25 tahun lalu seorang anak
dilahirkan dari Rahim seorang ibu yang amat ku cintai, pasangangan terindah
yang pernah ku tahu, Allahyarham Toharuddin dan Ifah Syarifah adalah kedua
orang tua yang selalu menjaga dan membimbing dari awal kelahiran hingga tumbuh
berkembang, adalah Ade Rully Nasrulloh nama yang diberikan padaku, banyak
harapan mereka pada anak kecil ini hingga pepatah yang selalu diungkapkan
keduanya adalah terkait tentang “waktu”, tiada lagi selain waktu shalat, waktu
untuk bermunajat pada sang pencipta,
curahan hati mereka tergambar selalu dari hasil didikannya, didikan yang
membuat ku tersadar dari kekhilafan, kealfaan dan kelalaian menjalani
kehidupan, mereka selalu mengingatkan disaat yang tepat saat ku membutuhkan
peringatan, Alhamdulillah..mereka selalu ada walau jarak cukup membatasi kita.
8 tahun ku habiskan usia
pendidikan di tanah kelahiran, Ciamis, jalanan panjang nan becek selalu menjadi
saksi bisu akan langkah kaki menuju sekolahan, tak lupa juga hujan gerimis dan
iris-iris air embun turut menamni hari-hari ku waktu menimba ilmu di
Darussalam, 6 tahun juga ku habiskan usia pendidikan di tanah ke 2, tanah
setelah kelahiranku, Garut, ada hegemoni baru, ada untuk mengenal masyarakat
yang heterogen dan ada pandangan baru akan jiwa yang semakin malu pada kealfaan
hidup selama ini, pesantren persis ikut memberi gambaran gamblang akan indahnya
Islam, akan banyaknya pemahaman furuiyah itihadiyah, dari sanalah diri
ini lebih intens mempelajari berbagai disiplin ilmu agama,
Alhamdulillah..aku dipertemukan dengan guru-guru yang shaleh dan shalehah,
guru yang memberi panutan dalam hal ihwal sikap dalam keseharian, guru yang
memberi ruang luas untuk bertanya, konsultasi, diskusi dan bahkan juga berdebat
kala itu.
Lewat Faraidh ku temukan
hikmahnya pembagian waris antara laki-laki dan perempuan, lewat Faraidh juga
ku bisa mengamalkan saat orang tuaku tiada, juga Mushtala al Hadits
memberi warna baru cara pengecekan rawi, sanad dan matan
sesuai syaratnya, menambah keyakinan untuk beramal sesuai dengan tatacara
Rasulullah saw. Kitab Tafsir memberi pandangan luas akan kayanya Ulum
al Qur`an, akan kemaha kuasaannya Sang Khaliq lewat bait-bait firmanNya, juga
Balaghah memberi kesan nikmat dalam aplikasi kehidupan sehari-hari saat
bertutur kata yang baik dan benar, Ushul Fiqh, Shahih Bukhari, Shahih
Muslim juga sederat kitab-kitab hadits karya para ulama ikut mewarnai
kahidupanku, Alhamdulillah ‘alakulli hal..merasa bertuntungnya ku rasakan alih
tempat menimba ilmu agama.
Tanah ke 3 adalah Bandung, corak
dan warna baru yang lebih heterogen telah kutemukan disini. Y.. Bandung menjadi
tempat ke3 yang ku tempati selama lebih kurang 4 tahun usia pendidikan ku
habiskan. Diskusi di tiap harinya lebih intens lagi, tak jarang debat dan
adu argumen pun ikut menemani hari-hariku kala itu. Aku merindu kalian, kalian
semuanya Ikhwan Abadan09.
Di tanah ke 4 yang pernah ku
tempati, adalah Kendari, Sulawesi Tenggara, lebih kurang 2 tahun ku nikmati
aroma-aroma ilmu sosial waktu itu, tetap saja tujuan hanyalah pembelajaran dari
apa yang telah ku dapatkan selama ini. Islamic Center Mu’adz Ibn Jabal
selalu menjadi tempat kajian menarik yang ku datangai tiap 2 hari, guru-guru
muda alumni Madinah yang luas akan khazanah keilmuan Islam memberi kesejukan
akan Syari’at yang sedang kudekap ini, adalah Umdah al Ahkam
kitab pertama yang ku pelajari waktu itu bersama para guru lainnya yang ikut
menimba ilmu agama. Sungguh Kendari punya rasa baru yang membuat ku tak bisa
melupakanmu.
Di tanah ke 4 pula cukup banyak
kuhabiskan meteri untuk menebus rezeki, hanya saja belum waktunya untuk ku
lebih lama menikmati hasil jeripayah. Maafkan karena materi itu belum bisa ku
kembalikan sampai saat ini, insyaAllah akan dikembalikan bila saat itu sudah
kudapati kembali. Di tanah ke 4 ini pula ku dikenalkan dengan dokter muda, yang
waktu itu sedang sibuk-sibuknya mengabdi di klinik yang sampai-sampai hampir lupa dengan
studinya, y.. ingatkah waktu itu? Potoku dijadikan sosok seram jika tak lekas
selesaikan setudimu, Alhamdulillah, ilmu yang didapati sesuai dengan
kemampuanmu, Ading. Walaupun belakangan ini ada yang inginkan gelarmu berpindah
secara picik, tak apa yang dibutuhkan bukan hanya sekedar gelar tapi keluasan
pemahaman akan ilmu yang telah didapat selama studimu, doa ini selalu
menemanimu Shona.
Beranjak dari hari-hari itu,
waktunya kembali ke tanah sunda dengan alakadarnya, rutinitas kembali dilakukan
seadanya dan sefokus-fokusnya. Adalah pemuda persis yang mewadahiku, sebagai
tempat bertukar pikiran tertang berbagai permasalah lewat kajian dialogisnya.
Aku menikmatinya, sungguh! Sampai tulisan ini ada, tetap berusaha sebisa yang
bisa ku usahakan untuk selalu mengingat perkataan Imam Bukhari, al Ilmu
Qabla al Qaul wa al Amal, terimakasih Darussalam, Pemuda Persis Kersamanah
atas sedianya mendengarkan keluh kesahku selama ini, Pemuda Persis Garut atas
kepercayaanya menempatkanku bersama para cendekiawan muda; mohon maaf belum
maksimal, Pesantren Persis 225 atas kajiannya, Pesantren Persis 81 atas tempat
ujiannya, Pesantren Persis 19 Bentar
atas Ijazah Tafiq Ulanya, Kampus STAIPI Garut yang selalu menyediakan
buku-buku segar untuk disantap, UIN SGD Bandung yang telah sudi menjadi
tempatku menikmati masa kuliah, Masjid al Mizan dan DTA Miftah al Ulum
Babakan atas kepercayaannya selama ini, tak bisa banyak ku balas segala
kebaikan kalian hanya Allah bisa membalasnya, Jazakumullah khair katsir..
nasrullah ar

Tidak ada komentar:
Posting Komentar