Senin, 07 Juli 2014

Aku dan Waktu yang Semakin Menipis,


25 tahun lalu seorang anak dilahirkan dari Rahim seorang ibu yang amat ku cintai, pasangangan terindah yang pernah ku tahu, Allahyarham Toharuddin dan Ifah Syarifah adalah kedua orang tua yang selalu menjaga dan membimbing dari awal kelahiran hingga tumbuh berkembang, adalah Ade Rully Nasrulloh nama yang diberikan padaku, banyak harapan mereka pada anak kecil ini hingga pepatah yang selalu diungkapkan keduanya adalah terkait tentang “waktu”, tiada lagi selain waktu shalat, waktu untuk bermunajat pada sang pencipta,  curahan hati mereka tergambar selalu dari hasil didikannya, didikan yang membuat ku tersadar dari kekhilafan, kealfaan dan kelalaian menjalani kehidupan, mereka selalu mengingatkan disaat yang tepat saat ku membutuhkan peringatan, Alhamdulillah..mereka selalu ada walau jarak cukup membatasi kita.
8 tahun ku habiskan usia pendidikan di tanah kelahiran, Ciamis, jalanan panjang nan becek selalu menjadi saksi bisu akan langkah kaki menuju sekolahan, tak lupa juga hujan gerimis dan iris-iris air embun turut menamni hari-hari ku waktu menimba ilmu di Darussalam, 6 tahun juga ku habiskan usia pendidikan di tanah ke 2, tanah setelah kelahiranku, Garut, ada hegemoni baru, ada untuk mengenal masyarakat yang heterogen dan ada pandangan baru akan jiwa yang semakin malu pada kealfaan hidup selama ini, pesantren persis ikut memberi gambaran gamblang akan indahnya Islam, akan banyaknya pemahaman furuiyah itihadiyah, dari sanalah diri ini lebih intens mempelajari berbagai disiplin ilmu agama, Alhamdulillah..aku dipertemukan dengan guru-guru yang shaleh dan shalehah, guru yang memberi panutan dalam hal ihwal sikap dalam keseharian, guru yang memberi ruang luas untuk bertanya, konsultasi, diskusi dan bahkan juga berdebat kala itu.
Lewat Faraidh ku temukan hikmahnya pembagian waris antara laki-laki dan perempuan, lewat Faraidh juga ku bisa mengamalkan saat orang tuaku tiada, juga Mushtala al Hadits memberi warna baru cara pengecekan rawi, sanad dan matan sesuai syaratnya, menambah keyakinan untuk beramal sesuai dengan tatacara Rasulullah saw. Kitab Tafsir memberi pandangan luas akan kayanya Ulum al Qur`an, akan kemaha kuasaannya Sang Khaliq lewat bait-bait firmanNya, juga Balaghah memberi kesan nikmat dalam aplikasi kehidupan sehari-hari saat bertutur kata yang baik dan benar, Ushul Fiqh, Shahih Bukhari, Shahih Muslim juga sederat kitab-kitab hadits karya para ulama ikut mewarnai kahidupanku, Alhamdulillah ‘alakulli hal..merasa bertuntungnya ku rasakan alih tempat menimba ilmu agama.
Tanah ke 3 adalah Bandung, corak dan warna baru yang lebih heterogen telah kutemukan disini. Y.. Bandung menjadi tempat ke3 yang ku tempati selama lebih kurang 4 tahun usia pendidikan ku habiskan. Diskusi di tiap harinya lebih intens lagi, tak jarang debat dan adu argumen pun ikut menemani hari-hariku kala itu. Aku merindu kalian, kalian semuanya Ikhwan Abadan09.
Di tanah ke 4 yang pernah ku tempati, adalah Kendari, Sulawesi Tenggara, lebih kurang 2 tahun ku nikmati aroma-aroma ilmu sosial waktu itu, tetap saja tujuan hanyalah pembelajaran dari apa yang telah ku dapatkan selama ini. Islamic Center Mu’adz Ibn Jabal selalu menjadi tempat kajian menarik yang ku datangai tiap 2 hari, guru-guru muda alumni Madinah yang luas akan khazanah keilmuan Islam memberi kesejukan akan Syari’at yang sedang kudekap ini, adalah Umdah al Ahkam kitab pertama yang ku pelajari waktu itu bersama para guru lainnya yang ikut menimba ilmu agama. Sungguh Kendari punya rasa baru yang membuat ku tak bisa melupakanmu.
Di tanah ke 4 pula cukup banyak kuhabiskan meteri untuk menebus rezeki, hanya saja belum waktunya untuk ku lebih lama menikmati hasil jeripayah. Maafkan karena materi itu belum bisa ku kembalikan sampai saat ini, insyaAllah akan dikembalikan bila saat itu sudah kudapati kembali. Di tanah ke 4 ini pula ku dikenalkan dengan dokter muda, yang waktu itu sedang sibuk-sibuknya mengabdi di klinik  yang sampai-sampai hampir lupa dengan studinya, y.. ingatkah waktu itu? Potoku dijadikan sosok seram jika tak lekas selesaikan setudimu, Alhamdulillah, ilmu yang didapati sesuai dengan kemampuanmu, Ading. Walaupun belakangan ini ada yang inginkan gelarmu berpindah secara picik, tak apa yang dibutuhkan bukan hanya sekedar gelar tapi keluasan pemahaman akan ilmu yang telah didapat selama studimu, doa ini selalu menemanimu Shona.
Beranjak dari hari-hari itu, waktunya kembali ke tanah sunda dengan alakadarnya, rutinitas kembali dilakukan seadanya dan sefokus-fokusnya. Adalah pemuda persis yang mewadahiku, sebagai tempat bertukar pikiran tertang berbagai permasalah lewat kajian dialogisnya. Aku menikmatinya, sungguh! Sampai tulisan ini ada, tetap berusaha sebisa yang bisa ku usahakan untuk selalu mengingat perkataan Imam Bukhari, al Ilmu Qabla al Qaul wa al Amal, terimakasih Darussalam, Pemuda Persis Kersamanah atas sedianya mendengarkan keluh kesahku selama ini, Pemuda Persis Garut atas kepercayaanya menempatkanku bersama para cendekiawan muda; mohon maaf belum maksimal, Pesantren Persis 225 atas kajiannya, Pesantren Persis 81 atas tempat ujiannya, Pesantren Persis 19 Bentar atas Ijazah Tafiq Ulanya, Kampus STAIPI Garut yang selalu menyediakan buku-buku segar untuk disantap, UIN SGD Bandung yang telah sudi menjadi tempatku menikmati masa kuliah, Masjid al Mizan dan DTA Miftah al Ulum Babakan atas kepercayaannya selama ini, tak bisa banyak ku balas segala kebaikan kalian hanya Allah bisa membalasnya, Jazakumullah khair katsir..

nasrullah ar


Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Arsip Blog