Minggu, 19 Oktober 2014

Kanker Epistemologis

Man sieht nur was wei β, Theodor Fontane
Dalam dunia kedokteran, kanker dikenal sebagai penyakit ganas yang mematikan. Jika dibiarkan atau lambat ditangani, sel kanker bisa tumbuh tak terkendali, menyebar dan merusak jaringan-jaringan anggota tubuh, mengakibatkan berbagai komplikasi, disfungsi, gangguan dan kegagalan. Cukup mengerikan. Namun ada yang lebih dahsyat dari itu, yang disebut “Kanker Epistemologis”. Kanker jenis ini memang tidak berbentuk tumor dan karenanya tidak dapat ditangkap dengan sinar-X. Akan tetapi bahayanya tidak kalah mengerikan. Jika tidak lekas ditangani, kanker epistemologis bisa melumpuhkan kemampuan menilai (critical power) serta mengakibatkan kegagalan akal (intellectual failure). Pada gilirannya penyakit ini akan menggerogoti keyakinan dan keimanan dan akhirnya menyebabkan kekufuran
pengidap kanker epistemologis biasanya memperlihatkan gejala-gejala: pertama, bersikap skeptis terhadap segala hal, dari soal yang sepele hingga ke masalah-masalah prinsipil dalam agama. Ia senantiasa meragukan kebenaran dan membenarkan keraguan. Baginya, semua pendapat tentang semua perkara (termasuk yang qaht’i dan bayyin dalam agama) harus selalu terbuka untuk diperdebatkan. Pada tahap yang paling ekstrem, mereka yang terjangkit skeptimisme akut akan meragukan tidak hanya kebenaran posisinya sendiri dengan berkata “I don’t know” (nescio), bahkan juga mengklaim bahwa kebenaran hanya bisa dicari atau didekati, tetapi mustahil ditemukan (nesciam). Dalam literatur filsafat Yunani kuno, sikap mental semacam ini dinamakan arrepsia (bimbang, sangsi) dan aoristia (bingung, tidak bisa memutuskan).
Gejala yang kedua ialah berpaham relativistik. Pengidap relativisme epistemologis menganggap semua orang dan golongan sama-sama benar, semua pendapat (agama, aliran, sekte, kelompok dan lainnya) sama benarnya, tergantung dari sudut pandang masing-masing. Menurut paham ini, kebenaran berada dan tersebar di mana-mana, namun semuanya bersifat relatif. Anda, saya, maupun dia, masing-masing sama-sama benar, tidak boleh menyalahkan satu sama lain, dan tidak berhak mengklaim diri sebagai yang atau paling benar. Jika seorang skeptis menolak semua klaim kebenaran, maka seorang relativis menerima dan menganggap semuanya benar (panaletheisme). Dalam hal ini, relativisme epistemologis adalah identik—kalau bukan sinonim—dengan pluralism. Jika diteliti dengan seksama, paham seperti ini sebenarnya bangkrut. Dari mana ia dapat menyimpulkan bahwa semua pendapat adalah benar? Padahal, konsep “benar” itu ada justru karena adanya konsep “salah”
Gejala lainnya yang ditunjukkan oleh pengidap kanker epistemologis adalah kekacauan ilmu (cognitive confusion). Ia tdak mampu lagi membedakan antara yang benar dan salah, mana yang haq dan mana yang bathil. Ia bahkan cenderung menyamakan dan mencampuradukkan keduanya. Garis demarkasi yang memisahkan kebenaran dan kepalsuan tidak mampu dilihatnya. Yang paling parah jika hal ini menyebabkan si pesakit lantas menganggap kebenaran sebagai kebatilan dan sebaliknya, meyakini kebatilan sebagai kebenaran. Seperti mereka yang termakan tipu muslihat Dajjal, melihat air sebagai api dan api disangka air (lihat hadits no. 3450 & 7130 dalam Shahih Imam al Bukhari)
Meskipun sangat berbahaya dan dapat berakibat fatal, kanker epistemologis sebenarnya bukan mustahil untuk ditanggulangi. Terapi yang paling efektif adalah dengan menyuntikkan ilmu yang bermanfaat ke dalam diri kita. Ilmu yang mendekatkan diri kita kepada Tuhan. Ilmu yang menuntun kita kepada kebenaran. Ilmu yang dengannya kita dapat melihat yang benar itu benar dan yang palsu itu palsu. Ilmu yang memberikan kita kriteria dan neraca untuk mengukur dan menimbang, menilai dan memutuskan, memisah dan membedakan antara kebenaran dan kepalsuan. Ilmu tersebut adalah ilmu para Nabi, yang perlahan-lahan mulai berkurang dan kelak sama-sekali hilang saat Kiamat menjelang.
Di era globalisasi seperti sekarang ini, ide dan pemikiran telah menjadi komiditi yang bebas dipasarkan dan dijual di mana-mana. Terserah dan terpulang kepada konsumen mau membeli peroduk pemikiran jenis apa, karena alasan dan untuk tujuan apa. Namun justru di sinilah diperlukan kecerdasan dan ketelitian dalam memilah dan memilih sebelum mengonsumsi suatu gagasan atau pemikiran. Jangan asal beli. Berhati-hatilah terhadap pelbagai modus penipuan dan penyesatan.
Ada ungkapan bijak yang mengatakan bahwa manusia itu ada 4 macam
Pertama, mereka yang tahu bahawa dirinya tahu. Yang ini patut dipercaya dan diikuti sebagaimana disinyalir dalam al Qur`an surat al An’am: 90

اولئك الّذين هدى الله فبهد هم اقتده
Kedua, mereka yang tidak tahu bahwa dirinya tidak tahu. Yang seperti ini harus diingatkan dan disadarkan dulu sebelum diikuti
Ketiga, mereka yang tahu bahwa dirinya tidak tahu. Yang semacam ini perlu dibimbing dan ditunjukan
Keempat, mereka yang tidak tahu bahwa dirinya tidak tahu. Yang model begini tidak perlu dilayani, karena cenderung ngeyel, merasa tahu tetapi tidak tahu merasa. Sebagaimana al Qur`an menjelas dalam surat al Qashash: 55, kepada golongan ini kita sarankan cukup berkata:
سلام عليكم لانبتغى الجاهلين
Dr.Syamsuddin Arif, Orientalis dan Diabolisme Pemikiran, Jakarta: Gema Insani. 2008. hlm. 140-142
Perempuan paling cantik adalah yang bisa menjaga kemuliaannya karena menghargai uban di kepala ayahnya yang telah bersusah payah mendidiknya

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Arsip Blog