan yang
akan dihadapi dalam menuntut ilmu, bahkan mengarahkannya untuk tidak
mempelajari sesuatu jika sang pendidik mengetahui bahwa potensi anak didiknya
tidak sesuai dengan bidang ilmu yang akan dipelajarinya.
III. Objek Pendidikan
a Surah asy-Syu’ara: 214
“Dan berilah peringatan kepada kerabat-kerabatmu yang
terdekat”. (QS. 26: 214)
Ketika ayat ini turun, Rasul saw. naik ke puncak bukit
Shafa, di Mekah, lalu menyeru keluarga dekat beliau dari keluarga besar ‘Ady
dan Fihr yang berinduk pada suku Quraisy. Semua keluarga hadir atau mengirim
utusan. Abu Lahab pun datang, Ialu Nabi saw. bersabda: “bagaimana pendapat
kalian, jika aku berkata bahwa:di belakang lembah ini ada pasukan berkuda
bermaksud menyerang kalian, apakah kalian mempercayai aku?” mereka berkata:
“Ya, kami belum pernah mendapatkan darimu kecuali kebenaran”. Lalu Nabi
bersabda: “Aku menyampaikan kepada kamu semua sebuah peringatan, bahwa di
hadapan sana (masa datang) ada siksa yang pedih”. Abu Lahab yang mendengar
sabda beliau itu, berteriak kepada Nabi saw. berkata: “celakalah engkau
sepanjang hari, apakah untuk maksud itu engkau mengumpulkan kami?” Maka
turunlah surah Tabbat Yada Abi Lahab” (HR. Bukhari, Muslim, Ahmad dan lain-lain
melalui Ibn Abbas). Demikianlah ayat ini mengajarkan kepada rasul saw. dan
umatnya agar tidak pilih kasih, atau memberi kemudahan kepada keluarga dalam
hal pemberian peringatan. Ini berarti Nabi Muhammad saw. dan keluarga beliau
tidak kebal hukum, tidak juga terbebaskan dari kewajiban. Mereka tidak memiliki
hak berlebih atas dasar kekerabatan kepada rasul saw., karena semua adalah
hamba Allah, tidak ada perbedaan antara keluarga atau orang lain. Bila ada
kelebihan yang berhak mereka peroleh, maka itu disebabkan karena keberhasilan
mereka mendekat kepada Allah dan menghiasi diri dengan ilmu serta akhlak yang
mulia.
b. Surah an Nisa: 170
Wahai manusia, sesungguhnya telah datang Rasul (Muhammad)
itu kepadamu dengan (membawa) kebenaran dan Rabbmu, maka berimanlah kamu,
itulah yang lebih baik bagimu. Dan jika kamu kafir, (maka kekafiran itu tidak
merugikan .Allah sedikitpun) karena sesunguhnya apa di langit dan di bumi
adalah kepunyaan Allah. Dan adalah Allah Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana.
(QS 4: 170)
Rasul saw. telah membawa kebenaran dari Allah sambil
membuktikan keliruan bahkan kesesatan pandangan ahl kitab, kini menjadi sangat
wajar menyampaikan ajakan kepada seluruh manusia bukan hanya ahl kitab: wahai
seluruh manusia, sesungguhnya telah datang kepada kamu rasul yakni Muhammad saw.,
dengan membawa tuntunan al Qur`an dan syari’at yang mengandung kebenaran dari
Tuhan Pembimbing dan Pemelihara kamu, maka karena itu berimanlah dengan iman
yang benar. Itulah, yakni keimanan itu yang baik bagimu. Dan jika kamu terus
menerus kafir, maka kekafiran itu tidak merugikan Allah sedikitpun, tidak juga
mengurangi kekuasaan dan kepemilikan-Nya, karena sesurgguhnya apa yang di
langit dan di bumi itu adalah kepunyaan Allah di bawah kendali-Nya. Kehadiran
rasul yang dinyatakan dating kepadamu, serta pernyataan bahwa yang beliau bawa
adalah tuntunan dari Tuhan pembimbing dan pemelihara kamu dimaksudkan sebagai
rangsangan kepada mitra bicara, agar menerima siapa yang datang dan menerima
apa yang di bawanya.
IV. Kewajiban Belajar Mengajar
a Surah al-Ankabut: 19-20
Dan apakah mereka tidak memperhatikan bagaimana Allah
menciptakan (manusia) dari permulaannya, kemudian mengulanginya
(kembali).Sesungguhnya.yang demikian itu mudah bagi Allah. (QS. 29: 99) Katakanlah:
“Berjalanlah di (muka) bumi, maka perhatikanlah bagaimana Allah menciptakan
(manusia) dari permulaannya, kemudian Allah menjadikannya sekali lagi.
Sesungguhnya.Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu. (QS 29: 20)
Allah yang memulai penciptaan dipahami dalam arti “Dia
Yang menciptakan segala sesuatu pertama kali dan tanpa contoh sebelumnya”. Ini
mengadung arti bahwa Allah ada sebelum sesuatu itu ada. Dia yang mencipta dari
tiada, maka wujudlah segala sesuatu yang dikehendaki-Nya.Allah yang pertama
kali mewujudkan sesuatu kalau bukan Dia siapa lagi yang mewujudkankannya?
Sebagaimana firman-Nya:
Apakah mereka diciptakan tanpa sesuatupun ataukah mereka
yang menciptakan (diri mereka sendiri) (QS. 52:35)
Begitu antara lain al Qur`an membuktikan wujud Allah dan
sifat-Nya sebagai Mubdi’.Sebenarnya menciptakan pertama kali, sama saja bagi
Allah dengan menghidupkan kembali. Keduanya adalah memberi wujud kepada
sesuatu. Kalau pada penciptaan pertama yang wujud belum pernah ada, dan
ternyata dapat wujud, maka penciptaan kedua juga memberi wujud dan ini dalam
logika manusia tentu lebih mudah serta lebih logis dari pada penciptaan pertama
itu.Kaum musyrikin terheran mendengar pernyataan al Qur`an bahwa setelah
kematian mereka akan dihidupkan lagi:
Dan mereka berkata: “Apakah bila kami telah menjadi
tulang-belulang dan benda-benda yang hancur, apa benar-benarkah kami akan
dibangkitkan kembali sebagai makhluk yang baru” (QS. 17:49)
Al Qur`an memerintahkan Nabi Muhammad saw. menjawab
mereka:
Katakanlah: “Jadilah kamu sekalian batu atau besi, (QS.
17: 50) atau suatu makhluk dari makhluk yang tidak mungkin (hidup) menurut
pikiranmu”. Maka mereka akan bertanya “Siapa yang akan menghidupkan kami
kembali”. Katakanlah: “Yang telah menciptakan kamu pada kali yang pertama”.
Lalu mereka akan menggelenggelengkan kepala mereka kepadamu dan berkata: “Kapan
(akan terjadi) ”Katakanlah: “Mudah-mudahan waktu berbangkit itu dekat”. (QS.
17: 51)
Dari ayat tersebut di atas (al-Ankabut: 20) memerintahkan
untuk melakukan perjalanan, dengannya seseorang akan menemukan banyak pelajaran
berharga baik melalui ciptaan Allah yang terhampar dan beraneka ragam, maupun
dari peninggalan lama yang masih tersisa puing-puingnya. Pandangan kepada
hal-hal itu akan mengantarkan seseorang yang menggunakan akalnya untuk sampai
kepada kesimpulan bahwa tidak ada yang kekal di dunia ini, dan bahwa di balik
peristiwa dan ciptaan itu, wujud satu kekuatan dan kekuasaan Yang Maha Besar
lagi Maha Esa yaitu Allah swt.:
V. Metode Pendidikana Surah al-Maidah: 67
Hai Rasul, sampaikan apa yang diturunkan kepadamu dari
Rabbmu. Dan jika tidak kamu kerjakan (apa yang diperintahkan itu, berarti) kamu
hendak menyampatkan amanat-Nya. Allah memelihara kamu dan gangguan) manusia
Sesungguhnya Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang kafir (QS. 5:
67)
Ar-Razi berpendapat, bahwa ayat ini merupakan janji Allah
kepada nabi-Nya Muhammad saw. bahwa beliau akan dipelihara Allah dari gangguan
dan tipu daya orang-orang Yahudi dan Nasrani, karena ayat-ayat yang
mendahuluinya demikian juga sesudahnya berbicara tentang mereka.Thahir ibn
Asyur menambahkan bahwa ayat ini mengingatkan rasul agar menyampaikan ajaran
agama kepada ahl kitab tanpa menghiraukan kritik dan ancaman mereka, apalagi
teguran-teguran pada ayat-ayat yang lalu merupakan teguran yang keras. Teguran
keras ini pada hakikatnya tidak sejalan dengan sifat nabi yang cenderung
memilih sikap lembut, bermujadalah dengan yang terbaik. Tetapi di sini Allah
memerintahkan bersikap lebih tegas menerapkan pengecualian yang
diperintahkan-Nya pada Al Qur`an surah an-Nisa ayat 148:
Allah tidak menyukai ucapan buruk, (yang diucapkan)
dengan terus terang kecuali oleh orang yang dianiaya. Allah adalah Maha
Mendengar lagi Maha Mengetahui. (QS. 4: 148)
b. Surah al A’raf: 176-177
Dan kalau Kami menghendaki; sesungguhnya Kami tingikan
(derajat)nya dengan ayat-ayat itu, tetapi dia cenderung kepada dunia dan
menurutkan bawa nafsunya yang rendah, maka perumpamaannya seperti anjing jika
kamu menghalaunya diulurkannya lidahnya dan jika kamu membiarkannya dia
mengulurkan lidahnya juga). Demikian itulah perumpamaan orang-orang yang
mendustakan ayat-ayat Kami Maka ceritakanlan (kepada mereka) kisah-kisah itu
agar mereka berfikir (QS. 7: 176) Amat buruklah perummpamaan orang-orang yang
mendustakan ayat-ayat Kami dan kepada diri mereka sendirilah mereka berbuat
zalim. (QS. 7: 177)
Ayat ini menguraikan keadaan siapapun yang melepaskan
diri dari pengetahuan yang telah dimilikinya. Allah swt. menyatakan bahwa
sekiranya Kami menghendaki, pasti Kami menyucikan jiwanya dan meninggikan
derajatnya dengannya yakni melalui pengamalannya terhadap ayat-ayat itu, tetapi
dia mengekal yakni cenderung menetap terus menerus di dunia menikmati
gemerlapnya serta merasa bahagia dan tenang menghadapinya dan menurutkan dengan
antusias hawa nafsunya yang rendah, maka perumpamaannya adalah seperti anjing yang
selalu menjulurkan lidahnya.
VI. Evaluasi Pendidikan
a. Surah al-Baqarah: 184
(yaitu) dalam beberapa hari yang tertentu. Maka jika di
antara kamu ada yang sakit atau dalam perjalanan (lalu ia berbuka), maka
(wajiblah baginya berpuasa) sebanyak hari yang ditinggalkan itu pada hari-hari
yang lain. Dan wajib bagi orang-orang yang berat menjalankannya jika mereka
tidak berpuasa), membayar fidyah, (yaitu) memberi makan seorang miskin.
Barangsiapa yang dengan kerelaan hati mengerjakan kebajikan, maka itulah yang
lebih baik baginya. Dan berpuasa lebih baik bagimu jika kamu mengetahui. (QS.
2: 184)
Wal-'Llahu a'lam
Referensi:
Shihab, M.Quraish, Tafsir Al-Misbah; Pesan, Kesan, dan
Keserasian al Qur`an, (Jakarta: Lentera Hati, 2001)
_______________, Tafsir al-Qur-an al-Karim (Bandung: Pustaka Hidayah, 1997)
Departemen agama, al Qur`an dan Tafsirnya (
Jakarta: Proyek pengadaan Kitab Suci Al Qur`an, 1990)
Tafsir Ibnu Katsir, (Surabaya: PT. Bina
Ilmu, 1992)
Ahmad Mustafa al-Maragi, Tafsir al-Maragi (Mesir:
Mustafa al-Babi al-Halabi, 1974)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar