Beliau adalah seorang yang dijuluki
sebagai al-Hafizh, al-Hujjah, al-Muarrikh, ats-Tsiqah Imaduddin Abul
Fida' Ismail Ibnu Umar Ibnu Katsir al-Qurasyi al-Bashrawi ad-Dimasyq
asy-Syafi'i.
Lahir di sebuah desa yang bernama
Mijdal daerah bagian Bushra pada tahun 700 H. Ayahnya meninggal ketika beliau
berusia tiga tahun dan beliau rerkenal sebagai khatib di kota itu. Adapun
Ismail Ibnu Katsir merupakan anak yang paling bungsu. Beliau dinamai Ismail
sesuai dengan nama kakaknya yang raling besar yang wafat ketika menimba ilmu di
kota Damaskus sebelum beliau lahir.
Pada tahun 707 H, Ibnu Katsir pindah
ke Damaskus, dan di sanalah dia mulai menuntut ilmu dari saudara kandungya
Abdul Wahhab[1]
Ketika itu dia telah hafal al-Qur'an, dan sangat menggandrungi pelajaran
hadits, fikih, maupun tarikh.
Beliau juga turut menimba ilmu dari
Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah (Wafat tahun 728 H). Begitu besarnya cintanya
kepada gurunya ini sehingga dia terus-menerus bermulazamah (mengiringinya),
dan begitu terpengaruh dengannya hingga mendapat berbagai macam cobaan dan
hal-hal yang menyakitinva demi membela dan mempertahankan gurunya ini[2].
Pergaulan dengan gurunya ini membuahkan
berbagai macam faidah yang turut membentuk keilmuannya, akhlaknya dan tarbiyah
kemandirian dirinya yang begitu mendalam, karena itulah beliau menjadi seorang
yang benar-benar mandiri dalam berpendapat. Beliau akan selalu berjalan sesuai
dengan dalil, tidak pernah ta'assub (fanatik) dengan mazhabnya, apalagi
mazhab orang lain, dan karya-karya besarnya menjadi saksi atas sikapnya ini[3]. Beliau selalu berjalan di
atas Sunnah, konsekuen mengamalkannya, serta selalu memerangi berbagai bentuk
bid'ah dan fanatik madzhab.
Di antara guru beliau yang terkemuka
selain Ibnu Taimiyah, Alamuddin al-Qashim bin Muhammad al-Barzali (wafat tahun
739 H) dan Abul Hajjaj Yusuf bin az-Zaki al-Mizzi (wafat tahun 748 H).
Para ulama di zamannya maupun yang
datang sesudahnya banyak memberikan kata pujian terhadap dirinya, di antaránya
al-Imam adz-Dzahabi yang berkata mengenai dirinya, “Beliau adalah al-Imam
al-Faqih al-Muhad-dits yang ternama, seorang faqih yang handal, ahli hadits yang
tersohor, serta seorang ahli tafsir yang banyak menukil”[4].
Muridnya yang bernama Ibnu Hijji
berkata, “Dia adalah orang yang pernah kami temui dan paling kuat hafalannya
terhadap matan hadits, paling faham dengan takhrij dan para perawinya,
dapat membedakan yang hadits shahih dengan yang lemah, banyak menghafal di luar
kepala berbagai kitab tafsir dan tarikh, jarang sekali lupa, dan memiliki
pemahaman yang baik serta agama yang benar”[5].
Al-Allamah al-Aini berkata, “Dia
adalah rujukan ilmu tarikh, hadits,dan tafsir”[6].
Ibnu Habib berkata, “Dia masyhur
dengan kekuatan hafalan dan redaksi yang bagus, dan menjadi rujukan dalam ilmu
tarikh, hadits maupun tafsir”[7].
Di antara karya besarnya, Tafsir
al-Qur'anuí Azhim, Jami' al-Masanid iya as-Sunan, at Takmu fi Ma'rifatis Tsiqat
wa ad-Dhuafa' wa al-Majahil -dalam kitab ini beliau menggabungkan
apa yang terdapat dalam kitab Tahdzibul Kamal karya besar
al-Mizzi dan Mizanul ‘idal karya adz-Dzahabi dengan sedikit penambahan
dalam ilmu jarh wa at-ta'du- dan kitab lainya yaitu al-Bidayah
wan Nihayah.
Kitab terakhir ini merupakan
ensiklopedi ilmu sejarah. Beliau memulai kitabnya ini dengan menyebutkan
kejadian makhluk-makluk besar seperti ‘Arsy, kursi, langit, bumi, apa-apa yang
terdapat di dalamnya dan apa-apa yang terdapat di antara langit dan bumi berupa
para malaikat, jin maupun setan-setan kemudian beliau berbicara tentang proses
penciptaan Adam as, kisah para nabi dan Rasul hingga zaman Isa bin Maryam as,
kisah umat-umat yang semasa dengan mereka, sikap para umat terhadap para rasul
yang diutus ketengah mereka, dan bagaimana akhir dari perjalanan dan nasib
umat-umat tersebut, dengan inilah beliau mengkahiri bagian pertama dari
kitabnya.
Adapun bagian
kedua, kitab ini memuat berita umat-umat
terdahulu dari bani Israel dan umat lainnya, hingga akhir zaman al-fatrah (masa
kekosong-an nabi, pent.) kecuali zaman Arab pra-Islam dan masa jahiliyyah (di
mulai dari juz 2/102) menurut naskah cetakan Darul Fikri di Beirut tahun 1398
H-1978 M.
Bagian ketiga, kitab ini memuat berita tentang sejarah Arab (dari juz 2/156) dan
diakhiri dengan pernikahan antara Abdullah bin Abdul Muth-thalib dengan Aminah
binti Wahab, Ibu Rasulullah saw.
Bagian keempat,
kitab ini memuat sirah (sejarah) Rasulullah saw. (dimulai
dari juz 2/252). Penulis mulai menerangkan tema sirah Nabi dengan pemba-hasan
yang panjang, beliau membaginya menjadi beberapa bagian,
- Pertama, mulai masa kelahiran Rasul hingga beliau diutus sebagai Rasul.
- Kedua, mulai masa beliau diutus sebagai Rasul hingga hijrah.
- Ketiga, Peperangan-peperangan, pasukan-pasukan kecil yang dikirim (detasemen/ saariyah), pengiriman para utusan, haji wada’, sakit beliau hingga wafatnya. Ibnu Katsir mengulasnya sesuai dengan kronologis waktu. Dimulai dari tahun pertama hijrah, kemudian beliau menulis biografi Nabi, istri-istri beliau, surat-surat yang beliau kirim, para penjaganya, kuda-kudanya, pakaian-pakaiannya dan seterusnya, kemudian menutup pembicaraan tentang sirah nabi dengan tema-tema yang berkaitan dengan sirah di antara-nya, kitab Syama'il (6/11), kemudian kitab Dala’il an-Nubuwah (tanda-tanda kenabian) (6/65) kemudian beliau berbicara mengenai fadha’il (keutamaan nabi) dan kekhususan beliau (6/257).
Bagian kelima, kitab ini memuat sejarah Islam pertama, catatan kejadian-kejadian
penting pada masa itu, serta catatan wafatnya tokoh-tokoh penting.
Beliau menyusun kejadian-kejadian
itu sesuai dengan urutan tahun. Dimulai dari tahun ke 11 hijriyah (juz 6/301),
metode beliau dalam bagian kelima ini, yaitu menyebutkan kejadian-kejadian
penting setiap tahun, Kemudian barulah beliau menyebutkan wafatnya tokoh-tokoh
penting pada tahun itu. Beliau banyak menyebutkan biografi dari tokoh-tokoh
tersebut, walaupun terkadang beliau hanya menyebutkan tahun wafat mereka saja,
dan begitulah seterusnya metode pengarang hingga akhir buku ini. Kitab tarikh
yang beliau tulis ini berhenti hingga tahun 768 H, yaitu tujuh tahun sebelum
beliau wafat.
Bagian keenam, kitab ini memuat tentang fitnah dan bencana yang akan terjadi di
akhir zaman, tanda-tanda hari kiamat, kemudian mengenai hari berbangkit,
berkumpulnya manusia di padang mahsyar, karakter neraka maupun surga. namun
sayang bagian ini tidak dicetak bersamaan dalam kitab ini, tetapi dicetak
secara terpisah dengan judul, an-Nihayah fi al-fitan zua al-Malahim
walaupun sebenarnya beliau telah menyebutkan bagian ini dalam mukaddimah[8], dan beliau kembali
menyebutkan perihal ini diakhir pembahasan tentang sirah nabi[9] dan itulah yang beliau
maksud dari kata wan Nihayah dalam judul kitab.
Wal-'Llahu a'lam.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar