Man sieht nur was wei β, Theodor
Fontane
Dalam dunia kedokteran, kanker dikenal sebagai
penyakit ganas yang mematikan. Jika dibiarkan atau lambat ditangani, sel kanker
bisa tumbuh tak terkendali, menyebar dan merusak
jaringan-jaringan anggota tubuh, mengakibatkan berbagai komplikasi, disfungsi,
gangguan dan kegagalan. Cukup mengerikan. Namun ada yang lebih dahsyat dari
itu, yang disebut “Kanker Epistemologis”. Kanker jenis ini memang tidak
berbentuk tumor dan karenanya tidak dapat ditangkap dengan sinar-X. Akan tetapi
bahayanya tidak kalah mengerikan. Jika tidak lekas ditangani, kanker
epistemologis bisa melumpuhkan kemampuan menilai (critical power) serta
mengakibatkan kegagalan akal (intellectual failure). Pada gilirannya
penyakit ini akan menggerogoti keyakinan dan keimanan dan akhirnya menyebabkan
kekufuran
pengidap kanker epistemologis biasanya
memperlihatkan gejala-gejala: pertama, bersikap skeptis terhadap segala hal,
dari soal yang sepele hingga ke masalah-masalah
prinsipil dalam agama. Ia senantiasa meragukan kebenaran dan membenarkan keraguan.
Baginya, semua pendapat tentang semua perkara (termasuk yang qaht’i dan bayyin
dalam agama) harus selalu terbuka untuk diperdebatkan. Pada tahap yang paling
ekstrem, mereka yang terjangkit skeptimisme akut akan meragukan tidak hanya
kebenaran posisinya sendiri dengan berkata “I don’t know” (nescio), bahkan juga
mengklaim bahwa kebenaran hanya bisa dicari atau didekati, tetapi mustahil
ditemukan (nesciam). Dalam literatur filsafat Yunani kuno, sikap mental semacam
ini dinamakan arrepsia (bimbang, sangsi) dan aoristia (bingung, tidak bisa
memutuskan).
Gejala yang kedua ialah berpaham relativistik.
Pengidap relativisme epistemologis menganggap semua orang dan golongan
sama-sama benar, semua pendapat (agama, aliran,
sekte, kelompok dan lainnya) sama benarnya, tergantung dari sudut pandang
masing-masing. Menurut paham ini, kebenaran berada dan tersebar di mana-mana,
namun semuanya bersifat relatif. Anda, saya, maupun dia, masing-masing
sama-sama benar, tidak boleh menyalahkan satu sama lain, dan tidak berhak mengklaim
diri sebagai yang atau paling benar. Jika seorang skeptis menolak semua klaim
kebenaran, maka seorang relativis menerima dan menganggap semuanya benar
(panaletheisme). Dalam hal ini, relativisme epistemologis adalah identik—kalau
bukan sinonim—dengan pluralism. Jika diteliti dengan seksama, paham seperti ini
sebenarnya bangkrut. Dari mana ia dapat menyimpulkan bahwa semua pendapat
adalah benar? Padahal, konsep “benar” itu ada justru karena adanya konsep
“salah”
Gejala lainnya yang ditunjukkan oleh pengidap
kanker epistemologis adalah kekacauan ilmu (cognitive confusion). Ia tdak mampu
lagi membedakan antara yang benar dan salah, mana
yang haq dan mana yang bathil. Ia bahkan cenderung menyamakan dan
mencampuradukkan keduanya. Garis demarkasi yang memisahkan kebenaran dan
kepalsuan tidak mampu dilihatnya. Yang paling parah jika hal ini menyebabkan si
pesakit lantas menganggap kebenaran sebagai kebatilan dan sebaliknya, meyakini
kebatilan sebagai kebenaran. Seperti mereka yang termakan tipu muslihat Dajjal,
melihat air sebagai api dan api disangka air (lihat hadits no. 3450 & 7130
dalam Shahih Imam al Bukhari)
Meskipun sangat berbahaya dan dapat berakibat
fatal, kanker epistemologis sebenarnya bukan mustahil untuk ditanggulangi.
Terapi yang paling efektif adalah dengan
menyuntikkan ilmu yang bermanfaat ke dalam diri kita. Ilmu yang mendekatkan
diri kita kepada Tuhan. Ilmu yang menuntun kita kepada kebenaran. Ilmu yang
dengannya kita dapat melihat yang benar itu benar dan yang palsu itu palsu.
Ilmu yang memberikan kita kriteria dan neraca untuk mengukur dan menimbang,
menilai dan memutuskan, memisah dan membedakan antara kebenaran dan kepalsuan.
Ilmu tersebut adalah ilmu para Nabi, yang perlahan-lahan mulai berkurang dan
kelak sama-sekali hilang saat Kiamat menjelang.
Di era globalisasi seperti sekarang ini, ide dan
pemikiran telah menjadi komiditi yang bebas dipasarkan dan dijual di mana-mana.
Terserah dan terpulang kepada konsumen mau membeli
peroduk pemikiran jenis apa, karena alasan dan untuk tujuan apa. Namun justru
di sinilah diperlukan kecerdasan dan ketelitian dalam memilah dan memilih
sebelum mengonsumsi suatu gagasan atau pemikiran. Jangan asal beli.
Berhati-hatilah terhadap pelbagai modus penipuan dan penyesatan.
Ada ungkapan bijak yang mengatakan bahwa manusia
itu ada 4 macam
Pertama, mereka yang tahu bahawa dirinya tahu. Yang ini patut dipercaya dan diikuti sebagaimana disinyalir dalam al Qur`an surat al An’am: 90
Pertama, mereka yang tahu bahawa dirinya tahu. Yang ini patut dipercaya dan diikuti sebagaimana disinyalir dalam al Qur`an surat al An’am: 90
اولئك الّذين هدى الله فبهد هم اقتده
Kedua, mereka yang tidak tahu bahwa dirinya tidak
tahu. Yang seperti ini harus diingatkan dan disadarkan dulu sebelum diikuti
Ketiga, mereka yang tahu bahwa dirinya tidak
tahu. Yang semacam ini perlu dibimbing dan ditunjukan
Keempat, mereka yang
tidak tahu bahwa dirinya tidak tahu. Yang model begini tidak perlu dilayani,
karena cenderung ngeyel, merasa tahu tetapi tidak tahu merasa. Sebagaimana al
Qur`an menjelas dalam surat al Qashash: 55, kepada golongan ini kita sarankan cukup
berkata:
سلام عليكم لانبتغى الجاهلين
Dr.Syamsuddin Arif, Orientalis dan Diabolisme
Pemikiran, Jakarta: Gema Insani. 2008. hlm. 140-142
Perempuan paling cantik adalah
yang bisa menjaga kemuliaannya karena menghargai uban di kepala ayahnya yang
telah bersusah payah mendidiknya

Tidak ada komentar:
Posting Komentar