Rabu, 21 Mei 2014

al-Imam al-Hafizh Ibnu Katsir & Kitabnya al-Bidayah wan Nihayah


Beliau adalah seorang yang dijuluki sebagai al-Hafizh, al-Hujjah, al-Muarrikh, ats-Tsiqah Imaduddin Abul Fida' Ismail Ibnu Umar Ibnu Katsir al-Qurasyi al-Bashrawi ad-Dimasyq asy-Syafi'i.
Lahir di sebuah desa yang bernama Mijdal daerah bagian Bushra pada tahun 700 H. Ayahnya meninggal ketika beliau berusia tiga tahun dan beliau rerkenal sebagai khatib di kota itu. Adapun Ismail Ibnu Katsir merupakan anak yang paling bungsu. Beliau dinamai Ismail sesuai dengan nama kakaknya yang raling besar yang wafat ketika menimba ilmu di kota Damaskus sebelum beliau lahir.
Pada tahun 707 H, Ibnu Katsir pindah ke Damaskus, dan di sanalah dia mulai menuntut ilmu dari saudara kandungya Abdul Wahhab[1] Ketika itu dia telah hafal al-Qur'an, dan sangat menggandrungi pelajaran hadits, fikih, maupun tarikh.
Beliau juga turut menimba ilmu dari Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah (Wafat tahun 728 H). Begitu besarnya cintanya kepada gurunya ini sehingga dia terus-menerus bermulazamah (mengiringinya), dan begitu terpengaruh dengannya hingga mendapat berbagai macam cobaan dan hal-hal yang menyakitinva demi membela dan mempertahankan gurunya ini[2].
Pergaulan dengan gurunya ini membuahkan berbagai macam faidah yang turut membentuk keilmuannya, akhlaknya dan tarbiyah kemandirian dirinya yang begitu mendalam, karena itulah beliau menjadi seorang yang benar-benar mandiri dalam berpendapat. Beliau akan selalu berjalan sesuai dengan dalil, tidak pernah ta'assub (fanatik) dengan mazhabnya, apalagi mazhab orang lain, dan karya-karya besarnya menjadi saksi atas sikapnya ini[3]. Beliau selalu berjalan di atas Sunnah, konsekuen mengamalkannya, serta selalu memerangi berbagai bentuk bid'ah dan fanatik madzhab.
Di antara guru beliau yang terkemuka selain Ibnu Taimiyah, Alamuddin al-Qashim bin Muhammad al-Barzali (wafat tahun 739 H) dan Abul Hajjaj Yusuf bin az-Zaki al-Mizzi (wafat tahun 748 H).
Para ulama di zamannya maupun yang datang sesudahnya banyak memberikan kata pujian terhadap dirinya, di antaránya al-Imam adz-Dzahabi yang berkata mengenai dirinya, “Beliau adalah al-Imam al-Faqih al-Muhad-dits yang ternama, seorang faqih yang handal, ahli hadits yang tersohor, serta seorang ahli tafsir yang banyak menukil”[4].
Muridnya yang bernama Ibnu Hijji berkata, “Dia adalah orang yang pernah kami temui dan paling kuat hafalannya terhadap matan hadits, paling faham dengan takhrij dan para perawinya, dapat membedakan yang hadits shahih dengan yang lemah, banyak menghafal di luar kepala berbagai kitab tafsir dan tarikh, jarang sekali lupa, dan memiliki pemahaman yang baik serta agama yang benar”[5].
Al-Allamah al-Aini berkata, “Dia adalah rujukan ilmu tarikh, hadits,dan tafsir”[6].
Ibnu Habib berkata, “Dia masyhur dengan kekuatan hafalan dan redaksi yang bagus, dan menjadi rujukan dalam ilmu tarikh, hadits maupun tafsir”[7].
Di antara karya besarnya, Tafsir al-Qur'anuí Azhim, Jami' al-Masanid iya as-Sunan, at Takmu fi Ma'rifatis Tsiqat wa ad-Dhuafa' wa al-Majahil -dalam kitab ini beliau menggabungkan apa yang terdapat dalam kitab Tahdzibul Kamal karya besar al-Mizzi dan Mizanul ‘idal karya adz-Dzahabi dengan sedikit penambahan dalam ilmu jarh wa at-ta'du- dan kitab lainya yaitu al-Bidayah wan Nihayah.
Kitab terakhir ini merupakan ensiklopedi ilmu sejarah. Beliau memulai kitabnya ini dengan menyebutkan kejadian makhluk-makluk besar seperti ‘Arsy, kursi, langit, bumi, apa-apa yang terdapat di dalamnya dan apa-apa yang terdapat di antara langit dan bumi berupa para malaikat, jin maupun setan-setan kemudian beliau berbicara tentang proses penciptaan Adam as, kisah para nabi dan Rasul hingga zaman Isa bin Maryam as, kisah umat-umat yang semasa dengan mereka, sikap para umat terhadap para rasul yang diutus ketengah mereka, dan bagaimana akhir dari perjalanan dan nasib umat-umat tersebut, dengan inilah beliau mengkahiri bagian pertama dari kitabnya.
Adapun bagian kedua, kitab ini memuat berita umat-umat terdahulu dari bani Israel dan umat lainnya, hingga akhir zaman al-fatrah (masa kekosong-an nabi, pent.) kecuali zaman Arab pra-Islam dan masa jahiliyyah (di mulai dari juz 2/102) menurut naskah cetakan Darul Fikri di Beirut tahun 1398 H-1978 M.
Bagian ketiga, kitab ini memuat berita tentang sejarah Arab (dari juz 2/156) dan diakhiri dengan pernikahan antara Abdullah bin Abdul Muth-thalib dengan Aminah binti Wahab, Ibu Rasulullah saw.
Bagian keempat, kitab ini memuat sirah (sejarah) Rasulullah saw. (dimulai dari juz 2/252). Penulis mulai menerangkan tema sirah Nabi dengan pemba-hasan yang panjang, beliau membaginya menjadi beberapa bagian,
  • Pertama, mulai masa kelahiran Rasul hingga beliau diutus sebagai Rasul.
  • Kedua, mulai masa beliau diutus sebagai Rasul hingga hijrah.
  • Ketiga, Peperangan-peperangan, pasukan-pasukan kecil yang dikirim (detasemen/ saariyah), pengiriman para utusan, haji wada’, sakit beliau hingga wafatnya. Ibnu Katsir mengulasnya sesuai dengan kronologis waktu. Dimulai dari tahun pertama hijrah, kemudian beliau menulis biografi Nabi, istri-istri beliau, surat-surat yang beliau kirim, para penjaganya, kuda-kudanya, pakaian-pakaiannya dan seterusnya, kemudian menutup pembicaraan tentang sirah nabi dengan tema-tema yang berkaitan dengan sirah di antara-nya, kitab Syama'il (6/11), kemudian kitab Dala’il an-Nubuwah (tanda-tanda kenabian) (6/65) kemudian beliau berbicara mengenai fadha’il (keutamaan nabi) dan kekhususan beliau (6/257).
Bagian kelima, kitab ini memuat sejarah Islam pertama, catatan kejadian-kejadian penting pada masa itu, serta catatan wafatnya tokoh-tokoh penting.
Beliau menyusun kejadian-kejadian itu sesuai dengan urutan tahun. Dimulai dari tahun ke 11 hijriyah (juz 6/301), metode beliau dalam bagian kelima ini, yaitu menyebutkan kejadian-kejadian penting setiap tahun, Kemudian barulah beliau menyebutkan wafatnya tokoh-tokoh penting pada tahun itu. Beliau banyak menyebutkan biografi dari tokoh-tokoh tersebut, walaupun terkadang beliau hanya menyebutkan tahun wafat mereka saja, dan begitulah seterusnya metode pengarang hingga akhir buku ini. Kitab tarikh yang beliau tulis ini berhenti hingga tahun 768 H, yaitu tujuh tahun sebelum beliau wafat.
Bagian keenam, kitab ini memuat tentang fitnah dan bencana yang akan terjadi di akhir zaman, tanda-tanda hari kiamat, kemudian mengenai hari berbangkit, berkumpulnya manusia di padang mahsyar, karakter neraka maupun surga. namun sayang bagian ini tidak dicetak bersamaan dalam kitab ini, tetapi dicetak secara terpisah dengan judul, an-Nihayah fi al-fitan zua al-Malahim walaupun sebenarnya beliau telah menyebutkan bagian ini dalam mukaddimah[8], dan beliau kembali menyebutkan perihal ini diakhir pembahasan tentang sirah nabi[9] dan itulah yang beliau maksud dari kata wan Nihayah dalam judul kitab.
Wal-'Llahu a'lam.




[1] Bidayah wan Nihayah, 31/ 142.
[2] Az-Zahab, 6/232
[3] Ahmad Syakir, MuqoddimahUmdah At-Tafsir, 1/28
[4] Al-Mu'jam al-Mukhtas, Him. 74
[5] An-Nuaimi, ad-Darís fi Akhbar al-Madarís 1/ 36-37.
[6] An-Nujum adz-Dzahirah 11/123
[7] Syazarat asz-Dzahab 6/231.
[8] Al-Bidayah wan Nihayah, 1/6.
[9] Ibid, 6/300.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Arsip Blog