Kamis, 22 Mei 2014

Sebuah Keprihatinan Anak Kampung

Dalam hal penertiban diri, lebih jauhnya menjalani kehidupan yang fana ini kiranya tak semudah dengan yang biasa diucapkan, bahkan sampai sempat-sempatnya ada yang bilang “hidup tak semudah perkataan Mario Teguh”, persis beberapa minggu kebelakang saya bersama anak-anak pengajian cukup senang sharing mengenai pernyataan tadi, dari sanalah muncul keprihatinan ini, memang benar begitu adanya bagi mereka yang tidak mau memudahkan hidupnya, coba kita sama-sama tengok kembali berita berita minggu ini, selain politik yang menjadi trending topic, menge-elu-elukan calonnya, gembong syi’ah yang kian hari kian merasuki generasi muda, pun virus Islam liberal dan antek-anteknya tak henti-hentinya menggempur keyakinan generasi muda di berbagai kampus Islam dan banyak terjadi korban pemerkosaan di berbagai wilayah, pembunuhan yang tiap hari selalu menjadi menu di berita-berita nasional, memang semakin kompleks saja permasalahan yang terjadi sekarang ini.
Saya sangat prihatin dengan segala keadaan yang terjadi sekarang, lebih-lebih orang-orang berilmu yang menyandang status ‘guru besar’ ikut terkontaminasi oleh pemikiran-pemikiran orientalis yang sangat picik, mereka tidak lain ingin menghancurkan Islam sampai ke akar-akarnya. Di sini generasi muda perlu digembleng pemahamannya terkait aqidah, tiada lain untuk menyelamatkan umat dengan cara yang arif dan bijaksana.
Keluarga adalah soko guru pertama sebelum terjun ke masyarakat, keluargalah yang pertama kali membangun, mencetak, membentuk karakter awal, orang tua harus lebih cerdas memberikan pengayaan pada anak-anaknya sejak dini berupa pendidikan agama, pergaulan remaja yang carut-marut menimbulkan berbagai gejolak, dan generasi muda-lah yang menjadi korbannya. Kita semua tahu bahwa anak yang dilahirkan adalah fithrah, fithrah itu tidak akan pernah berubah kecuali ada suatu pengaruh lain yang merubah hatinya. Tentunya benarlah sabdanya Rasulullah saw.:
مامن مولود إلاّ يولد على الفطرة فأبواه يهوّدانه أو ينصّرانه أو يمجّسانه..
 (صحيح البخاري: ٤٤٠٢)
Tidaklah anak itu lahir melainkan dalam keadaan fithrah, kedua orangtuanyalah yang akan menjadikan mereka Yahudi, Nashrani, atau Majusi”
Senada dengan matan hadits tadi:
كلّ مولود يولد على الفطرة فأبواه يهوّدانه أو ينصّرانه أو يمجّسانه كمثل البهيمة تنتج البهيمة هل ترى فيها جدعاء
(صحيح البخاري: ١٢٩٦)
“Setiap anak dilahirkn dalam keadaan fithrah, kemudian kedua orangtuanyalah yang akan menjadikan anak itu Yahudi, Nashrani, Majusi. Sebagaimana binatang ternak melahirkan binatang ternak dengan sempurna, apakah kalian melihat ada cacat padanya?”
Sebenarnya masih banyak hadits yang senada dengan 2 hadits diatas, sengaja saya mengambil yang sudah familiar terdengar di telinga kita, supaya lebih mudah mengkajinya kembali. Berangkat dari keterangan tadi para orang tua punya peran yang sangat vital dalam pembentukan keluarga, sebagaimana firman Allah swt.:
يأيّها الّذين أمنوا قوا أنفسكم وأهليكم نارا وقودها النّاس والحجارة..
(التحريم: ٦)
Wahai orang-orang beriman! Jagalah dirimu dan ahli keluarga mu dari neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu..”
Imam Abu Hasan Ali ibn Ahmad al Wahidi dalam al Wajiz fi Tafsir al Qur`an al Aziz mentafsirkan: “wahai orang-orang yang beriman! Berilah peringatan untuk dirimu sendiri dan ahli keluargamu tentang perkara yang boleh mendekatkan diri kepada rahmat Allah dan jauhilah diri kamu dan ahli keluargamu dari perkara dosa”. Sementara Imam Nawawi dalam al Tafsir al Munir mentafsirkan: “wahai orang-orang beriman! Ajarkanlah dirimu sendiri, istrimu, anak-anakmu tentang kebaikan dan didiklah dengan cara menyuruh mereka melakukan kebaikan dan mencegah mereka dari melakukan kejahatan. Dengan itu, kamu akan memelihara dirimu dan keluargamu dari neraka”.
Sebagai muslim yang sedang berusaha untuk istiqamah dalam menjalankan syari’at, tentunya kita semua sudah mafhum maksud dan tujuan dari ayat tersebut, sudah sangat jelas dan gamblang menerangkan pola didikan awal itu terjadi dalam keluarga, atau dengan kata lain “ibda' binafsik” memulai dari diri kita sendiri karna itulah modal bahkan fondasi awal sebelum melangkah keluar rumah, apakah itu pesantren, madrasah, sekolah umum, perguruan tinggi, kota dan lainnya yang tentunya akan sangat heterogen diluar sana yang pasti kita temukan. Manakala kita sebagai anak sudah dibekali aqidah dari lingkungan rumah tentu tidak akan mudah terombang-ambing arus zaman, akan sangat mudah memfilter berbagai isu kompleks dikemudian hari.
Manakala kita melihat fakta yang ada di sekeliling terlebih di kota-kota besar arus sudah sangat mudah membuai anak-anak, remaja, pemuda, bahkan orangtuapun ikut dengan nikmatnya kedalam buaian zaman. Berbagai fenomena ekstrem selalu tersedia untuk disuguhkan ke hadapan kita, seperti yang sudah saya sebutkan di awal, kita sangat prihatin, malu, sedih, sakit dan perasaan-perasaan lain yang datang menghinggapi diri bahkan jiwa kita, begitulah dengan mudahnya virus-virus hinggap dan menggerogoti di sekitar kita sampai terjadinya degradasi moral, terlebih dalam hal agama.
Kiranya itulah tantangan dakwah kita sebagai generasi muda di era globalisasi, segalanya sudah sangat canggih, tentu kita harus mengimbanginya dengan ilmu dan pemahaman yang canggih pula, salah satunya mari kita kaji kembali berbagai referensi kitab untuk menghidupkan kembali ghiroh jiwa kita, kalo tidak saya kira kita akan ikut tergusur oleh arus zaman yang kian hari kian deras.
Banyak faktor yang sangat bertanggung jawab terjadinya hal tersebut, salah satu analisa yang saya dapat keadaan seperti ini, (degradasi moral, merosotnya akhlaq) tidak lain karena umat Islam telah jauh meninggalkan kitabnya (al Qur`an) yang menjadi pedoman utama menjalani kehidupan serta tuntunan Rasulullah saw. (as Sunnah), padahal Rasul telah mewanti-wanti serta mewariskan  kepada kita sebagai umatnya untuk tetap istiqomah berpegang kepada kedua pegangan tadi sebagaimana sabdanya:
"Aku tinggalkan kepada kalian dua hal, yang kalian tidak akan tersesat selamanya bila berpegang teguh dengannya, yaitu: kitab Allah (al Qur`an) dan Sunnahku". (HR. Hakim).
Contoh kecil dalam penertiban atau penataan diri untuk lebih baik lagi. Padahal jika kita telaah, renungkan bahkan kita kaji kembali pernyataan tadi, itu bisa sangat cukup untuk menutup mindset kita supaya memudahkan hidup.
Kenapa seperti itu?
Coba kita perhatikan kutipan firman Allah swt berikut ini:
لايكلّف الله نفسا إلّا وسعهاۗ
“Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya..” (QS. al Baqarah: 286).
Bahkan dalam lanjutan ayat tadi, Allah swt. juga menegaskan bahwa seseorang itu mendapat (pahala) dari (kebajikan) yang dikerjakannya dan mendapat (siksa) dari (kejahatan) yang diperbuatnya.
Itulah barangkali sedikit coretan menjelang dini hari seputar keprihatinan beberapa minggu kebelakang, tak akan bosan saya mengajak kepada generasi muda, terlebih para remaja yang sudah biasa latihan dakwah dan diskusi tiap minggunya tetap saling menasehati dalam kebenaran dan kesabaran supaya kita semua tergolong orang-orang yang mendapat pahala dari hasil kebajikan, selain itu semoga dengan adanya coretan ini bisa menjadi cambuk untuk diri saya pribadi supaya bisa terus istiqamah dalam kebenaran, usia tidaklah ada yang tahu, saat ini berkuranglah jatah usia yang dimiliki, mari sama sama kita tingkatkan ibadah dan amaliah kita guna mengharap ridha Allah swt. sesuai dengan tuntunan Rasulullah saw.
Wal-‘Llahu a’lam

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Arsip Blog