Dalam hal
penertiban diri, lebih jauhnya menjalani kehidupan yang fana ini kiranya
tak semudah dengan yang biasa diucapkan, bahkan sampai sempat-sempatnya ada
yang bilang “hidup tak semudah perkataan Mario Teguh”, persis beberapa
minggu kebelakang saya bersama anak-anak pengajian cukup senang sharing
mengenai pernyataan tadi, dari sanalah muncul keprihatinan ini, memang benar begitu
adanya bagi mereka yang tidak mau memudahkan hidupnya, coba kita sama-sama
tengok kembali berita berita minggu ini, selain politik yang menjadi trending
topic, menge-elu-elukan calonnya, gembong syi’ah yang kian hari kian
merasuki generasi muda, pun virus Islam liberal dan antek-anteknya tak
henti-hentinya menggempur keyakinan generasi muda di berbagai kampus Islam dan banyak
terjadi korban pemerkosaan di berbagai wilayah, pembunuhan yang tiap hari
selalu menjadi menu di berita-berita nasional, memang semakin kompleks saja
permasalahan yang terjadi sekarang ini.
Saya sangat
prihatin dengan segala keadaan yang terjadi sekarang, lebih-lebih orang-orang
berilmu yang menyandang status ‘guru besar’ ikut terkontaminasi oleh
pemikiran-pemikiran orientalis yang sangat picik, mereka tidak lain ingin
menghancurkan Islam sampai ke akar-akarnya. Di sini generasi muda perlu
digembleng pemahamannya terkait aqidah, tiada lain untuk menyelamatkan umat
dengan cara yang arif dan bijaksana.
Keluarga adalah
soko guru pertama sebelum terjun ke masyarakat, keluargalah yang pertama
kali membangun, mencetak, membentuk karakter awal, orang tua harus lebih cerdas
memberikan pengayaan pada anak-anaknya sejak dini berupa pendidikan agama,
pergaulan remaja yang carut-marut menimbulkan berbagai gejolak, dan generasi
muda-lah yang menjadi korbannya. Kita semua tahu bahwa anak yang dilahirkan
adalah fithrah, fithrah itu tidak akan pernah berubah kecuali ada
suatu pengaruh lain yang merubah hatinya. Tentunya benarlah sabdanya Rasulullah
saw.:
مامن مولود إلاّ
يولد على الفطرة فأبواه يهوّدانه أو ينصّرانه أو يمجّسانه..
(صحيح البخاري: ٤٤٠٢)
”Tidaklah anak itu lahir melainkan dalam keadaan fithrah, kedua
orangtuanyalah yang akan menjadikan mereka Yahudi, Nashrani, atau Majusi”
Senada dengan
matan hadits tadi:
كلّ مولود يولد على الفطرة فأبواه يهوّدانه أو ينصّرانه أو
يمجّسانه كمثل البهيمة تنتج البهيمة هل ترى فيها جدعاء
(صحيح البخاري:
١٢٩٦)
“Setiap anak
dilahirkn dalam keadaan fithrah, kemudian kedua orangtuanyalah yang akan
menjadikan anak itu Yahudi, Nashrani, Majusi. Sebagaimana binatang ternak
melahirkan binatang ternak dengan sempurna, apakah kalian melihat ada cacat
padanya?”
Sebenarnya
masih banyak hadits yang senada dengan 2 hadits diatas, sengaja saya mengambil
yang sudah familiar terdengar di telinga kita, supaya lebih mudah
mengkajinya kembali. Berangkat dari keterangan tadi para orang tua punya peran
yang sangat vital dalam pembentukan keluarga, sebagaimana firman Allah
swt.:
يأيّها الّذين
أمنوا قوا أنفسكم وأهليكم نارا وقودها النّاس والحجارة..
(التحريم: ٦)
“Wahai orang-orang beriman! Jagalah
dirimu dan ahli keluarga mu dari neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan
batu..”
Imam Abu Hasan Ali
ibn Ahmad al Wahidi dalam al Wajiz fi Tafsir al Qur`an al Aziz
mentafsirkan: “wahai orang-orang yang beriman! Berilah peringatan untuk dirimu
sendiri dan ahli keluargamu tentang perkara yang boleh mendekatkan diri kepada
rahmat Allah dan jauhilah diri kamu dan ahli keluargamu dari perkara dosa”.
Sementara Imam Nawawi dalam al Tafsir al Munir mentafsirkan: “wahai orang-orang
beriman! Ajarkanlah dirimu sendiri, istrimu, anak-anakmu tentang kebaikan dan
didiklah dengan cara menyuruh mereka melakukan kebaikan dan mencegah mereka
dari melakukan kejahatan. Dengan itu, kamu akan memelihara dirimu dan keluargamu
dari neraka”.
Sebagai muslim yang sedang berusaha untuk istiqamah
dalam menjalankan syari’at, tentunya kita semua sudah mafhum
maksud dan tujuan dari ayat tersebut, sudah sangat jelas dan gamblang
menerangkan pola didikan awal itu terjadi dalam keluarga, atau dengan kata lain
“ibda' binafsik” memulai dari diri kita sendiri karna itulah modal bahkan
fondasi awal sebelum melangkah keluar rumah, apakah itu pesantren, madrasah,
sekolah umum, perguruan tinggi, kota dan lainnya yang tentunya akan sangat heterogen
diluar sana yang pasti kita temukan. Manakala kita sebagai anak sudah dibekali aqidah
dari lingkungan rumah tentu tidak akan mudah terombang-ambing arus zaman, akan
sangat mudah memfilter berbagai isu kompleks dikemudian hari.
Manakala kita melihat fakta yang ada di
sekeliling terlebih di kota-kota besar arus sudah sangat mudah membuai
anak-anak, remaja, pemuda, bahkan orangtuapun ikut dengan nikmatnya kedalam
buaian zaman. Berbagai fenomena ekstrem selalu tersedia untuk disuguhkan
ke hadapan kita, seperti yang sudah saya sebutkan di awal, kita sangat
prihatin, malu, sedih, sakit dan perasaan-perasaan lain yang datang menghinggapi
diri bahkan jiwa kita, begitulah dengan mudahnya virus-virus
hinggap dan menggerogoti di sekitar kita sampai terjadinya degradasi moral,
terlebih dalam hal agama.
Kiranya itulah tantangan dakwah kita
sebagai generasi muda di era globalisasi, segalanya sudah sangat
canggih, tentu kita harus mengimbanginya dengan ilmu dan pemahaman yang canggih
pula, salah satunya mari kita kaji kembali berbagai referensi kitab untuk
menghidupkan kembali ghiroh jiwa kita, kalo tidak saya kira kita akan
ikut tergusur oleh arus zaman yang kian hari kian deras.
Banyak faktor yang
sangat bertanggung jawab terjadinya hal tersebut, salah satu analisa yang saya
dapat keadaan seperti ini, (degradasi moral, merosotnya akhlaq) tidak lain
karena umat Islam telah jauh meninggalkan kitabnya (al Qur`an) yang menjadi
pedoman utama menjalani kehidupan serta tuntunan Rasulullah saw. (as
Sunnah), padahal Rasul telah mewanti-wanti serta mewariskan kepada kita sebagai umatnya untuk tetap istiqomah berpegang kepada kedua pegangan
tadi sebagaimana sabdanya:
"Aku tinggalkan
kepada kalian dua hal, yang kalian tidak akan tersesat selamanya bila berpegang
teguh dengannya, yaitu: kitab Allah (al Qur`an) dan Sunnahku". (HR. Hakim).
Contoh kecil dalam penertiban atau
penataan diri untuk lebih baik lagi. Padahal jika kita telaah, renungkan
bahkan kita kaji kembali pernyataan tadi, itu bisa sangat cukup untuk menutup mindset
kita supaya memudahkan hidup.
Kenapa seperti
itu?
Coba kita
perhatikan kutipan firman Allah swt berikut ini:
لايكلّف الله نفسا إلّا وسعهاۗ
“Allah tidak
membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya..” (QS. al Baqarah:
286).
Bahkan dalam
lanjutan ayat tadi, Allah swt. juga menegaskan bahwa seseorang itu mendapat (pahala)
dari (kebajikan) yang dikerjakannya dan mendapat (siksa) dari (kejahatan) yang
diperbuatnya.
Itulah
barangkali sedikit coretan menjelang dini hari seputar keprihatinan
beberapa minggu kebelakang, tak akan bosan saya mengajak kepada generasi muda,
terlebih para remaja yang sudah biasa latihan dakwah dan diskusi tiap minggunya
tetap saling menasehati dalam kebenaran dan kesabaran supaya kita semua
tergolong orang-orang yang mendapat pahala dari hasil kebajikan, selain itu
semoga dengan adanya coretan ini bisa menjadi cambuk untuk diri saya pribadi
supaya bisa terus istiqamah dalam kebenaran, usia tidaklah ada yang
tahu, saat ini berkuranglah jatah usia yang dimiliki, mari sama sama kita tingkatkan
ibadah dan amaliah kita guna mengharap ridha Allah swt. sesuai dengan tuntunan Rasulullah
saw.
Wal-‘Llahu
a’lam
Tidak ada komentar:
Posting Komentar